Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Banjir Bandang Nepal‑Tibet Bikin Ratusan Tewas, Ribuan Wisatawan Hilang – Dampak Besar pada Pariwisata dan Infrastruktur Regional

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNBC Indonesia
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Banjir Bandang Nepal‑Tibet Bikin Ratusan Tewas, Ribuan Wisatawan Hilang – Dampak Besar pada Pariwisata dan Infrastruktur Regional
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Longsor material es‑batu di perbatasan Nepal‑Tibet memicu banjir bandang yang menewaskan setidaknya 157 orang.
  • Lebih dari 400 wisatawan, termasuk 340 warga asing, masih belum ditemukan.
  • Kerusakan meluas ke rumah, jalan, pembangkit listrik, serta jalur ziarah KailashManasarovar, mengancam pendapatan pariwisata regional.

Jakarta, CNBC Indonesia – Pada Rabu (26/8/2026), material lumpur dan batu yang terlepas dari lereng gunung di perbatasan Gyirong, Tibet, mengalir deras ke sungai Lhende dan meluncur menuruni lembah Nepal. Banjir bandang yang terjadi menewaskan sedikitnya 157 orang dan menelan ratusan wisatawan yang sedang menunaikan ziarah ke KailashManasarovar.

Video yang telah diverifikasi memperlihatkan puluhan orang terseret arus di zona perbatasan. Otoritas di kedua sisi memperkirakan angka korban dapat meningkat signifikan, sementara kerusakan pada infrastruktur – rumah, jalan, dan proyek pembangkit listrik tenaga air – sangat luas.

Menurut penyintas berusia 68 tahun, KeshavPrasadBaral, aliran lumpur menghantam rumahnya dalam hitungan detik. “Saya berhasil mengangkat istri ke teras, namun ia tersapu lumpur,” ujarnya dalam wawancara di rumah sakit kecil setempat. Ia selamat berkat bantuan helikopter, namun istri dan banyak warga lain masih terperangkap di bawah material longsor.

Petugas masih melakukan pencarian intensif, mengevakuasi jenazah, dan mengidentifikasi korban. Hingga malam Rabu, polisi Nepal telah menemukan 157 jenazah. Sementara itu, Kementerian Pariwisata Nepal melaporkan lebih dari 400 wisatawan hilang, termasuk 133 warga India, 47 warga Amerika Serikat, 34 warga Inggris, 33 warga Australia, dan 24 warga Kanada.

Di sisi China, laporan Xinhuanet mencatat tiga korban tewas dan 265 orang masih hilang di wilayah Gyirong. Operasi penyelamatan masih berlangsung, namun akses jalan, komunikasi, dan jaringan listrik di daerah Shigatse terputus total.

Analisis satelit dari Planet Labs mengindikasikan bahwa longsoran es‑batu memicu gelombang air yang membawa debris dalam jumlah besar ke sungai Lhende. Gempa berkekuatan 4,4 magnitudo yang tercatat tujuh menit sebelum kejadian kemungkinan menjadi pemicu utama kegagalan gletser.

Akibat banjir, otoritas India bagian utara (Uttar Pradesh dan Bihar) mengeluarkan peringatan banjir dan mengevakuasi ribuan penduduk di daerah aliran sungai yang terhubung dengan Nepal.

Analisis Pakar

Tragedi ini menyoroti kerentanan infrastruktur kritis di kawasan pegunungan Himalaya yang sangat bergantung pada iklim ekstrem dan geologi tidak stabil. Dari perspektif ekonomi makro, dampak langsung pada sektor pariwisata dapat menggerus pendapatan regional hingga puluhan juta dolar dalam jangka pendek. Jalur ziarah KailashManasarovar setiap tahun menyumbang lebih dari US$200 juta bagi ekonomi lokal Nepal dan Tibet melalui akomodasi, transportasi, serta layanan pendukung lainnya. Penutupan jalur selama minimal satu musim dapat menurunkan pendapatan tersebut secara signifikan, memaksa pemerintah daerah mencari sumber pembiayaan darurat.

Selanjutnya, kerusakan pada pembangkit listrik tenaga air menambah beban pada sistem energi nasional Nepal, yang sudah berjuang mencapai target 30% energi terbarukan pada 2030. Hilangnya kapasitas pembangkit tidak hanya mengurangi pasokan listrik domestik, tetapi juga menghambat ekspor listrik ke India – sebuah komponen penting dalam neraca perdagangan energi Nepal.

Di sisi keuangan, asuransi properti dan risiko bencana di wilayah ini diperkirakan akan mengalami lonjakan premi. Perusahaan asuransi internasional yang menanggung proyek infrastruktur di Himalaya harus menyesuaikan model risiko mereka, mengingat frekuensi kejadian geofisika yang meningkat akibat perubahan iklim. Investor asing yang menilai proyek infrastruktur di kawasan ini perlu menambahkan faktor “climate‑risk premium” dalam perhitungan NPV mereka.

Terakhir, bencana ini menegaskan pentingnya koordinasi lintas‑negara dalam manajemen risiko bencana. Nepal, China, dan India harus mengembangkan sistem peringatan dini terintegrasi, berbagi data satelit, serta menyusun protokol evakuasi bersama. Tanpa kerjasama regional, biaya sosial‑ekonomi dari bencana serupa akan terus melambung, menggerus pertumbuhan ekonomi dan menurunkan kepercayaan investor pada kawasan Himalaya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa jumlah korban tewas dan hilang akibat banjir bandang Nepal‑Tibet?
    A: Hingga kini, setidaknya 157 orang telah dikonfirmasi tewas, dan lebih dari 400 wisatawan, termasuk ratusan warga asing, masih belum ditemukan.
  • Q: Apa penyebab utama bencana ini?
    A: Longsoran material es‑batu dan lumpur yang dipicu oleh gempa berkekuatan 4,4 magnitudo, yang menyebabkan gletser runtuh dan mengalir ke sungai Lhende.
  • Q: Bagaimana bencana ini memengaruhi sektor pariwisata dan ekonomi regional?
    A: Penutupan jalur ziarah utama mengancam pendapatan pariwisata tahunan lebih dari US$200 juta, serta menambah beban pada infrastruktur energi dan meningkatkan premi asuransi risiko bencana.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸