Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Sisi Lain Ledakan E-Commerce: Kisah Bertahan Hidup Korban PHK di Balik Gurita Bisnis Marketplace

EkonomiDian KusumaDian KusumaSumber: CNN Nasional
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Sisi Lain Ledakan E-Commerce: Kisah Bertahan Hidup Korban PHK di Balik Gurita Bisnis Marketplace
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Katup Penyelamat Ekonomi: Pasangan suami istri korban PHK di Depok bertahan hidup dengan merintis bisnis 'Cireng Asik', memanfaatkan platform digital setelah berbagai usaha konvensional mereka menemui jalan buntu.
  • Strategi Melawan Perang Harga: Pelaku usaha kreatif seperti 'Temali' menyiasati persaingan ketat di marketplace dengan menawarkan nilai seni (value art) dan teknik pembuatan manual guna menghindari komoditisasi produk murah.
  • Dominasi Usaha Mikro: Data BPS 2024 mencatat ada 4,40 juta usaha e-commerce di Indonesia, di mana 97,38 persen di antaranya merupakan usaha mikro yang lahir dari desakan ekonomi bertahan hidup.

Laju gelombang pemutusan hubungan kerja yang terus menghantam sektor industri formal di Indonesia memaksa kelas pekerja memutar otak demi menyambung hidup. Di tengah sempitnya lapangan pekerjaan, sektor informal dan digitalisasi menjelma menjadi jaring pengaman sosial yang krusial. Fenomena ini terekam jelas dalam perjuangan Ika Safitri (27) dan suaminya, Harun, warga asal Kota Depok, Jawa Barat.

Setelah Harun menjadi korban PHK, pasangan ini sempat terombang-ambing dalam ketidakpastian ekonomi. Berbagai usaha mereka coba namun selalu kandas. Hingga pada tahun 2024, bermodalkan uang Rp2 juta, mereka memutuskan untuk menjual cireng isi—sebuah kudapan tradisional yang dinilai memiliki daya tahan pasar tinggi karena bukan merupakan produk musiman atau sekadar tren viral sesaat.

Perjalanan mereka tidak mudah. Memulai dari nol, Harun harus bergerilya di grup-grup media sosial untuk mempelajari formula adonan aci yang tepat. Awalnya, mereka menjajakan produk secara konvensional di depan sekolah dasar dengan target pasar anak-anak. Namun, keterbatasan fisik dan waktu memaksa mereka mencari alternatif lain agar bisnis ini bisa menopang kebutuhan dapur secara konsisten.

Titik balik terjadi ketika mereka memutuskan untuk merambah marketplace Shopee dengan mengusung jenama 'Cireng Asik'. Tantangan logistik seperti produk yang cepat basi di perjalanan sempat membayangi. Melalui serangkaian eksperimen, Ika menemukan solusi teknis: menggoreng cireng setengah matang dan mengemasnya dengan metode vakum udara. Langkah inovatif ini berhasil memperluas jangkauan pasar mereka hingga ke luar Pulau Jawa, meningkatkan omzet harian hingga Rp800 ribu, dengan porsi penjualan online mendominasi hingga 60 persen.

Kisah serupa tapi tak sama dialami oleh Dinda (25), pemilik jenama gelang handmade 'Temali'. Memulai bisnis sejak usia 18 tahun pada 2019, Dinda memanfaatkan platform digital untuk memasarkan produk kerajinan tangan otodidak miliknya. Di tengah gempuran produk impor massal berharga murah di marketplace, Dinda memilih jalan sunyi yang berani: mempertahankan harga premium (Rp45.000 hingga Rp155.000) dengan mengedepankan kualitas bahan impor dan teknik rajut manual (hand stitching) yang tidak bisa direplikasi oleh mesin pabrikan.

Langkah Dinda membuktikan bahwa segmentasi pasar yang tepat dan narasi produk yang kuat mampu menciptakan loyalitas konsumen, bahkan di tengah ekosistem digital yang sangat sensitif terhadap harga.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis yang telah mengamati dinamika ekonomi nasional selama puluhan tahun, saya melihat fenomena Cireng Asik dan Temali bukan sekadar cerita sukses pelaku UMKM biasa. Ini adalah potret nyata dari apa yang saya sebut sebagai 'survivalist entrepreneurship'—kewirausahaan yang lahir bukan karena pilihan bebas atau perencanaan bisnis yang matang, melainkan karena desakan absolut untuk bertahan hidup akibat kegagalan negara dalam menyediakan lapangan kerja formal yang layak.

Data BPS yang menunjukkan bahwa 97,38 persen dari 4,40 juta pelaku e-commerce di Indonesia adalah usaha mikro merupakan alarm keras. Angka ini mengonfirmasi adanya deindustrialisasi prematur, di mana sektor informal digital menjadi penampung terakhir (employer of last resort) bagi para korban PHK. Nilai transaksi digital yang menembus Rp1.288,93 triliun memang tampak menggiurkan di atas kertas, namun kita harus kritis melihat seberapa besar kue ekonomi tersebut yang benar-benar dinikmati oleh pelaku usaha mikro seperti Ika dan Dinda, dibandingkan dengan komisi serta biaya layanan yang ditarik oleh raksasa platform teknologi.

Ketergantungan yang sangat tinggi pada satu atau dua marketplace besar juga menyimpan risiko sistemik. Algoritma platform yang dinamis dan kerap berubah tanpa pemberitahuan transparan dapat dengan mudah menenggelamkan toko online kecil dalam semalam. Selain itu, masalah klasik seperti rantai pasok dingin (cold chain logistics) yang mahal masih menjadi batu sandungan utama bagi pelaku usaha kuliner mikro untuk melakukan ekspansi nasional secara mandiri.

Pemerintah tidak boleh hanya bangga dengan angka pertumbuhan ekonomi digital yang fantastis. Diperlukan intervensi struktural yang nyata, mulai dari regulasi tarif komisi platform yang adil bagi usaha mikro, penyediaan infrastruktur logistik murah, hingga perlindungan hukum dari serbuan barang impor ilegal yang merusak harga pasar. Tanpa proteksi tersebut, jutaan pelaku usaha mikro kita hanya akan menjadi penonton di tengah pesta pora kapitalisme digital global.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Bagaimana cara Cireng Asik mengatasi masalah pengiriman luar kota agar produk tidak basi?
A: Mereka menerapkan metode penggorengan setengah matang dan menggunakan teknologi kemasan vakum (vacuum packaging) untuk menjaga kualitas produk tetap segar selama proses pengiriman.

Q: Mengapa produk gelang Temali tetap laku meskipun harganya jauh lebih mahal dibanding kompetitor di marketplace?
A: Karena Temali fokus pada nilai seni (value art), menggunakan bahan baku impor berkualitas tinggi, dan menerapkan teknik pembuatan manual (hand stitching) yang tidak bisa diproduksi secara massal oleh mesin.

Q: Apa yang ditunjukkan oleh data BPS 2024 terkait peta jalan e-commerce di Indonesia?
A: Data menunjukkan pertumbuhan unit usaha e-commerce mencapai 4,40 juta (naik 15,30%), namun mayoritas mutlak (97,38%) didominasi oleh usaha mikro, yang menandakan bahwa sektor digital kini menjadi tumpuan utama ekonomi akar rumput.

Meow! Tanya Nesi!
😸