Kejar Mandat 2027, Pertamina Perluas 'Benteng' SAF: Sinyal Hijau Bagi Industri Penerbangan Nasional

Ringkasan Singkat
- Pertamina Patra Niaga memperluas sertifikasi ISCC ke lima lokasi strategis, termasuk penambahan AFT Juanda dan IT Surabaya.
- Langkah ini merupakan persiapan infrastruktur dan tata kelola menjelang mandat penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF) oleh pemerintah pada 2027.
- Ekspansi ini bertujuan menangkap permintaan pasar 'voluntary' dari maskapai sekaligus mendukung target Net Zero Emission 2060.
Jakarta - PT Pertamina Patra Niaga tengah melakukan akselerasi besar-besaran dalam komersialisasi Sustainable Aviation Fuel (SAF). Langkah terbaru yang diambil adalah memperluas sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) ke lima titik strategis di Indonesia, sebuah langkah krusial untuk memastikan standar keberlanjutan global terpenuhi.
Perluasan yang berlaku mulai Agustus 2026 ini mencakup AFT Soekarno-Hatta, AFT Halim Perdanakusuma, AFT Ngurah Rai, AFT Juanda, hingga Integrated Terminal (IT) Surabaya. Menariknya, IT Surabaya menjadi terminal terintegrasi pertama yang mengantongi sertifikasi ini, menandakan bahwa Pertamina tidak hanya fokus pada titik pengisian akhir, tetapi juga pada penguatan rantai pasok secara menyeluruh.
Direktur Pemasaran Korporat Pertamina Patra Niaga, Alimuddin Baso, menegaskan bahwa langkah ini adalah strategi untuk menangkap peluang pertumbuhan pasar penerbangan berkelanjutan. Dengan cakupan yang lebih luas, Pertamina optimistis dapat melayani kebutuhan maskapai dengan lebih efisien, terutama dalam menangkap permintaan sukarela (voluntary) dari operator penerbangan di wilayah Jawa Timur.
Kesiapan operasional ini bukan sekadar formalitas, melainkan persiapan menghadapi mandat pemerintah Indonesia yang akan mewajibkan penggunaan SAF mulai tahun 2027. Inisiatif ini menjadi pilar utama dalam Dual Growth Strategy Pertamina untuk menyeimbangkan bisnis energi konvensional dengan pengembangan ekosistem rendah karbon demi mencapai target Net Zero Emission 2060.
Analisis Pakar
Sebagai pengamat ekonomi makro, saya melihat langkah Pertamina ini bukan sekadar isu lingkungan, melainkan langkah mitigasi risiko bisnis yang sangat terukur. Industri penerbangan global sedang berada di bawah tekanan hebat untuk melakukan dekarbonisasi. Jika Pertamina tidak segera mengamankan infrastruktur SAF, maskapai domestik yang melayani rute internasional akan terhambat oleh regulasi karbon global (seperti CORSIA), yang pada akhirnya akan memukul daya saing industri aviasi Indonesia di mata dunia.
Penambahan IT Surabaya sebagai terminal tersertifikasi ISCC adalah poin yang paling menarik. Ini menunjukkan bahwa Pertamina sedang membangun traceability (keterlacakan) yang ketat. Dalam bisnis karbon dan bahan bakar hijau, nilai jual utama bukan hanya pada produknya, tetapi pada 'sertifikat' atau bukti bahwa bahan bakar tersebut benar-benar berkelanjutan. Tanpa sertifikasi ISCC, SAF hanya akan menjadi bahan bakar biasa tanpa nilai premium di pasar internasional.
Namun, tantangan terbesarnya tetap pada cost of production. SAF secara historis jauh lebih mahal daripada avtur konvensional. Pertamina kini sedang bermain di area 'voluntary market', namun ketika mandat 2027 berlaku, akan ada tekanan besar pada struktur biaya maskapai. Jika tidak ada skema insentif atau subsidi yang tepat dari pemerintah, beban biaya ini kemungkinan besar akan diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga tiket pesawat.
Secara makro, ini adalah langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi dan memperkuat kedaulatan energi berbasis biofuel. Pertamina sedang mencoba memposisikan diri sebagai pemimpin pasar di Asia Tenggara untuk bahan bakar penerbangan hijau, yang jika berhasil, akan membuka aliran pendapatan baru (new revenue stream) yang signifikan dari sektor kredit karbon dan penjualan SAF ke maskapai asing yang transit di Indonesia.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Apa itu SAF dan mengapa penting bagi penerbangan?
A: SAF (Sustainable Aviation Fuel) adalah bahan bakar pesawat ramah lingkungan yang terbuat dari bahan baku terbarukan, bertujuan mengurangi emisi karbon secara signifikan dibandingkan avtur fosil.
Q: Apa fungsi sertifikasi ISCC bagi Pertamina?
A: Sertifikasi ISCC memastikan bahwa seluruh proses produksi dan distribusi SAF memenuhi standar keberlanjutan internasional, sehingga produk tersebut diakui secara global dan memiliki nilai ekonomi tinggi.
Q: Kapan pemerintah Indonesia mewajibkan penggunaan SAF?
A: Pemerintah Indonesia berencana mengimplementasikan mandat penggunaan SAF mulai tahun 2027.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

KKP Targetkan 5.000 Kampung Nelayan Merah Putih dan 4.582 Kapal untuk Dongkrak Kesejahteraan hingga 2029

Sinar Mas dan Salim Group Buka Suara: Boss Sawit Diklarifikasi di Singapura terkait Karhutla

Pendapatan Telkom Tembus Rp113,5 Triliun, Transformasi TLKM 30 Dorong Pertumbuhan Digital
