Mau Motor Listrik Nasional? Ini 4 Syarat Ketat yang Bikin Hanya Alva & Gesits Lolos!

Ringkasan Singkat
- Motor Listrik Nasional (Molinas) harus penuhi TKDN >60%, desain dalam negeri, baterai nikel, dan harga bersaing.
- Hanya Alva dan Gesits yang lolos hingga kini, sementara pasar motor listrik Indonesia masih di bawah 0,2%.
- Proyeksi permintaan 1,5 juta unit pada 2028 menantang kapasitas produksi 100 ribu unit per tahun, tapi potensi penghematan subsidi BBM hingga Rp82,2 triliun.
Jakarta, 27 Agustus 2026 – Pemerintah lewat Kemenko Perekonomian menegaskan bahwa tidak semua motor listrik buatan dalam negeri otomatis dapat mengusung label Motor Listrik Nasional (Molinas). Empat kriteria keras telah disematkan, menyiapkan ekosistem yang bukan sekadar jualan unit, melainkan menumbuhkan rantai nilai lengkap dari design hingga after‑sales.
1. Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) >60 %. Ini mencakup komponen kritis seperti powertrain (motor listrik, inverter, kontroler), rangka atau struktur utama, serta bagian plastik dan body panel. Tanpa pencapaian ini, motor tidak dapat mengklaim status Molinas.
2. Desain dan rekayasa harus dikembangkan di dalam negeri. Artinya, tim R&D lokal harus memimpin seluruh proses konseptual, simulasi struktural, hingga validasi prototipe. Kolaborasi dengan universitas teknik dan lembaga riset menjadi keharusan.
3. Baterai berbasis nikel. Pemerintah menargetkan penggunaan kimia nikel‑kobalt‑mangan (NCM) atau nikel‑besi‑fosfat (NFP) untuk mempercepat hilirisasi bahan baku, mengurangi ketergantungan pada impor lithium, serta menambah nilai tambah pada rantai pasok domestik.
4. Harga terjangkau. Motor harus kompetitif di pasar domestik yang sensitif harga, dengan target harga jual yang dapat bersaing dengan skuter bensin 110‑125 cc.
Saat ini, hanya dua merek dalam negeri yang berhasil menembus gerbang Molinas: Alva dan Gesits. Kedua brand ini telah menyiapkan lini produksi yang memenuhi keempat syarat, sekaligus menggarap jaringan distribusi dan layanan purna jual.
Data pasar menunjukkan 145,25 juta unit motor konvensional beredar di Indonesia, sementara motor listrik baru menembus 229.554 unit hingga Desember 2025. Namun, forecast Kemenko Perekonomian memperkirakan lonjakan tajam: 1,5 juta unit permintaan motor listrik pada 2028. Angka ini melampaui target produksi Molinas yang saat ini berada di 100 ribu unit per tahun.
Jika skenario optimal tercapai – 11 juta unit beroperasi pada 2037 – program ini dapat menghemat subsidi BBM hingga Rp82,2 triliun (2027‑2037). Lebih jauh, nilai ekonomi yang dihasilkan diproyeksikan mencapai Rp150 triliun (2026‑2031) dan menciptakan sekitar 215 ribu lapangan kerja di sektor manufaktur, komponen, baterai, serta infrastruktur pengisian daya. Substitusi impor minyak diperkirakan menambah surplus neraca perdagangan senilai Rp45 triliun.
Analisis Pakar
Sebagai seorang reviewer otomotif yang telah menelusuri ribuan motor, saya melihat bahwa empat syarat Molinas bukan sekadar formalitas birokrasi, melainkan upaya strategis untuk menutup kesenjangan teknologi. TKDN >60 % menuntut produsen lokal menguasai pembuatan motor listrik, gearbox, dan rangka – area yang selama ini didominasi impor. Ini menuntut investasi besar pada mesin CNC, peralatan pengujian struktural, serta fasilitas cell‑manufacturing baterai.
Penggunaan baterai nikel memang logis mengingat cadangan nikel Indonesia yang melimpah. Namun, tantangan tetap ada: stabilitas rantai pasok nikel, kontrol kualitas kimia, dan kebutuhan infrastruktur proyek sampah menjadi listrik. Tanpa standar yang ketat, kita berisiko menimbulkan masalah lingkungan yang sama beratnya dengan emisi CO₂.
Harga terjangkau menjadi batu ujian terbesar. Saat ini, motor listrik premium masih berada di kisaran Rp30‑40 juta, jauh di atas skuter bensin 110 cc yang dibanderol Rp5‑7 juta. Untuk menurunkan biaya, produsen harus mengoptimalkan desain modular, memanfaatkan platform sharing antara model, serta mengadopsi proses lean manufacturing. Pemerintah dapat mempercepat ini lewat insentif pajak pada komponen lokal dan subsidi R&D.
Akhirnya, potensi pasar yang dijanjikan – 1,5 juta unit pada 2028 – menuntut kapasitas produksi yang melampaui target 100 ribu unit. Ini berarti perluasan pabrik, kolaborasi lintas‑industri, dan pembentukan ekosistem charging‑as‑a‑service. Jika tidak, kita akan menyaksikan bottleneck produksi yang justru memperlambat adopsi massal, mengakibatkan ketergantungan kembali pada impor motor listrik dari luar negeri.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa itu status Motor Listrik Nasional (Molinas)?
A: Molinas adalah label resmi pemerintah bagi motor listrik buatan dalam negeri yang memenuhi empat kriteria: TKDN >60 %, desain lokal, baterai nikel, dan harga terjangkau. - Q: Mengapa baterai berbasis nikel dipilih untuk Molinas?
A: Karena Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, sehingga penggunaan NCM atau NFP dapat mengurangi impor lithium, menambah nilai tambah pada rantai pasok domestik, dan mendukung hilirisasi mineral. - Q: Berapa target produksi tahunan motor listrik Molinas?
A: Saat ini pemerintah menargetkan produksi sekitar 100 ribu unit per tahun, meski proyeksi permintaan pada 2028 diperkirakan mencapai 1,5 juta unit.
BERITA TERKAIT (Otomotif)

AISI Dorong Konsep Multiteknologi, Solusi Nyata Di Tengah Kendala Motor Listrik di Indonesia

Polisi Gencar Kejar Pengendara Knalpot Brong, Ancam Pidana Kurungan Sebulan dan Denda

Veda Ega Naik ke Posisi Ketujuh Klasemen Moto3 2026 Usai Podium di Malaysia
