Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

LPS Mengajar 2026: Menabung Literasi Keuangan di Bandar Lampung, Apakah Cukup untuk Generasi Melek Finansial?

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNBC Indonesia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

LPS Mengajar 2026: Menabung Literasi Keuangan di Bandar Lampung, Apakah Cukup untuk Generasi Melek Finansial?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • LPS Mengajar 2026 hadir di SMAN 10 Bandar Lampung untuk meningkatkan literasi keuangan pelajar.
  • Program ini menjadi bagian dari strategi nasional memperkuat pemahaman masyarakat terhadap sistem keuangan dan penjaminan simpanan.
  • Pendidikan finansial sejak dini dinilai krusial untuk membentuk perilaku keuangan yang sehat dan menghindari risiko utang konsumtif.

Jakarta, CNBC Indonesia – LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) kembali menggelar program LPS Mengajar 2026 di Kota Bandar Lampung, yang dikenal dengan sebutan Tapis Berseri. Kali ini, kegiatan menyasar generasi muda dari SMA Negeri 10 Bandar Lampung dengan tujuan utama memperkuat literasi keuangan sejak dini.

Dalam sesi yang berlangsung pada Rabu (02/09/2026) dan dipublikasikan melalui program Evening Up CNBC Indonesia, para pelajar diperkenalkan pada peran vital LPS dalam menjaga stabilitas sistem perbankan, mekanisme penjaminan simpanan, serta pentingnya memilih produk keuangan yang aman. Kegiatan interaktif ini juga menyoroti bahaya pinjaman online ilegal dan investasi fiktif yang kerap mengincar kalangan muda.

LPS Mengajar bukan sekadar seremonial; ini adalah bagian dari peta jalan nasional untuk mencapai target inklusi keuangan yang lebih luas. Dengan menyasar pelajar, LPS berharap terbentuk kesadaran kritis terhadap pengelolaan uang sejak bangku sekolah, sehingga kelak mereka tidak hanya cakap secara akademis, tetapi juga tangguh secara finansial.

Analisis Pakar

Sebagai pengamat ekonomi makro dan jurnalis finansial, saya menilai langkah LPS mendekati pelajar SMA adalah strategi yang tepat sasaran, namun perlu diuji efektivitas jangka panjangnya. Literasi keuangan bukanlah transfer pengetahuan satu arah, melainkan pembentukan kebiasaan dan pola pikir yang membutuhkan penguatan berkelanjutan. Kegiatan seperti LPS Mengajar 2026 memang memberikan paparan awal yang baik, tetapi tanpa tindak lanjut yang terintegrasi dalam kurikulum pendidikan formal, dampaknya berisiko menguap seiring waktu.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah kesenjangan antara literasi dan perilaku nyata. Data OJK menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan nasional masih di bawah 50%, sementara indeks inklusi justru melonjak. Artinya, banyak masyarakat yang menggunakan produk jasa keuangan namun tidak memahami hak, risiko, dan biaya yang melekat. Generasi muda, yang tumbuh di era digital, sangat rentan tergiur iming-iming keuntungan instan dari kripto atau peer-to-peer lending abal-abal. Oleh karena itu, edukasi dari LPS harus diperluas dengan simulasi kasus nyata dan studi banding tentang keputusan keuangan yang berdampak pada masa depan.

Selain itu, saya menyoroti bahwa fokus program masih terbatas pada wilayah perkotaan seperti Bandar Lampung. Padahal, tantangan literasi keuangan di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) jauh lebih berat karena akses informasi dan institusi keuangan yang minim. LPS dan otoritas terkait perlu merancang model edukasi yang adaptif secara geografis dan kultural, misalnya dengan memanfaatkan aplikasi berbasis gawai atau melibatkan tokoh masyarakat setempat. Tanpa pendekatan yang inklusif, upaya meningkatkan literasi hanya akan memperlebar jurang pemahaman antarwilayah.

Terakhir, saya mengapresiasi inisiatif ini sebagai fondasi, tetapi mengingatkan bahwa literasi keuangan adalah tanggung jawab kolektif. Peran guru, orang tua, dan industri jasa keuangan harus sinergis. Saya berharap LPS Mengajar tidak berhenti sebagai kegiatan tahunan yang seremonial, melainkan berkembang menjadi gerakan nasional yang terukur—dengan evaluasi berkala, indikator keberhasilan yang jelas, dan keterlibatan aktif dari generasi muda sebagai agen perubahan. Hanya dengan begitu, mimpi Indonesia memiliki masyarakat yang melek finansial benar-benar dapat terwujud.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apa itu LPS dan apa fungsinya?
A: LPS adalah Lembaga Penjamin Simpanan yang bertugas menjamin simpanan nasabah bank hingga Rp2 miliar per bank, serta aktif dalam menjaga stabilitas sistem perbankan dan mendorong literasi keuangan.

Q: Mengapa LPS mengajar di sekolah-sekolah?
A: Program ini bertujuan menanamkan kesadaran finansial sejak dini agar pelajar memahami pentingnya menabung, mengenali produk keuangan yang aman, dan terhindar dari jeratan utang atau investasi bodong.

Q: Bagaimana cara mengikuti program LPS Mengajar selanjutnya?
A: Informasi mengenai jadwal dan lokasi LPS Mengajar biasanya diumumkan melalui situs resmi LPS dan media sosial. Sekolah atau komunitas dapat mengajukan permohonan kerja sama secara daring melalui kanal resmi LPS.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸