Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Anggaran Pendidikan 2027 Naik Rp2,86 Triliun, Kemendikdasmen Minta Tambahan Rp157 Triliun—Apa Dampaknya?

EkonomiHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNN Nasional
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Anggaran Pendidikan 2027 Naik Rp2,86 Triliun, Kemendikdasmen Minta Tambahan Rp157 Triliun—Apa Dampaknya?
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Ringkasan Singkat Komisi X DPR RI menyetujui pagu anggaran Kemendikdasmen 2027 sebesar Rp61,10 triliun, naik Rp2,86 triliun dari perkiraan sebelumnya.
  • Menteri Abdul Mu'ti menilai anggaran itu masih jauh dari cukup dan mengajukan tambahan Rp157,76 triliun.
  • Usulan tambahan ditujukan untuk revitalisasi 100 ribu sekolah, Program Wajib Belajar 13 Tahun , beasiswa ADEM, dan peningkatan kesejahteraan guru.

Ringkasan Singkat

  • Komisi X DPR RI menyetujui pagu anggaran Kemendikdasmen 2027 sebesar Rp61,10 triliun, naik Rp2,86 triliun dari perkiraan sebelumnya.
  • Menteri Abdul Mu'ti menilai anggaran itu masih jauh dari cukup dan mengajukan tambahan Rp157,76 triliun.
  • Usulan tambahan ditujukan untuk revitalisasi 100 ribu sekolah, Program Wajib Belajar 13 Tahun, beasiswa ADEM, dan peningkatan kesejahteraan guru.

Komisi X DPR RI resmi menyetujui anggaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk Tahun Anggaran 2027 sebesar Rp61,100,819,081,000. Anggaran ini terdiri dari Rupiah Murni Rp61,06 triliun, Badan Layanan Umum (BLU) Rp30,85 miliar, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp9,05 miliar. Dari total tersebut, alokasi belanja pegawai mencapai Rp16,02 triliun, belanja barang Rp24,57 triliun, belanja modal Rp6,78 triliun, dan belanja bantuan sosial Rp13,72 triliun.

Angka ini memang menunjukkan kenaikan indikatif sebesar Rp2,86 triliun dibandingkan usulan awal Rp58,24 triliun. Namun, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Abdul Mu'ti menegaskan bahwa dana tersebut masih belum menutupi kebutuhan mendesak di lapangan. Ia mengajukan tambahan anggaran sebesar Rp157,76 triliun, yang bila disetujui akan membawa total kebutuhan menjadi Rp306,51 triliun.

Usulan tambahan tersebut menargetkan sejumlah prioritas strategis: revitalisasi dan pembangunan kembali sekitar 100 ribu satuan pendidikan, perluasan Program Wajib Belajar 13 Tahun, serta peningkatan alokasi untuk Program Indonesia Pintar (PIP) di semua jenjang. Selain itu, dana tambahan akan dipakai untuk pencegahan dan penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS), beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM), penyediaan sarana dan peralatan belajar, serta peningkatan tunjangan bagi guru non‑ASN dan program fasilitasi kualifikasi D‑IV/S1 bagi guru.

Analisis Pakar

Penambahan anggaran sebesar Rp157,76 triliun menimbulkan pertanyaan serius tentang keberlanjutan fiskal negara. Mengingat defisit anggaran yang sudah tinggi, permintaan tambahan ini dapat memperburuk tekanan pada neraca pemerintah, terutama bila tidak diiringi dengan reformasi struktural dalam pengelolaan dana pendidikan. Pemerintah harus menyiapkan mekanisme pengawasan yang lebih ketat untuk memastikan setiap rupiah yang dialokasikan benar‑benar sampai ke tangan sekolah dan guru, bukan terserap oleh birokrasi.

Selanjutnya, fokus pada revitalisasi 100 ribu sekolah memang penting, namun kualitas tidak boleh dikorbankan demi kuantitas. Banyak sekolah yang sudah dibangun namun masih kekurangan tenaga pengajar berkualitas, fasilitas laboratorium, atau akses internet. Tanpa peningkatan kapasitas sumber daya manusia, investasi infrastruktur akan menjadi “gedung kosong” yang tidak meningkatkan hasil belajar.

Program Wajib Belajar 13 Tahun dan perluasan PIP memang sejalan dengan agenda pemerintahan untuk meningkatkan partisipasi pendidikan. Namun, perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap efektivitas program sebelumnya. Apakah peningkatan dana memang berbanding lurus dengan peningkatan mutu? Data empiris menunjukkan bahwa tanpa perbaikan kurikulum, pelatihan guru, dan sistem penilaian, penambahan dana saja tidak cukup.

Terakhir, alokasi untuk beasiswa ADEM dan penanganan ATS harus diintegrasikan dengan kebijakan pasar kerja. Anak‑anak yang kembali ke sekolah harus memiliki prospek kerja yang jelas, sehingga investasi pendidikan tidak berakhir pada gelar semata tetapi pada peningkatan kesejahteraan ekonomi keluarga. Pemerintah perlu menyelaraskan kebijakan pendidikan dengan program vokasi dan industri agar lulusan dapat langsung menyerap kebutuhan tenaga kerja.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa Kemendikdasmen meminta tambahan anggaran sebesar Rp157,76 triliun?
    A: Karena anggaran Rp61,10 triliun dianggap tidak mencukupi untuk menutup kebutuhan revitalisasi 100 ribu sekolah, program wajib belajar 13 tahun, beasiswa ADEM, dan peningkatan kesejahteraan guru.
  • Q: Apa saja komponen utama dalam anggaran 2027 yang disetujui?
    A: Anggaran dibagi menjadi belanja pegawai (Rp16,02 triliun), belanja barang (Rp24,57 triliun), belanja modal (Rp6,78 triliun), dan belanja bantuan sosial (Rp13,72 triliun).
  • Q: Bagaimana dampak penambahan anggaran ini terhadap defisit fiskal negara?
    A: Penambahan anggaran dapat memperlebar defisit jika tidak diimbangi dengan peningkatan penerimaan atau efisiensi pengeluaran, sehingga diperlukan kontrol ketat dan prioritas yang jelas.
Meow! Tanya Nesi!
😸