Tri Tito Karnavian Pujian Pameran Roepa Merdeka: Janji Besar untuk Ekonomi Kreatif, Tapi Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Ringkasan Singkat
- Pameran instalasi "Roepa Merdeka" dibuka oleh Tri Tito Karnavian di Balai Sudirman, Jakarta, 26 Agustus 2024.
- Acara digagas oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) bersama Badan Intelijen Negara, menargetkan pemberdayaan perempuan dan pelestarian warisan budaya.
- Tri menyoroti data BPS yang menyebutkan hampir 25 juta tenaga kerja di sektor seni, namun menuntut dukungan kebijakan pemerintah yang konsisten agar potensi tersebut tidak hanya menjadi angka semata.
Jakarta – Pada Rabu (26/8), Tri Tito Karnavian, Ketua Harian Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), resmi membuka Pameran Instalasi Roepa Merdeka di Balai Sudirman. Pameran yang menampilkan karya berbasis serat dan benang ini diprakarsai oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) bekerja sama dengan Badan Intelijen Negara (BIN), dijadikan ajang sekaligus simbol upaya memperkuat sektor ekonomi kreatif sekaligus menghidupkan semangat Bulan Kemerdekaan.
Dalam sambutannya, Tri menegaskan bahwa ruang ekspresi bagi seniman lokal masih jauh dari cukup. Ia menyoroti keunikan instalasi seni yang “lahir dari imajinasi bebas”, menggabungkan estetika visual dengan keahlian teknis yang menuntut pemecahan masalah. Menurutnya, proses kreatif tidak hanya menghasilkan produk, melainkan juga berfungsi sebagai terapi emosional bagi pembuatnya.
Namun, di balik pujian tersebut, data BPS yang dikelola Kementerian Ekonomi Kreatif mengungkap fakta mengejutkan: hampir 25 juta orang terdaftar sebagai pekerja di bidang seni dan kreatif. Angka ini menimbulkan pertanyaan serius tentang sejauh mana kebijakan pemerintah mampu menampung, melindungi, dan memonetisasi tenaga kerja yang begitu besar. "Mungkin memang pekerja seni ini banyak macamnya," ujar Tri, seolah mengakui keragaman yang belum terstruktur.
Tri berharap pameran serupa dapat menjadi agenda rutin setiap Agustus, tidak hanya sebagai perayaan kemerdekaan, tetapi juga sebagai platform pemberdayaan perempuan—yang ia sebut sebagai “tiang negara”. Ia menekankan bahwa penjualan karya DWP‑BIN akan disalurkan ke program sosial, meski tidak dijelaskan secara rinci mekanisme penyalurannya.
Secara keseluruhan, pameran ini menyoroti dua agenda penting: penguatan ekonomi kreatif dan pengakuan peran perempuan dalam melestarikan warisan budaya. Namun, tanpa dukungan kebijakan yang terukur, inisiatif ini berisiko menjadi sekadar “showcase” yang tidak menghasilkan dampak struktural bagi jutaan pekerja seni di Indonesia.
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat pameran Roepa Merdeka sebagai contoh klasik “kebijakan simbolik” yang sering dipakai pemerintah untuk menutup mata pada masalah struktural. Penekanan pada “kreativitas” dan “pemberdayaan perempuan” memang patut diapresiasi, namun tidak ada data konkret yang menunjukkan bagaimana pameran ini akan mengubah realitas ekonomi 25 juta pekerja seni. Tanpa mekanisme pendanaan yang transparan, alokasi hasil penjualan karya ke program sosial tetap menjadi janji kosong.
Lebih jauh, kolaborasi antara DWP dan BIN menimbulkan pertanyaan tentang motivasi di balik keterlibatan lembaga intelijen dalam sektor budaya. Apakah ini upaya soft power untuk mengendalikan narasi budaya, atau sekadar sponsor biasa? Keterlibatan BIN harus diusut lebih dalam, terutama bila dana publik atau sumber daya negara terlibat dalam proyek seni yang pada dasarnya bersifat komersial.
Data BPS yang disebutkan Tri memang mengesankan, namun tidak ada analisis tentang distribusi geografis, tingkat pendapatan, atau akses pasar bagi para seniman. Tanpa kebijakan yang menargetkan pelatihan bisnis, perlindungan hak cipta, dan akses ke platform digital, pameran semacam ini hanya akan menguntungkan segmen elit kreatif yang sudah memiliki jaringan.
Terakhir, agenda pemberdayaan perempuan yang diangkat dalam tema pameran harus diiringi dengan program konkret: beasiswa, pelatihan kewirausahaan, dan jaminan sosial. Tanpa itu, “merayakan perempuan” tetap menjadi slogan retoris yang tidak mengubah status ekonomi perempuan kreatif yang masih rentan. Pemerintah dan lembaga terkait perlu menyusun roadmap jangka panjang, bukan sekadar menggelar pameran tahunan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Siapa penyelenggara utama Pameran Roepa Merdeka?
A: Pameran digagas oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) bekerja sama dengan Badan Intelijen Negara (BIN). - Q: Berapa jumlah tenaga kerja di sektor seni dan ekonomi kreatif menurut data BPS?
A: Sekitar 25 juta orang, menurut data BPS yang dikelola Kementerian Ekonomi Kreatif. - Q: Apa yang akan dilakukan dengan penjualan karya selama pameran?
A: Hasil penjualan akan disalurkan untuk mendukung berbagai aksi dan program sosial, meskipun detail mekanisme penyalurannya belum dipublikasikan.
BERITA TERKAIT (Ekonomi)

Neraca Dagang RI Cetak Surplus 10,61 Miliar Dolar AS Jan-Sep 2026, Ekspor Kuat Jaga Stabilitas

BPS: Lonjakan Harga Cabai dan Beras Dorong Inflasi Oktober 2026 Capai 0,22 Persen

BPS Catat Ekspor RI Januari-September 2026 Tembus US$221,23 Miliar, Didorong Lonjakan Komoditas Unggulan
