Inflasi Pangan Melonjak, BI dan Pemerintah Bersiap Jaga Stabilitas Ekonomi
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Ringkasan Singkat
- Inflasi inti naik tipis ke 2,9% menandakan aktivitas ekonomi pulih.
- Harga pangan bergejolak melonjak drastis dari 2% ke 4%, didorong daging ayam, cabai, dan beras.
- Bank Indonesia berkoordinasi dengan pemerintah pusat/daerah untuk kendalikan inflasi pangan.
Gubernur Sementara Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menyatakan bahwa kembalinya inflasi pada Agustus 2026 mencerminkan peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat. Indikasi ini terlihat dari inflasi inti yang tetap terjaga dan sedikit naik dari 2,7% menjadi 2,9% secara tahunan.
"Jadi kalau kita lihat inflasi inti masih tetap stabil, malah meningkat sedikit, yang artinya ada aktivitas ekonomi," ujar Destry di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (1/9). Meski tren inti positif, ia menyoroti lonjakan tajam pada kelompok harga pangan bergejolak (volatile food) yang melonjak dari 2% ke 4%.
Destry menegaskan bahwa menjaga stabilitas harga pangan menjadi pekerjaan rumah bersama. BI terus berkoordinasi erat dengan pemerintah pusat dan daerah dalam program pengendalian inflasi, khususnya komoditas utama seperti daging ayam ras, cabai rawit, dan beras.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi nasional Agustus 2026 sebesar 3,19% (yoy), dengan inflasi bulanan 0,21% (mtm). Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama (0,57%, andil 0,17%), didorong oleh daging ayam ras (andil 0,17%), cabai rawit, ikan segar, dan beras. Sementara itu, kelompok transportasi mengalami deflasi 0,50%, dipengaruhi penurunan tarif angkutan udara dan bensin.
Analisis Pakar
Kenaikan inflasi inti yang moderat memang sinyal positif pemulihan permintaan domestik. Namun, lonjakan harga pangan bergejolak hingga 4% patut diwaspadai karena berdampak langsung pada daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah. Ketika aktivitas ekonomi mulai bergerak, biasanya diikuti peningkatan konsumsi, tetapi jika sisi pasokan pangan tidak tertata, maka inflasi pangan justru menjadi penghambat pemulihan yang berkelanjutan.
Yang menarik adalah komposisi pendorong inflasi: daging ayam ras menyumbang andil terbesar, disusul cabai dan beras. Ini menunjukkan gangguan rantai pasok di sektor peternakan dan pertanian, kemungkinan akibat cuaca ekstrem atau masalah distribusi. BI dan pemerintah daerah harus bergerak cepat, tidak hanya dengan operasi pasar, tetapi juga memastikan keterjangkauan biaya produksi dan kelancaran logistik antarwilayah.
Dari sisi kebijakan moneter, BI tentu akan tetap hati-hati. Inflasi inti yang terkendali memberi ruang untuk suku bunga stabil, namun risiko dari volatile food bisa memicu ekspektasi inflasi jangka panjang. Koordinasi fiskal dan moneter menjadi kunci, termasuk insentif bagi petani dan pedagang. Jangan sampai tekanan harga pangan memaksa BI menaikkan suku bunga di tengah perlambatan ekonomi global.
Ke depan, yang paling kritis adalah konsistensi pelaksanaan program pengendalian inflasi pangan, termasuk pemantauan harga di tingkat produsen dan konsumen. Jika intervensi hanya bersifat reaktif, fluktuasi harga akan terus berulang. Pemerintah perlu mendorong sistem peringatan dini dan cadangan pangan yang lebih tangguh. Saya menilai, meskipun inflasi saat ini masih dalam target, lonjakan volatile food adalah alarm bagi semua pemangku kepentingan untuk tidak lengah.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa penyebab utama inflasi Agustus 2026?
A: Inflasi didorong oleh kenaikan harga pangan bergejolak, terutama daging ayam ras, cabai rawit, dan beras, serta inflasi inti yang naik tipis seiring pemulihan aktivitas ekonomi. - Q: Bagaimana dampak inflasi pangan terhadap masyarakat?
A: Dampak paling terasa pada daya beli rumah tangga berpendapatan rendah, karena pengeluaran untuk pangan merupakan porsi terbesar. Ini bisa menekan konsumsi dan memperlambat pemulihan ekonomi. - Q: Apa langkah Bank Indonesia dan pemerintah dalam mengendalikan inflasi?
A: BI berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah melalui operasi pasar, stabilisasi pasokan, serta pemantauan harga. Kebijakan moneter tetap akomodatif sejauh inflasi inti terkendali.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Kementerian UMKM dan BEI Akselerasi 200 UKM Menuju Pasar Modal Lewat Go Public Academy

Kementerian UMKM Ingatkan UKM Jangan Buru-Buru IPO: Kesiapan Tata Kelola Jadi Kunci Utama

Laba Bersih Phapros Melonjak 311,58 Persen, Didukung Efisiensi Operasional dan Penguatan Margin EBITDA
