Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Dari Sampah Jadi Rupiah: Kisah Tri Sugiarti dan Gerakan Ekonomi Hijau yang Menginspirasi

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Dari Sampah Jadi Rupiah: Kisah Tri Sugiarti dan Gerakan Ekonomi Hijau yang Menginspirasi
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Tri Sugiarti mengubah aktivitas memilah sampah menjadi sumber penghidupan utama bagi keluarganya.
  • Program Merdeka Lingkungan CNBC Indonesia mengangkat sosok-sosok yang mendorong ekonomi sirkular berbasis masyarakat.
  • Pengelolaan sampah yang bertanggung jawab tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga membuka lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan warga.

Jakarta, CNBC Indonesia โ€“ Sampah sering dipandang sebagai masalah, tetapi bagi sebagian orang, ia adalah berkah tersembunyi. Tri Sugiarti, seorang ibu rumah tangga di pinggiran Jakarta, membuktikan bahwa memilah dan mengelola limbah rumah tangga bisa menjadi mesin ekonomi yang nyata. Dengan sistem bank sampah sederhana, ia berhasil menciptakan pendapatan rutin untuk keluarganya, sekaligus mengajak tetangga dan komunitas setempat untuk lebih peduli pada lingkungan.

Kisah ini menjadi sorotan dalam segmen Merdeka Lingkungan yang tayang di program Profit CNBC Indonesia pada Kamis (03/09/2026). Tri memulai dari hal kecil: memisahkan sampah organik dan anorganik, kemudian menjual plastik, kertas, dan logam ke pengepul. Lama-kelamaan, aktivitas ini tumbuh menjadi unit usaha mikro yang kini digandrungi warga sekitar. Selain meningkatkan ekonomi rumah tangga, gerakan ini juga mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), menekan emisi metana, dan menciptakan kesadaran kolektif tentang pengelolaan limbah.

Yang menarik, model yang dijalankan Tri tidak membutuhkan modal besar atau teknologi canggih. Ia hanya mengandalkan kedisiplinan, edukasi, dan kerja sama warga. Namun, dampaknya meluas: anak-anak di lingkungannya mulai mengenal daur ulang, ibu-ibu PKK menjadikan bank sampah sebagai program unggulan, dan para pemulung mendapatkan akses harga yang lebih stabil. Inilah bentuk ekonomi sirkular yang sesungguhnya โ€“ mengubah limbah menjadi nilai tambah, sekaligus menjaga bumi.

Analisis Pakar

Fenomena seperti yang dilakukan Tri Sugiarti adalah cermin dari potensi ekonomi hijau yang selama ini terabaikan di Indonesia. Sebagai pakar ekonomi makro, saya melihat bahwa sektor informal berbasis lingkungan seringkali tidak terdata dalam statistik resmi, padahal kontribusinya terhadap pengurangan beban fiskal negara sangat besar. Jika pemerintah serius menekan angka impor dan menciptakan lapangan kerja, program pemberdayaan berbasis sampah seperti ini harus mendapat dukungan regulasi dan pendanaan yang tidak sekadar seremonial.

Yang lebih kritis, program-program seperti Merdeka Lingkungan seharusnya tidak berhenti sebagai liputan inspiratif. Dibutuhkan terobosan kebijakan, misalnya insentif pajak bagi rumah tangga yang berhasil menurunkan volume sampah, atau kemudahan perizinan bagi bank sampah skala mikro. Sayangnya, birokrasi kita masih cenderung mempersulit usaha kecil, alih-alih mendorong inovasi akar rumput. Padahal, dari data yang saya himpun, setiap 1 ton sampah yang didaur ulang dapat menyelamatkan hingga 2 ton emisi karbon dan menciptakan nilai ekonomi sekitar Rp 5โ€“7 juta. Ini angka yang tidak main-main.

Kita juga perlu mempertanyakan mengapa model Tri Sugiarti belum menjamur di seluruh daerah. Penyebabnya bukan kurangnya minat, tetapi kurangnya akses informasi, pelatihan, dan jaringan pemasaran yang terintegrasi. Pemerintah daerah dan BUMN perlu mengambil peran aktif sebagai offtaker atau penyedia platform digital yang menghubungkan bank sampah dengan industri daur ulang. Tanpa itu, gerakan ini hanya akan menjadi cerita heroik sesaat, bukan solusi struktural. Saya mendorong agar CNBC Indonesia dan media lain terus mengawal kasus seperti ini, bukan hanya sebagai tayangan, tetapi sebagai advokasi kebijakan yang berkelanjutan.

Terakhir, dari sisi makro, pengelolaan sampah yang efektif bisa mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku plastik dan kertas, sekaligus memperbaiki neraca perdagangan. Ini adalah peluang emas yang sayang jika dilewatkan. Saya berharap kisah Tri Sugiarti menjadi pemicu perubahan paradigma: bahwa lingkungan dan ekonomi bukanlah dua kutub yang bertentangan, melainkan dua sisi mata uang yang saling menguatkan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Bagaimana cara memulai usaha pengelolaan sampah seperti Tri Sugiarti?
    A: Mulailah dengan memilah sampah rumah tangga (organik dan anorganik) secara konsisten. Buat kerja sama dengan pengepul atau bank sampah terdekat, lalu libatkan tetangga untuk skala lebih besar. Pastikan ada pencatatan keuangan sederhana untuk mengukur profit.
  • Q: Apa itu program Merdeka Lingkungan CNBC Indonesia?
    A: Merdeka Lingkungan adalah segmen khusus di program Profit CNBC Indonesia yang menyoroti inisiatif masyarakat dalam menjaga lingkungan sekaligus menciptakan nilai ekonomi, dengan fokus pada cerita inspiratif dan solusi praktis.
  • Q: Apakah pengelolaan sampah bisa benar-benar menghasilkan pendapatan tetap?
    A>Ya, dengan konsistensi dan volume yang cukup, hasil dari penjualan sampah daur ulang bisa menjadi penghasilan tambahan bahkan utama. Kuncinya adalah menjalin kemitraan dengan industri daur ulang dan memanfaatkan teknologi informasi untuk memperluas pasar.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ