Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Kapal Perang Nazi Muncul dari Sungai yang Mengering, Warga Justru Piknik di Bangkai Bersejarah

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Kapal Perang Nazi Muncul dari Sungai yang Mengering, Warga Justru Piknik di Bangkai Bersejarah
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Kekeringan ekstrem di Eropa menyingkap bangkai kapal uap berusia 113 tahun di Sungai Sava, Serbia.
  • Kapal bernama 'Slovenac' tenggelam tiga kali selama Perang Dunia II, terakhir karena ranjau pada 1944.
  • Masyarakat setempat memanfaatkan surutnya air untuk mengunjungi dan bahkan berpiknik di sekitar bangkai.

Bangkai kapal uap yang dibangun pada 1913 di masa Kekaisaran Austro-Hungaria kembali muncul ke permukaan Sungai Sava di Serbia. Kemunculan ini dipicu oleh kekeringan berkepanjangan yang menurunkan permukaan air sungai hingga rekor terendah dalam beberapa dekade. Warga sekitar berbondong-bondong mendatangi lokasi, bahkan ada yang berjalan di sekitar lambung kapal dan menggelar piknik di area yang biasanya terendam air.

Kapal tunda bertenaga uap ini awalnya bernama Vag, lalu berganti menjadi Slovenac. Menurut profesor sejarah Aleksandar Zivoti, kapal tersebut sempat dikuasai dan digunakan oleh Nazi Jerman sebelum tenggelam pada 1944. Pihak lawan dari Yugoslavia mengangkatnya, namun kembali tenggelam tak lama kemudian. Kapal diangkat lagi dan dipakai pasukan Yugoslavia hingga akhir perang, namun akhirnya menabrak ranjau dan tenggelam untuk ketiga kalinya—menjadi akhir permanen bagi kapal ini.

Zivoti menjelaskan bahwa bagian-bagian kapal sebenarnya kerap terlihat saat air surut, tetapi tahun ini ekstrem. Musim panas yang sangat panas dan kering melanda sebagian besar Eropa Tengah, menyebabkan penurunan drastis air sungai yang tak hanya menyingkap bangkai kapal, tetapi juga reruntuhan dan bom-bom belum meledak dari era perang.

Analisis Pakar

Fenomena munculnya bangkai kapal ini bukan sekadar tontonan sejarah, melainkan cermin nyata dari dampak perubahan iklim yang mulai mengganggu stabilitas ekonomi dan sosial di Eropa. Sebagai pengamat ekonomi makro, saya melihat kekeringan ekstrem di Serbia dan kawasan Eropa Tengah bukan lagi anomali, melainkan pola baru yang mengancam sektor pertanian, energi, dan logistik sungai. Sungai Sava adalah jalur transportasi vital bagi negara-negara Balkan; penurunan permukaan air dapat mengganggu rantai pasok barang, menaikkan biaya angkut, dan pada akhirnya memicu inflasi regional.

Dari sisi fiskal, pemerintah setempat harus mengalokasikan anggaran darurat untuk mengatasi dampak kekeringan—mulai dari subsidi petani hingga perbaikan infrastruktur irigasi. Sementara itu, kemunculan bom-bom yang belum meledak menambah beban keamanan dan biaya pembersihan yang tidak terduga. Ini adalah pengingat bahwa risiko historis (seperti sisa perang) dan risiko iklim modern beririsan, menciptakan kerentanan baru yang sering diabaikan dalam perencanaan pembangunan jangka panjang.

Tak kalah penting, perilaku warga yang berbondong-bondong menikmati bangkai kapal sebagai objek wisata dadakan menunjukkan rendahnya literasi risiko bencana. Padahal, lokasi tersebut berpotensi menyimpan bahan berbahaya dan struktur tidak stabil. Pemerintah perlu segera menyusun protokol penanganan darurat dan edukasi publik, sembari memanfaatkan momen ini untuk mendorong kesadaran akan perubahan iklim. Jika negara-negara Eropa tidak serius menekan emisi karbon, kejadian seperti ini akan semakin sering—dan dampak ekonominya tidak lagi hanya pada sektor pariwisata, tetapi juga pada stabilitas makro ekonomi secara keseluruhan.

Kita juga perlu melihat pelajaran dari sejarah: kapal ini tenggelam tiga kali akibat konflik manusia, kini 'bangkit' karena konflik manusia dengan alam. Ironi ini menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi dan sosial harus dibangun di atas kesadaran ekologis, bukan sekadar pertumbuhan PDB. Saya mendorong para pengambil kebijakan di Indonesia—yang juga rawan kekeringan—untuk menjadikan kasus ini sebagai studi banding. Investasi dalam sistem peringatan dini, diversifikasi sumber air, dan asuransi pertanian adalah langkah strategis yang tidak boleh ditunda.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Kapal apa yang muncul di Sungai Sava?
    A: Kapal tunda uap bernama 'Slovenac', dibangun 1913, yang tenggelam tiga kali selama Perang Dunia II.
  • Q: Mengapa kapal itu bisa terlihat sekarang?
    A: Karena kekeringan ekstrem di Eropa menurunkan permukaan air Sungai Sava hingga rekor terendah, sehingga bangkai yang biasanya terendam muncul ke permukaan.
  • Q: Apakah ada risiko bagi warga yang mendekati bangkai kapal?
    A> Ya, karena kapal tua bisa rapuh dan di sekitar lokasi juga ditemukan bom-bom yang belum meledak dari masa perang, sehingga sangat berbahaya.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸