Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Prabowo Dapat Kartu Anggota NU Seumur Hidup: Simbol Politik atau Sekadar Upacara?

PolitikSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Prabowo Dapat Kartu Anggota NU Seumur Hidup: Simbol Politik atau Sekadar Upacara?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Presiden Prabowo Subianto resmi menerima Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (KARTANU) pada penutupan Muktamar ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang.
  • Kartu tersebut bersifat seumur hidup, menimbulkan pertanyaan tentang nilai simbolik bagi politikus berstatus presiden.
  • Prabowo sempat mengolok‑olok dirinya belum menerima kartu itu sejak masa kepemimpinan Gus Yahya, lalu menegaskan kesediaannya kembali ke acara bila kartu diberikan.

Penutupan Muktamar ke-35 NU di Jombang pada Senin (31/8) menjadi panggung bagi Presiden RI Prabowo Subianto untuk menerima Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (KARTANU) yang berlaku seumur hidup. Upacara berlangsung setelah Rais Aam masa khidmah 2026‑2031 KH Miftahul Achyar menyampaikan sambutan, lalu petugas menyerahkan kartu kepada Prabowo di hadapan tokoh-tokoh senior NU: KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), mantan ketua umum PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), serta Sekjen PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul).

Sesaat setelah menerima kartu, Prabowo melangkah ke panggung dan mengungkapkan rasa terima kasihnya: "Begitu saya dapat, saya putuskan saya hadir. Terima kasih, ini kehormatan besar bagi saya, dan di bawahnya disebut, anggota seumur hidup. Ini luar biasa." Pernyataan itu menegaskan bahwa simbol keanggotaan seumur hidup bukan sekadar gelar kehormatan, melainkan potensi alat politik yang dapat dimanfaatkan dalam jaringan massa NU yang luas.

Sebelum acara penutupan, pada pembukaan Muktamar (27/8), Prabowo sempat mengolok‑olok dirinya yang belum menerima KARTANU meski sudah “meminta sejak lama” kepada Gus Yahya. "Hanya Gus Yahya, aku dari dulu minta kartu NU. Jadi masih hutang sama saya ya," candanya. Ia menambahkan, "Kalau ada kartu anggota, aku datang lagi tanggal 31," menandakan niatnya untuk kembali ke panggung demi simbol tersebut.

Penghargaan ini menimbulkan pertanyaan kritis: Apakah penerimaan KARTANU oleh seorang presiden mengubah dinamika hubungan antara negara dan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia? Atau sekadar ritual politik yang dipoles media? Di tengah persaingan politik nasional, simbol keanggotaan seumur hidup ini dapat menjadi kartu dagang dalam meraih dukungan basis massa NU, yang secara historis memiliki pengaruh signifikan dalam pemilihan umum.

Analisis Pakar

Menurut saya, Budi Santoso, pimpinan redaksi dan jurnalis senior investigasi, peristiwa ini bukan sekadar seremonial. Kartu anggota NU yang bersifat seumur hidup memberi Prabowo akses tak terbatas ke jaringan struktural NU, termasuk jaringan pesantren, organisasi sosial, dan jaringan ekonomi informal yang dikelola oleh anggota NU. Dalam konteks politik Indonesia, di mana dukungan agama masih menjadi faktor penentu, simbol ini dapat memperkuat narasi “presiden yang dekat dengan umat”.

Namun, ada risiko terselubung. Penggunaan simbol keagamaan untuk kepentingan politik dapat menimbulkan persepsi bahwa NU menjadi instrumen politik, bukan lembaga independen. Hal ini dapat menggerogoti kepercayaan publik terhadap netralitas organisasi keagamaan, terutama bila keputusan kebijakan pemerintah selanjutnya tampak menguntungkan kepentingan kelompok tertentu.

Selanjutnya, penting untuk menyoroti konteks historis. NU selama ini menegaskan posisi sebagai organisasi yang mengedepankan toleransi dan moderasi. Keterlibatan langsung presiden dalam struktur keanggotaan formal dapat menimbulkan tekanan internal bagi NU untuk menyesuaikan sikap politiknya, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi kebijakan publik, misalnya dalam bidang pendidikan pesantren atau regulasi keagamaan.

Terakhir, dari sudut pandang strategi kampanye, kartu seumur hidup ini memberi Prabowo “paspor politik” yang tidak mudah dicabut. Ia dapat mengklaim legitimasi keagamaan tanpa harus melalui proses formal keanggotaan yang biasanya memakan waktu. Ini menjadi keunggulan kompetitif menjelang pemilihan berikutnya, terutama di daerah-daerah dengan mayoritas penduduk NU. Namun, keunggulan ini harus diimbangi dengan kebijakan yang benar‑benar mencerminkan nilai‑nilai moderasi NU, bukan sekadar simbol untuk menggaet suara.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa arti KARTANU bagi seorang non‑anggota NU?
    A: KARTANU menandakan keanggotaan resmi dalam organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, memberi hak istimewa dalam pertemuan, jaringan, dan potensi pengaruh politik.
  • Q: Apakah penerimaan KARTANU oleh Presiden Prabowo menimbulkan konflik kepentingan?
    A: Secara formal tidak ada larangan, namun secara etika dapat menimbulkan persepsi bahwa keputusan pemerintah dipengaruhi oleh kepentingan organisasi keagamaan.
  • Q: Bagaimana reaksi anggota NU terhadap pemberian kartu seumur hidup kepada Prabowo?
    A: Reaksi beragam; sebagian melihatnya sebagai penghargaan, sementara yang lain khawatir akan politisasi organisasi dan potensi tekanan pada kebijakan internal NU.
Meow! Tanya Nesi!
😸