Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

IMM 2025: Produktivitas Setengahnya Masih Jauh dari Target Indonesia Emas 2045

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

IMM 2025: Produktivitas Setengahnya Masih Jauh dari Target Indonesia Emas 2045
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • IMM 2025 tercatat 0,562, naik dari 0,540 (2020) namun masih di bawah target 0,590 pada 2029.
  • Indeks menilai kesehatan sejak dalam kandungan, pendidikan, dan keterampilan sepanjang siklus hidup.
  • Kesenjangan regional tajam: Yogyakarta 0,705 vs Papua Pegunungan 0,366, menuntut sinergi kebijakan lintas sektor.

Jakarta, CNBC Indonesia – Bappenas resmi meluncurkan Indeks Modal Manusia (IMM), versi lokal dari Human Capital Index Bank Dunia. IMM menggantikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan menempatkan manusia sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek statistik.

Menurut Menteri Rachmat Pambudy, pergeseran paradigma ini menekankan kesehatan sejak dalam kandungan. "Modal manusia tercermin dari kesehatan, dan kesehatan dimulai sebelum lahir," ujarnya dalam siaran pers Selasa (1/9/2026). Pendekatan siklus hidup ini menilai tiga pilar utama: kelangsungan hidup, pendidikan, dan kesehatan, yang bersama‑sama membentuk potensi produktivitas masa depan.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025‑2045, IMM dijadikan barometer utama untuk mengukur pencapaian daya saing sumber daya manusia. Pada 2025, nilai IMM Indonesia berada di 0,562, artinya seorang anak yang lahir hari ini diproyeksikan akan mencapai 56,2 % dari potensi produktivitas optimalnya saat memasuki usia kerja. Angka ini memang lebih baik dari 0,540 pada 2020, namun masih jauh dari target 0,590 yang ditetapkan untuk akhir periode RPJMN 2025‑2029.

Distribusi geografis menunjukkan disparitas signifikan. Daerah dengan nilai tertinggi adalah Daerah Istimewa Yogyakarta (0,705), sementara Papua Pegunungan mencatat nilai terendah (0,366). Pemerintah menegaskan bahwa peningkatan IMM memerlukan sinergi lintas sektor: kesehatan ibu dan anak, gizi, pencegahan stunting, imunisasi, pendidikan anak usia dini, hingga pelatihan keterampilan bagi tenaga kerja usia produktif.

Analisis Pakar

Sebagai ekonom makro, saya melihat IMM bukan sekadar angka statistik, melainkan indikator kunci bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Produktivitas tenaga kerja Indonesia masih terhambat oleh kualitas modal manusia yang belum optimal. Nilai 0,562 menandakan bahwa hampir setengah potensi produktivitas belum terealisasi, yang secara langsung menurunkan kontribusi sektor manufaktur dan jasa terhadap PDB.

Ketimpangan antar wilayah menjadi risiko struktural. Yogyakarta, dengan infrastruktur pendidikan dan layanan kesehatan yang relatif maju, berhasil memaksimalkan potensi modal manusia. Sebaliknya, Papua Pegunungan masih berjuang dengan akses layanan dasar. Jika tidak ada intervensi terfokus, kesenjangan ini dapat memperlebar jurang pertumbuhan regional, menghambat agenda Indonesia Emas 2045 yang menuntut pertumbuhan inklusif.

Dari perspektif bisnis, perusahaan harus menyesuaikan strategi SDM mereka. Investasi pada program kesehatan pra‑kelahiran, beasiswa pendidikan, dan pelatihan vokasi akan menjadi keunggulan kompetitif. Selain itu, sektor keuangan dapat mengembangkan produk pembiayaan mikro untuk keluarga berpenghasilan rendah guna meningkatkan gizi dan akses imunisasi, yang pada gilirannya meningkatkan skor IMM.

Terakhir, pemerintah perlu memperkuat mekanisme monitoring dan evaluasi berbasis data real‑time. Integrasi data kesehatan, pendidikan, dan ketenagakerjaan dalam satu platform akan memungkinkan penyesuaian kebijakan yang lebih responsif. Tanpa data yang akurat, target 0,590 pada 2029 tetap sekadar harapan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa itu Indeks Modal Manusia (IMM)?
    A: IMM adalah ukuran komprehensif yang menilai kesehatan sejak dalam kandungan, pendidikan, dan keterampilan sepanjang siklus hidup, menggantikan IPM untuk menilai potensi produktivitas masa depan.
  • Q: Bagaimana IMM berbeda dari IPM?
    A: IPM mengukur pencapaian manusia sebagai objek pembangunan (kelahiran, harapan hidup, pendidikan), sedangkan IMM menilai manusia sebagai subjek dengan fokus pada kesehatan prenatal dan pengembangan keterampilan sepanjang hidup.
  • Q: Apa target IMM Indonesia ke tahun 2029?
    A: Pemerintah menargetkan nilai IMM mencapai 0,590 pada akhir periode RPJMN 2025‑2029, sebagai langkah menuju visi Indonesia Emas 2045.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸