6.000 Penampil Banjiri Lampung: Tapis Tradisional Jadi Magnet Ekonomi di Krakatau 2026

Ringkasan Singkat
- Lebih dari 6.000 peserta memeriahkan puncak Krakatau 35 di Bandar Lampung.
- Festival menonjolkan pelestarian kain Tapis melalui parade budaya berskala besar.
- Acara dipublikasikan dalam program Evening Up CNBC Indonesia, menambah eksposur wisata dan potensi ekonomi regional.
Jakarta, CNBC Indonesia – Pada Sabtu (30/08/2026), Bandar Lampung menjadi saksi gemerlapnya Krakatau 35, festival tahunan yang kini menampilkan lebih dari 6.000 peserta dalam rangkaian tapis karnaval yang memadukan seni tradisional dengan atraksi modern. Parade ini tidak hanya menjadi panggung budaya, melainkan juga platform komersial bagi para pengrajin, UMKM, dan investor yang menargetkan pasar wisata kreatif.
Penggunaan kain Tapis – warisan tekstil khas Lampung – menjadi sorotan utama. Selama tiga hari, ribuan penonton lokal dan mancanegara menyaksikan pertunjukan yang menampilkan motif-motif etnik, sekaligus mengakses stan-stand penjualan produk turunan Tapis, mulai dari fashion hingga souvenir premium. Penjualan langsung diproyeksikan mencapai Rp 12 miliar, menggerakkan rantai pasok bahan baku, logistik, dan layanan hospitality.
Menurut data yang dirilis oleh Dinas Pariwisata Lampung, kunjungan wisatawan selama festival meningkat 27% dibandingkan edisi sebelumnya. Dampak ekonomi tidak hanya terbatas pada sektor pariwisata; sektor Krakatau juga memicu peningkatan permintaan transportasi, akomodasi, serta layanan digital (ticketing, live streaming). Hal ini membuka peluang bagi startup fintech dan e‑commerce yang ingin mengintegrasikan pembayaran non‑tunai di event berskala besar.
Analisis Pakar
Sebagai pakar ekonomi makro dan pengamat industri kreatif, saya menilai bahwa keberhasilan Krakatau 35 bukan sekadar fenomena budaya, melainkan contoh konkret dari strategi diversifikasi ekonomi daerah. Lampung selama ini bergantung pada sektor pertambangan dan agrikultur; namun, dengan mengangkat Tapis ke panggung nasional, pemerintah daerah berhasil menciptakan nilai tambah yang bersifat “cultural branding”.
Penguatan brand ini berpotensi meningkatkan daya tarik investasi jangka panjang. Investor akan melihat peluang dalam pengembangan kawasan kreatif, inkubator desain, serta pelatihan keahlian bagi generasi muda. Selain itu, integrasi teknologi – misalnya platform e‑commerce khusus produk Tapis – dapat memperluas pasar ke luar Pulau Jawa, mengurangi ketergantungan pada perantara tradisional.
Dari perspektif fiskal, peningkatan transaksi selama festival berkontribusi pada penerimaan pajak daerah, khususnya pajak hotel, restoran, dan pajak pertambahan nilai (PPN) atas penjualan barang kerajinan. Jika dikelola dengan baik, pendapatan tambahan ini dapat dialokasikan untuk program pelestarian budaya dan infrastruktur pendukung, menciptakan siklus positif antara budaya dan pertumbuhan ekonomi.
Namun, tantangan tetap ada. Skalabilitas produksi Tapis harus diimbangi dengan standar kualitas dan sertifikasi halal budaya, agar tidak mengorbankan keaslian demi volume. Pemerintah perlu membangun ekosistem yang melindungi hak kekayaan intelektual (HKI) pengrajin, sekaligus menyediakan akses pembiayaan mikro yang terjangkau. Tanpa kebijakan yang tepat, risiko komersialisasi berlebih dapat mengikis nilai budaya yang menjadi inti festival.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Berapa estimasi nilai ekonomi yang dihasilkan oleh Krakatau 35?
A: Diperkirakan mencapai sekitar Rp 12‑15 miliar dari penjualan langsung, ditambah peningkatan pajak daerah sekitar Rp 3 miliar. - Q: Bagaimana cara pengrajin Tapis dapat memanfaatkan peluang pasar pasca‑festival?
A: Pengrajin dapat bergabung dengan platform e‑commerce, mengikuti program pelatihan desain modern, dan mengajukan hak cipta untuk melindungi motif tradisional. - Q: Apa langkah pemerintah daerah untuk mendukung industri kreatif setelah acara?
A: Pemerintah berencana membentuk zona ekonomi kreatif, menyediakan insentif pajak, serta memperkuat infrastruktur digital dan logistik di Lampung.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

DJP Klarifikasi: GOTO dan Lazada Bukan Pemungut Pajak Digital, Cakupan SPP-TDLN Masih Terbatas

Bahlil Tutup Akses Ekspor Listrik ke Singapura, Perintahkan Danantara Tolak Lobi

Andalkan Empat Segmen Bisnis, Telkom Rebut Target Laba Bersih Rp14,4 T di Kuartal III 2026
