Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Ironi Gempa NTT: Sepuluh Tahun Merantau Demi Rumah, Kini Satu Keluarga Terpaksa Mengungsi di Kandang Babi

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ironi Gempa NTT: Sepuluh Tahun Merantau Demi Rumah, Kini Satu Keluarga Terpaksa Mengungsi di Kandang Babi
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Satu keluarga di Kabupaten Manggarai, NTT, terpaksa bertahan hidup di bekas kandang babi setelah rumah mereka hancur total akibat bencana gempa bumi.
  • Kondisi posko pengungsian yang berdebu, tidak layak, dan rawan bocor saat hujan memaksa korban memilih kembali ke pekarangan rumah dan memodifikasi kandang hewan seadanya.
  • Stok logistik kian kritis dengan sisa beras bantuan hanya tiga kilogram, sementara mata pencaharian terhenti dan masa depan pendidikan tiga anak mereka kini terancam.

Air mata Seriani Wati Mengo (38) mengalir deras saat ia menatap puing-puing yang dulunya merupakan istana kecil keluarganya. Rumah yang ia bangun bersama suaminya, Siprianus Baeng, dari hasil memeras keringat selama sepuluh tahun merantau di Kalimantan, kini rata dengan tanah akibat guncangan hebat gempa NTT. Tanpa ada pilihan tersisa, warga Kampung Nara, Dusun Wancang, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai ini terpaksa menyulap bekas kandang babi menjadi tempat bernaung satu-satunya bagi keluarga mereka.

Di depan bangunan sempit berbau lembap yang dulunya dihuni hewan ternak tersebut, Seriani mengisahkan getirnya bertahan hidup di tengah keterbatasan ekstrem. "Sebelumnya ini kandang babi, sekarang kami bersihkan dan jadikan tempat tinggal. Rumah kami rusak berat, tidak ada lagi tempat berteduh yang aman," ujarnya dengan suara bergetar.

Sebenarnya, keluarga kecil dengan tiga anak ini sempat mengungsi ke fasilitas darurat yang disediakan. Namun, realita di lapangan memaksa mereka mengambil keputusan nekat. Kondisi posko pengungsian yang sangat memprihatinkan—penuh debu saat kemarau dan rawan bocor saat hujan—membuat kesehatan anak-anak mereka terancam. Alih-alih bertahan di pengungsian komunal yang tidak layak, mereka memilih pulang ke pekarangan sendiri dan memperbaiki bekas kandang babi serta kandang ayam agar bisa ditempati.

Penderitaan keluarga ini tidak berhenti pada hilangnya tempat tinggal. Sebagai petani dan penenun tradisional, aktivitas ekonomi Seriani dan Siprianus lumpuh total pascabencana. Sementara itu, kebutuhan pangan harian dan biaya sekolah anak-anak terus berjalan tanpa ampun. Saat ini, bantuan pemerintah yang mereka terima sudah hampir habis tak bersisa.

"Beras sisa bantuan tinggal tiga kilogram saja. Kami tidak bisa bekerja, padahal perut harus tetap diisi. Kami sangat membutuhkan beras, obat-obatan, air bersih, dan yang paling membuat kami cemas adalah biaya sekolah anak-anak," keluh Seriani.

Kecemasan terbesar Seriani kini berpusat pada masa depan ketiga buah hatinya. Anak sulungnya kini duduk di bangku kelas III SMA, anak kedua kelas II SMP, dan si bungsu baru menginjak usia enam tahun. Di tengah reruntuhan puing bangunan, asa pendidikan anak-anak tersebut kini berada di ujung tanduk. Kehilangan aset terbesar yang dibangun selama satu dekade di tanah rantau menyisakan trauma mendalam sekaligus ketidakpastian yang membayangi hari esok mereka.

Analisis Pakar

Sebagai seorang jurnalis yang telah puluhan tahun meliput berbagai bencana di tanah air, saya melihat kasus yang menimpa keluarga Seriani di Manggarai ini bukanlah sekadar cerita pilu biasa. Ini adalah potret nyata dari kegagalan sistemik mitigasi pascabencana dan manajemen pengungsian di Indonesia, khususnya di wilayah Indonesia Timur. Sangat ironis ketika para korban bencana justru harus memilih tinggal di bekas kandang hewan ketimbang bertahan di posko pengungsian yang disediakan oleh negara. Hal ini menunjukkan bahwa standar kelayakan posko darurat kita masih jauh di bawah batas kemanusiaan.

Pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tidak boleh menutup mata atas realitas ini. Pengungsian yang berdebu, tidak ramah anak, dan rentan terhadap cuaca ekstrem mencerminkan kurangnya empati dan perencanaan yang matang dalam penanganan darurat. Ketika ruang publik yang disediakan negara justru lebih buruk daripada bekas kandang babi, maka di situlah martabat kemanusiaan para korban bencana sedang dipertaruhkan. Birokrasi kita sering kali terjebak pada formalitas penyaluran bantuan tanpa memastikan apakah bantuan tersebut menyentuh aspek paling mendasar dari kebutuhan korban: hunian sementara (huntara) yang layak dan higienis.

Lebih jauh lagi, aspek pemulihan ekonomi pascabencana (post-disaster recovery) kerap kali terlupakan. Pemerintah cenderung fokus pada masa tanggap darurat yang instan, lalu perlahan meninggalkan korban ketika sorotan media mulai meredup. Bagi keluarga miskin seperti petani dan penenun di NTT, kehilangan rumah sekaligus kehilangan alat produksi adalah vonis kemiskinan struktural yang baru. Tanpa adanya intervensi modal, jaminan kelangsungan pendidikan anak, dan bantuan rekonstruksi rumah yang cepat, siklus kemiskinan baru akan tercipta di wilayah terdampak bencana ini.

Saya mendesak Kementerian Sosial dan Pemerintah Provinsi NTT untuk segera turun ke lapangan, melakukan audit terhadap kelayakan posko-posko pengungsian, dan mempercepat skema bantuan stimulan perbaikan rumah. Jangan biarkan birokrasi yang berbelit-belit menahan hak-hak dasar warga negara yang sedang tertimpa musibah. Mengharuskan satu keluarga bertahan hidup di bekas kandang babi di tengah klaim keberhasilan penanganan bencana adalah sebuah tamparan keras bagi keadilan sosial kita.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Mengapa keluarga korban gempa di Manggarai ini memilih tinggal di bekas kandang babi?
A: Mereka terpaksa tinggal di bekas kandang babi karena rumah utama mereka hancur total, sementara posko pengungsian yang disediakan dinilai tidak layak huni, sangat berdebu, dan rawan bocor saat hujan deras.

Q: Bagaimana kondisi pemenuhan kebutuhan pokok mereka saat ini?
A: Kondisinya sangat kritis. Stok beras bantuan yang mereka miliki kini hanya tersisa tiga kilogram, sementara mereka kehilangan mata pencaharian dan kesulitan mengakses air bersih serta obat-obatan.

Q: Apa langkah konkret yang diharapkan korban dari pemerintah?
A: Korban sangat berharap pemerintah daerah maupun pusat segera meninjau langsung kondisi mereka di lapangan dan memberikan bantuan dana stimulan untuk membangun kembali rumah mereka yang rusak berat.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸