Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Festival Janmashtami di Kolkata Kini Eksklusif Hindu: Wajah Muslim Tersingkir Setelah 58 Tahun

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNBC Indonesia
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Festival Janmashtami di Kolkata Kini Eksklusif Hindu: Wajah Muslim Tersingkir Setelah 58 Tahun
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Ringkasan Singkat Perayaan Janmashtami di Mominpore, Kolkata, yang selama 58 tahun melibatkan Muslim sebagai penyelenggara, tahun ini sepenuhnya dikelola oleh umat Hindu.
  • Rakesh Singh dari BJP mengklaim sebagai ketua panitia dan menegaskan festival Hindu harus hanya digelar oleh umat Hindu, seraya mengkritik pernyataan mantan CM Mamata Banerjee.
  • Seorang penyelenggara menyebut perubahan ini seperti 'aktivitas pembersihan', dan semua anggota Muslim dari komite telah disingkirkan.

Ringkasan Singkat

  • Perayaan Janmashtami di Mominpore, Kolkata, yang selama 58 tahun melibatkan Muslim sebagai penyelenggara, tahun ini sepenuhnya dikelola oleh umat Hindu.
  • Rakesh Singh dari BJP mengklaim sebagai ketua panitia dan menegaskan festival Hindu harus hanya digelar oleh umat Hindu, seraya mengkritik pernyataan mantan CM Mamata Banerjee.
  • Seorang penyelenggara menyebut perubahan ini seperti 'aktivitas pembersihan', dan semua anggota Muslim dari komite telah disingkirkan.

Perayaan Janmashtami di Mominpore, Kolkata, yang selama puluhan tahun menjadi simbol kerukunan antarumat beragama, mengalami pergeseran radikal. Tahun ini, festival yang memasuki edisi ke-58 tersebut dipastikan hanya digelar oleh komunitas Hindu, tanpa keterlibatan Muslim yang sebelumnya menjadi tulang punggung penyelenggaraan.

Mengutip Times of India, Rabu (02/09/2026), Rakesh Singh, kandidat BJP yang kalah di daerah Port, mengklaim dirinya sebagai presiden dan ketua komite. Ia menegaskan bahwa meskipun umat agama lain boleh berkunjung, perlindungan terhadap kegiatan keagamaan adalah kewajiban mutlak. "Janmashtami adalah festival Hindu dan seharusnya hanya dilakukan oleh umat Hindu," tegasnya.

Singh mengkritik pernyataan mantan Ketua Menteri Mamata Banerjee yang kerap menyebut festival ini milik semua orang. Perubahan ini terjadi seminggu setelah VHP menginstruksikan panitia untuk menjaga kemurnian spiritual dengan melarang makanan non-vegetarian dan mewajibkan budaya Hindu di area inti.

Padahal, festival ini diprakarsai oleh pekerja sosial Muslim, Md Kashim, enam dekade lalu, dan sering didukung fungsionaris Trinamool seperti Mohammed Alam. Alam mengungkapkan kekecewaannya: "Sejak 2011, kami menyelenggarakan Janmashtami di sini. Ada 20 anggota komite, setengahnya Muslim. Tahun ini, semua wajah Muslim disingkirkan."

Seorang penyelenggara yang mengawasi pembangunan tenda safron dan putih membenarkan bahwa Muslim mengendalikan perayaan hingga tahun lalu, dan kini dikelola secara eksklusif oleh Hindu. "Ini seperti aktivitas pembersihan," pungkasnya.

Analisis Pakar

Pergeseran ini bukan sekadar perubahan kepanitiaan, melainkan cermin dari polarisasi identitas yang semakin tajam di India, terutama di negara bagian Bengal Barat yang selama ini menjadi benteng sekulerisme. Apa yang terjadi di Mominpore adalah sinyal bahwa narasi eksklusivitas agama mulai menggerus tradisi inklusif yang telah berlangsung hampir enam dekade. Ketika sebuah festival yang lahir dari inisiatif Muslim justru diambil alih dengan dalih 'kemurnian spiritual', maka yang sesungguhnya diperdebatkan adalah definisi 'milik siapa' budaya lokal—apakah ia menjadi aset bersama atau hak prerogatif satu kelompok.

Dari perspektif ekonomi makro, perubahan semacam ini berpotensi mengganggu ekosistem usaha kecil dan pariwisata budaya. Perayaan yang inklusif biasanya menarik lebih banyak pengunjung, pelaku UMKM, dan investasi simbolis dari berbagai komunitas. Ketika ruang publik dipersempit untuk satu identitas, efek ekonominya tidak langsung terlihat, tetapi dalam jangka panjang akan mereduksi daya tarik Kolkata sebagai kota multikultural yang dinamis. Investor dan wisatawan cenderung menghindari daerah yang dianggap 'tidak ramah' terhadap keberagaman, dan ini dapat menekan pertumbuhan ekonomi lokal.

Lebih dalam lagi, ini adalah geopolitik identitas yang dijalankan melalui festival. BJP dan VHP tampak menggunakan momen keagamaan untuk mengokohkan basis elektoral, sekaligus meruntuhkan pengaruh Trinamool Congress yang selama ini mengandalkan dukungan lintas agama. Mamata Banerjee mungkin akan kehilangan narasi 'Bangla untuk semua' jika kasus serupa terus berulang. Namun, yang paling memprihatinkan adalah hilangnya ruang dialog antarkomunitas—ketika panitia hanya diisi satu golongan, maka potensi gesekan justru meningkat, bukan menurun.

Sebagai pengamat, saya menilai bahwa langkah ini adalah kemunduran besar bagi nilai-nilai kebangsaan yang mengedepankan persaudaraan. Toleransi tidak bisa dipaksakan dengan mengusir pihak lain, melainkan dibangun melalui partisipasi setara. Jika 'pembersihan' ini menjadi preseden, maka kita akan menyaksikan lebih banyak festival adiluhung yang kehilangan ruhnya, berubah menjadi ajang eksklusivitas yang justru memecah belah. Pemerintah daerah dan pusat perlu merespons dengan kebijakan yang menjaga ruang publik sebagai milik semua, bukan sekadar kepentingan politik sesaat.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa perayaan Janmashtami di Mominpore berubah drastis tahun ini?
    A: Karena komite penyelenggara kini diklaim oleh Rakesh Singh dari BJP yang menegaskan festival Hindu harus digelar eksklusif oleh umat Hindu, sehingga semua anggota Muslim disingkirkan.
  • Q: Siapa yang sebelumnya menyelenggarakan festival Janmashtami di lokasi tersebut?
    A: Selama 58 tahun, festival diprakarsai oleh pekerja sosial Muslim Md Kashim, dan hingga tahun lalu komite penyelenggara terdiri dari 50% Muslim, termasuk fungsionaris Trinamool seperti Mohammed Alam.
  • Q: Apa dampak perubahan ini terhadap kerukunan antarumat beragama di Kolkata?
    A: Perubahan ini dianggap sebagai 'aktivitas pembersihan' yang mengancam tradisi inklusif, berpotensi memicu polarisasi, mengurangi daya tarik wisata budaya, dan melemahkan ekonomi lokal yang bergantung pada keberagaman.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸