Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Menko Polkam Batal Blokir Aksi 27 Agustus: Polisi Siapkan 200 Personel, TNI Turun ke Lapangan

PolitikBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Menko Polkam Batal Blokir Aksi 27 Agustus: Polisi Siapkan 200 Personel, TNI Turun ke Lapangan
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Menko Djamari Chaniago menegaskan tidak ada penyekatan massa pada aksi 27 Agustus di depan DPR/DPD/MPR RI.
  • Polisi dan TNI menyiapkan total 18.504 personel di Jakarta, sementara Polresta Tangerang menurunkan 200 personel untuk memblokir pergerakan massa dari luar kota.
  • Aliansi Masyarakat Pati Bersatu menuntut pengesahan RUU Perampasan Aset dan hukuman mati bagi koruptor.

Jakarta, 27 Agustus 2024 – Menko Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Djamari Chaniago, menolak keras tudingan bahwa aparat keamanan melakukan penyekatan massa pada aksi demonstrasi yang digelar oleh Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) di depan kompleks DPR/DPD/MPR RI. "Penyekatan itu enggak ada, ya. Masa penyekatan orang menyampaikan aspirasi disekat? Enggak, enggak ada, silakan datang," ujarnya kepada wartawan di kawasan Gelora Bung Karno, Senayan.

Djamari menegaskan bahwa TNI akan mendampingi kepolisian dalam pengamanan, sementara Polda Metro Jaya dan Kodam Jaya akan mengatur arus lalu lintas demi kelancaran aktivitas warga yang tidak ikut demo. "Pengaturan lalu lintas itu memudahkan, jangan sampai masyarakat yang tidak menyampaikan aspirasinya malah terganggu," tambahnya.

Di sisi lain, Polresta Tangerang mengerahkan sekitar 200 personel gabungan (polisi, TNI, Dishub, Satpol PP) untuk melakukan patroli dan penyekatan di titik-titik rawan, termasuk gerbang tol, stasiun kereta, dan jalur perbatasan Gumarang. Kepala Bagian Operasional Polresta Tangerang, Kompol Raden Mochammad Sofian, menekankan bahwa langkah ini bersifat preventif, terutama untuk menahan pelajar SMP dan SMA yang berpotensi ikut aksi.

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Reynold EP Hutagalung, melaporkan kesiapan 18.504 personel di Jakarta Pusat dengan pendekatan humanis: "Anggota yang bertugas tidak membawa senjata api maupun senjata tajam. Kami mengedepankan komunikasi dan persuasif," katanya.

Meski pihak keamanan menyiapkan jaringan pengamanan yang luas, jumlah titik aksi diperkirakan mencapai 86 di seluruh Jakarta. Djamari mengajak semua pihak untuk menjaga situasi tetap aman, menegaskan bahwa demonstrasi merupakan bagian normal dari demokrasi Indonesia.

Analisis Pakar

Penolakan resmi Menko Polkam terhadap tuduhan penyekatan menimbulkan pertanyaan mendasar tentang transparansi aparat keamanan. Di satu sisi, pernyataan tegas Djamari dapat dilihat sebagai upaya menenangkan publik dan menghindari citra otoriter. Namun, fakta bahwa Polresta Tangerang secara aktif menyiapkan penyekatan di luar Jakarta menunjukkan adanya kontradiksi kebijakan antara pusat dan daerah. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah pusat mungkin berusaha menampilkan citra liberal, sementara otoritas lokal lebih fokus pada pencegahan massa yang berpotensi mengganggu ketertiban.

Strategi pengamanan yang mengandalkan 18.504 personel di Jakarta dan 200 personel di Tangerang menandakan skala operasi yang sangat besar untuk sebuah aksi yang secara resmi tidak dilarang. Penggunaan pendekatan "humanis" tanpa senjata tajam memang patut diapresiasi, namun tanpa pengawasan independen, klaim tersebut tetap mudah dipertanyakan. Sejarah panjang Indonesia menunjukkan bahwa istilah "humanis" sering kali menjadi kedok bagi tindakan represif yang tidak tercatat.

Permintaan AMPB untuk pengesahan RUU Perampasan Aset dan hukuman mati bagi koruptor menambah dimensi politik yang sensitif. Jika DPR mengesahkan RUU tersebut, implikasinya tidak hanya pada kebijakan anti‑korupsi, melainkan juga pada hak kepemilikan aset dan perlindungan hukum warga. Tekanan publik melalui aksi massa dapat menjadi katalisator, namun bila disikapi dengan penyekatan atau pembatasan, risiko polarisasi akan meningkat.

Kesimpulannya, meskipun pemerintah menegaskan tidak ada penyekatan, realitas di lapangan menunjukkan adanya upaya preventif yang cukup keras. Pengawasan media, lembaga hak asasi, dan masyarakat sipil menjadi krusial untuk memastikan bahwa kebebasan berpendapat tidak dikorbankan di balik retorika keamanan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Apakah ada penyekatan massa pada aksi 27 Agustus? Menko Polkam menyatakan tidak ada penyekatan, namun Polresta Tangerang menyiapkan penyekatan di titik masuk Jakarta untuk mencegah pergerakan massa.
  • Berapa banyak personel yang dikerahkan untuk mengamankan aksi? Sekitar 18.504 personel di Jakarta Pusat dan tambahan 200 personel gabungan di Tangerang.
  • Apa tuntutan utama Aliansi Masyarakat Pati Bersatu? Mereka menuntut pengesahan RUU Perampasan Aset dan penerapan hukuman maksimal, termasuk pidana mati, bagi koruptor.
Meow! Tanya Nesi!
😸