Era Destry Damayanti di BI: Bukan Sekadar 3I+S, Tapi Ujian Stabilitas di Tengah Badai Global
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Ringkasan Singkat
- Destry Damayanti resmi memimpin Bank Indonesia dengan membawa prinsip 3I plus S (Impactful, Inklusif, Integratif, Sinergi).
- Fokus utama kebijakan ke depan adalah menjaga stabilitas ekonomi sebagai fondasi pertumbuhan dan pengendalian Inflasi.
- Susunan pimpinan BI diperkuat Aida S. Budiman dan Solikin M. Juhro, dengan keputusan tertinggi tetap berada di tangan Rapat Dewan Gubernur (RDG).
Jakarta – Pesta bergesernya tampuk kepemimpinan di Bank Indonesia telah usai. Destry Damayanti, yang kini resmi menyandang status Gubernur BI, membawa bekal konsep '3I plus S' yang ia klaim sebagai kompas navigasi bagi bank sentral di masa kepemimpinannya. Apa bedanya dengan era sebelumnya? Menurut Destry, 3I (Impactful, Inklusif, Integratif) harus diikat erat oleh huruf S yang merupakan singkatan dari Sinergi.
Dalam pidato singkatnya usai pelantikan di Mahkamah Agung, Rabu (2/9), Destry menegaskan bahwa 'Sinergi Merah Putih' adalah kunci. Ia tak mau BI bermain solo dalam menghadapi tantangan domestik, terutama inflasi yang masih menjadi momok. Kerja sama lintas kementerian dan lembaga dianggap vital agar ruang pertumbuhan ekonomi bisa terbuka lebar di tengah ketidakpastian global.
Tak hanya Destry yang dilantik. Mahkamah Agung juga menetapkan Aida S. Budiman sebagai Deputi Gubernur Senior dan Solikin M. Juhro sebagai Deputi Gubernur. Terkait pembagian tugas, Destry memberi catatan penting: struktur di Dewan Gubernur bersifat 'fluid'. Artinya, meski ada bidang satuan kerja masing-masing, rotasi tugas bisa terjadi. Namun, semua keputusan strategis tetap mengutamakan musyawarah dalam Rapat Dewan Gubernur.
Analisis Pakar
Sebagai pengamat yang telah menelan asam garam krisis 1998 hingga pandemi, saya melihat konsep 3I+S ini bukanlah formula baru, melainkan pengemasan ulang dari mandat BI yang sudah ada di UU. Yang menjadi pertanyaan besar: seberapa 'impactful' kebijakan BI jika sinergi dengan pemerintah hanya sebatas jargon 'Merah Putih'?
Stabilitas memang bukan tawar. Tanpa stabilitas harga (inflasi terkendali) dan stabilitas nilai tukar, investasi akan lari. Namun, kita harus kritis: apakah BI hanya akan menjadi 'penonton pasif' yang menjaga stabilitas, atau bisa 'inklusif' mendorong pembiayaan sektor riil yang selama ini tersumbat? Integrasi sistem pembayaran yang sudah bagus harus dibarengi dengan integrasi data ekonomi nasional yang sering kali timpang antar kementerian.
Pelantikan Aida Budiman adalah angin segar mengingat rekam jejaknya di bidang makroekonomi, namun tantangan terbesar Destry adalah memastikan bahwa 'sinergi' tidak berarti BI kehilangan independensi. Jika sinergi berujung pada pembiayaan defisit yang tidak sehat, maka stabilitas yang dijanjikan hanya akan menjadi ilusi jangka pendek. Dunia sedang menuju resesi potensial; BI di bawah Destry harus membuktikan bahwa 3I+S bukan sekadar akronim politik, melainkan perisai ekonomi riil.
Lebih jauh lagi, sifat 'fluid' dalam pembagian tugas ADG adalah langkah manajerial yang cerdas untuk menghindari silo mental. Namun, transparansi dalam RDG harus tetap terjaga agar pasar tidak menerka-nerka arah kebijakan. Di era digital ini, komunikasi kebijakan (forward guidance) sama pentingnya dengan instrumen suku bunga itu sendiri.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Apa yang dimaksud dengan prinsip 3I plus S di BI?
A: 3I adalah Impactful (berdampak), Inklusif, dan Integratif, yang diikat oleh S (Sinergi) untuk mendukung Indonesia maju melalui koordinasi antar lembaga.
Q: Siapa saja pimpinan BI terbaru selain Destry Damayanti?
A: Mahkamah Agung juga melantik Aida S. Budiman sebagai Deputi Gubernur Senior dan Solikin M. Juhro sebagai Deputi Gubernur BI.
Q: Bagaimana BI mengambil keputusan strategis?
A: Keputusan tertinggi diambil melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang melibatkan seluruh Anggota Dewan Gubernur, meski pembagian tugas harian bersifat cair.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

DJP Klarifikasi: GOTO dan Lazada Bukan Pemungut Pajak Digital, Cakupan SPP-TDLN Masih Terbatas

Bahlil Tutup Akses Ekspor Listrik ke Singapura, Perintahkan Danantara Tolak Lobi

Andalkan Empat Segmen Bisnis, Telkom Rebut Target Laba Bersih Rp14,4 T di Kuartal III 2026
