Rupiah Jeblok ke Rp 18.145, BI Beberkan Tekanan Eksternal Global dan Kokohnya Cadangan Devisa

- Bank Indonesia (BI) mencatatkan tren pelemahan signifikan pada nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
- Destry Damayanti , Gubernur BI, menegaskan bahwa mata uang dolar AS telah menembus level Rp 18.145 per dolar AS pada tanggal 2 November 2026.
- Angka ini menandai pergeseran yang tajam dibandingkan kondisi akhir September 2026, di mana rupiah masih mengalami penguatan di level Rp 17.830.
Bank Indonesia (BI) mencatatkan tren pelemahan signifikan pada nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Destry Damayanti, Gubernur BI, menegaskan bahwa mata uang dolar AS telah menembus level Rp 18.145 per dolar AS pada tanggal 2 November 2026. Angka ini menandai pergeseran yang tajam dibandingkan kondisi akhir September 2026, di mana rupiah masih mengalami penguatan di level Rp 17.830. Penurunan nilai tukar ini menjadi fokus utama dalam konferensi pers Hasil Rapat Berkala KSSK yang digelar di Jakarta pada Selasa, 3 November 2026, sebagai respons terhadap volatilitas pasar valuta asing terkini.
Dalam paparannya, Destry menjelaskan bahwa pelemahan ini terjadi karena akumulasi tekanan selama periode Oktober dan November. Situasi ini berbanding terbalik dengan tren penguatan yang sempat dirasakan di bulan sebelumnya. Kebijakan moneter yang diambil tidak semata-mata berfokus pada intervensi pasar, tetapi juga pada komunikasi ekspektasi untuk menjaga kepercayaan publik mengenai fundamental ekonomi nasional yang dinilai masih terjaga di tengah guncangan global.
Akibat Eskalasi Konflik dan Kebijakan AS
Destry mengidentifikasi bahwa penyebab utama tekanan terhadap kurs rupiah saat ini berakar dari permasalahan eksternal yang kompleks. Beberapa faktor kunci yang menekan nilai tukar tersebut meliputi eskalasi konflik geopolitik di wilayah Timur Tengah, yang menciptakan ketidakpastian global. Selain itu, pengetatan kebijakan moneter di Amerika Serikat turut mendorong penguatan dolar AS. Sentimen investor global yang berubah arah ke aset negara maju juga mengurangi aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga membebani posisi rupiah di pasar internasional.
Untuk memberikan gambaran data terkini, berikut adalah rincian posisi cadangan devisa Indonesia yang dikutip langsung dari pernyataan Gubernur BI:
- Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 mencapai US$ 146,3 miliar.
- Kondisi ini setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor.
- Secara spesifik, nilai tersebut juga setara dengan 5,2 bulan untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Destry menegaskan bahwa angka ini klaim tetap kuat dan sangat sehat dibandingkan standar global. "Ini masih jauh di atas standar kecukupan internasional yang sebesar tiga bulan impor," bebernya. Pernyataan ini ditujukan untuk menepis kekhawatiran pasar terkait ketahanan fundamental keuangan Indonesia di tengah tekanan mata uang.
Jaga Fondasi Stabilitas Ekonomi Nasional
Kekokohan cadangan devisa menjadi jangkar utama bagi Bank Indonesia dalam menstabilkan pasar. Dengan buffer yang melampaui standar kecukupan internasional, BI memiliki ruang yang lebih leluasa untuk melakukan operasi pasar maupun kebijakan moneter makroprudensial tanpa mengorbankan ketahanan likuiditas negara. Meskipun rupiah melemah ke level 18 ribuan, fundamental ekonomi yang didukung oleh cadangan devisa yang besar memberikan sinyal positif kepada investor bahwa Indonesia memiliki ketahanan menghadapi volatilitas global.
Langkah selanjutnya adalah memantau respons kebijakan moneter AS dan dinamika geopolitik Timur Tengah secara cermat. Stabilitas rupiah sangat bergantung pada seberapa cepat sentimen investor global kembali stabil. Dengan komunikasi yang transparan dari otoritas moneter dan fundamental devisa yang solid, pasar diharapkan dapat menjangkau titik keseimbangan baru yang lebih positif di kuartal mendatang, memastikan daya beli masyarakat dan inflasi tetap terjaga dalam rentang sasaran kebijakan.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Ancaman Pelemahan Rupiah: Lukman Leong Proyeksi Tembus Rp 18.350, BI Akui Tantangan Menjaga Stabilitas

IHSG Anjlok 3,78% di Akhir Perdagangan, Investor Asing Lepas 10 Saham Unggulan dengan Net Sell Rp575 Miliar

Respons Keras Publik, KAI Batalkan Rencana Perubahan Nama Rute Kereta di Gapeka 2026
