Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Lamongan Menangkap Air: 94% Sawah Diselamatkan dari Ancaman El Nino

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNBC Indonesia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Lamongan Menangkap Air: 94% Sawah Diselamatkan dari Ancaman El Nino
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • 3.233 hektare dari 3.450 hektare lahan padi di Lamongan berhasil teraliri air, mencapai 94% penanganan kekeringan akibat El Nino.
  • Penangkapan air dilakukan melalui optimalisasi pompanisasi dan normalisasi saluran irigasi, dengan kontribusi besar dari Kecamatan Kalitengah (1.855 hektar).
  • Sisa 217 hektare masih dalam proses, terutama di Kecamatan Turi dan Sugio, dan terus dipantau untuk penyelesaian cepat.

Kementerian Pertanian melaporkan bahwa, per 29 Agustus 2026, upaya mitigasi dampak El Nino di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, telah menghasilkan hasil yang memuaskan. Dari total 3.450 hektare lahan padi yang terdampak kekeringan di tujuh kecamatan, seluas 3.233 hektare telah berhasil teraliri air melalui kombinasi pompanisasi dan normalisasi saluran irigasi.

Di Kecamatan Dekat, lahan berumur 40–45 hari setelah tanam seluas 397 hektare telah teraliri 380 hektare, menyisakan 17 hektare yang masih dalam penanganan. Sementara itu, Kecamatan Karang Binangun dengan luas terdampak 248 hektare pada tanaman berumur 30–40 hari telah tuntas teraliri seluruhnya.

Kecamatan Glagah mencatat penanganan tuntas untuk 15 hektare lahan berumur 46–60 hari, dan Kecamatan Kalitengah mencatat capaian terluas sebesar 1.855 hektare lahan berumur 0–40 hari yang telah teratasi sepenuhnya melalui kombinasi pompanisasi dan perbaikan jaringan.

Namun, Kecamatan Turi masih menyisakan pekerjaan terbesar: dari 791 hektare lahan terdampak berumur 0–45 hari, baru 622 hektare yang teraliri, sedangkan 169 hektare masih memerlukan penanganan lanjutan. Di Kecamatan Sukodadi, penanganan tuntas untuk 50 hektare lahan berumur 25–30 hari telah selesai, sedangkan di Kecamatan Sugio, dari 94 hektare lahan berumur 25–45 hari, telah teraliri 63 hektare dengan sisa 31 hektare dalam proses.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa strategi menghadapi kekeringan lahan akibat El Nino telah disiapkan sejak awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, dengan pompanisasi dan perbaikan jaringan irigasi sebagai instrumen utama.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Pertanian, Arief Cahyono, menambahkan bahwa capaian pengairan 3.233 hektare dari total 3.450 hektare lahan terdampak menunjukkan langkah cepat jajaran di lapangan, dan menegaskan bahwa sisa 217 hektare, khususnya di Kecamatan Turi dan Sugio, terus dikawal agar segera tuntas.

Keberhasilan ini tidak lepas dari sinergi lintas instansi yang melibatkan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo, Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten Lamongan, serta jajaran Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten Lamongan dan Penanggung Jawab Swasembada Pangan.

Analisis Pakar

Sebagai pakar ekonomi makro, saya melihat bahwa upaya mitigasi kekeringan di Lamongan bukan hanya soal teknis irigasi, tetapi juga mencerminkan kebijakan fiskal dan moneter yang tepat sasaran. Investasi dalam pompanisasi dan rehabilitasi saluran irigasi merupakan bentuk pengeluaran kapital yang memiliki multiplier efekt tinggi pada ekonomi pedesaan. Dengan mengalihkan anggaran dari subsidi konsumsi ke infrastruktur produktif, pemerintah tidak hanya menjaga produksi padi, tetapi juga menciptakan lapangan kerja langsung bagi tenaga kerja tidak terampil di sektor konstruksi dan pertanian.

Dari perspektib pasokan dan permintaan, penyelamatan 3.233 hektare lahan padi setara dengan menghindari potensi kehilangan produksi sekitar 1,2 juta ton padi gabah (asumsi rata-rata 3,7 ton/ha). Hal ini berarti stabilitas harga konsumen dapat terjaga, mengurangi tekanan inflasi pangan yang biasanya melonjak saat El Nino memicu kekeringan luas. Dalam konteks inflasi inti, stabilitas harga padi berperan sebagai ancoran yang mencegah efek pasokan sekunder pada komoditas lain seperti bahan baku makanan dan minyak.

Namun, saya juga ingin menegaskan bahwa ketergantungan pada pompanisasi sebagai solusi utama memiliki batasan fiskal dan lingkungan. Pompa yang beroperasi terus-menerus mengonsumsi energi listrik atau bahan bakar, yang jika tidak berasal dari sumber terbarukan dapat meningkatkan emisi karbon dan menambah beban subsidi energi. Oleh karena itu, kebijakan lanjutan harus menggabungkan investasi ini dengan adopsi teknologi irigasi hemat air seperti sistem tetes, penampungan air hujan, dan varietas padi yang lebih tolerant terhadap stres kekeringan.

Secara struktural, koordinasi lintas instansi yang ditunjukkan dalam berita ini adalah contoh baik dari pelaksanaan kebijakan berbasis data dan early warning system. Namun, untuk membuat sistem ini lebih resilien, diperlukan mekanisme pendanaan yang lebih berkelanjutan, seperti obligasi hijau atau kerjasama publik‑swasta (PPP) yang dapat menjamin ketersediaan dana untuk pemeliharaan jaringan irigasi di luar masa darurat. Tanpa reformasi institusi yang memperkuat akuntansi dan transparansi penggunaan dana, risiko pengalihan sumber daya ke proyek kurang produktif tetap ada.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa persen lahan padi di Lamongan yang berhasil teraliri dari total yang terdampak El Nino?
    A: 94% (3.233 dari 3.450 hektare).
  • Q: Apa saja teknik utama yang digunakan untuk mengatasi kekeringan lahan di Lamongan?
    A: Optimalisasi pompanisasi dan normalisasi saluran irigasi.
  • Q: Kecamatan mana yang masih memiliki lahan yang belum teraliri dan memerlukan penanganan lanjutan?
    A: Kecamatan Turi dan Sugio, masing‑masing dengan 169 dan 31 hektare yang masih dalam proses.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸