Transformasi Himbara Bikin Laba BUMN Meroket: COO Danantara Puji BRI, Mandiri, dan BNI

Ringkasan Singkat
- COO Danantara (COO Danantara) memuji transformasi Himbara yang menghasilkan profit tinggi dalam enam bulan terakhir.
- Penurunan cost of fund BRI menjadi katalis utama rebalance portofolio aset dan peningkatan margin.
- Bank Mandiri dan BNI juga menunjukkan kekuatan tim muda, memperkuat prospek perbankan BUMN ke depan.
Jakarta, 26 Agustus 2026 – Dalam Danantara BUMN Progress Update (reformasi BUMN), Donny Oskaria, Chief Operating Officer (COO) sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN), menegaskan kebanggaannya atas transformasi Himbara. Ia menyoroti bahwa hasilnya tidak hanya terlihat pada angka laba, tetapi juga pada efisiensi operasional dan konsistensi struktur organisasi di seluruh bank milik negara.
Transformasi dimulai dari sisi pendanaan. BRI berhasil menurunkan cost of fund secara signifikan, memungkinkan bank tersebut melakukan rebalancing portofolio aset dengan margin yang lebih lebar. “Turunnya cost of fund sebesar 1% saja memerlukan upaya luar biasa. BRI sudah menurunkan biaya pendanaan secara dramatis, dan ini langsung berimbas pada profitabilitas,” ujar Dony.
Selain BRI, Bank Mandiri dan BNI juga menonjolkan tim manajemen yang kuat. Mandiri, khususnya, dipimpin oleh generasi bankir muda di bawah usia 50 tahun, termasuk corporate banking director, HR director, dan treasury director yang semuanya masih berusia relatif muda. “Mereka adalah bankir masa depan kita, dengan energi dan inovasi yang diperlukan untuk bersaing di era digital,” tambah Dony.
Secara keseluruhan, Dony menilai bahwa langkah-langkah ini tidak hanya meningkatkan profitabilitas, tetapi juga menjaga risiko tetap terkendali. Ia menutup pernyataannya dengan keyakinan bahwa transformasi serentak di seluruh anggota Himbara akan memperkuat posisi perbankan BUMN di pasar domestik dan internasional.
Analisis Pakar
Transformasi Himbara yang dipimpin oleh BP BUMN bukan sekadar proyek internal; ia merupakan respons strategis terhadap tekanan kompetitif dari bank swasta yang lebih gesit dan fintech yang menggerogoti pangsa pasar tradisional. Penurunan cost of fund yang berhasil dicapai BRI menandakan adanya pergeseran paradigma dalam manajemen likuiditas BUMN. Dengan menurunkan biaya pendanaan, bank dapat meningkatkan net interest margin (NIM) tanpa harus mengorbankan kualitas aset, sebuah kombinasi yang jarang tercapai di sektor perbankan publik.
Namun, keberhasilan ini tidak otomatis menjamin kelangsungan keunggulan. Risiko makroekonomi, terutama volatilitas nilai tukar dan inflasi yang masih tinggi, dapat menggerus margin yang baru saja dipulihkan. Oleh karena itu, penting bagi BUMN untuk memperkuat manajemen risiko, khususnya dalam exposure terhadap kredit korporat yang sensitif terhadap siklus ekonomi.
Di sisi lain, keberadaan tim manajemen muda di Bank Mandiri dan BNI menjadi sinyal positif bagi inovasi produk dan digitalisasi layanan. Generasi ini cenderung lebih terbuka pada kolaborasi dengan fintech, penggunaan data analytics, dan penerapan AI dalam penilaian kredit. Jika dikelola dengan baik, hal ini dapat membuka sumber pendapatan baru, seperti layanan keuangan terintegrasi untuk UMKM dan ekosistem e‑commerce.
Terakhir, konsistensi struktur organisasi di seluruh anggota Himbara memberikan fondasi yang kuat untuk implementasi kebijakan seragam, termasuk standar tata kelola, pelaporan keuangan, dan kebijakan kredit. Ini tidak hanya meningkatkan transparansi bagi regulator, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan investor domestik dan asing yang semakin menuntut akuntabilitas di sektor perbankan BUMN.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa yang dimaksud dengan "cost of fund" dan mengapa penurunannya penting bagi bank?
A: Cost of fund adalah biaya yang dikeluarkan bank untuk memperoleh dana, misalnya melalui deposito atau pinjaman antarbank. Penurunan biaya ini meningkatkan margin keuntungan karena bank dapat menyalurkan dana dengan biaya lebih rendah. - Q: Bagaimana transformasi Himbara memengaruhi risiko kredit BUMN?
A: Transformasi menekankan pada standar penilaian kredit yang lebih ketat dan diversifikasi portofolio, sehingga risiko kredit dapat dikelola lebih baik meski kondisi ekonomi bergejolak. - Q: Apakah generasi muda di Bank Mandiri dan BNI akan mempercepat digitalisasi layanan?
A: Ya, kepemimpinan muda biasanya lebih pro‑aktif dalam mengadopsi teknologi baru, sehingga diharapkan layanan digital, data analytics, dan kolaborasi fintech akan meningkat secara signifikan.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

BPS Catat Surplus Neraca Dagang RI September 2025 Tembus US$3,36 Miliar, Melebihi Ekspektasi Ekonom

PLN Tetapkan Tarif Listrik Non-Subsidi Q4 2026 Tetap, Berikut Daftar 13 Golongan

Doha Jadi Pusat Perundingan Kritis: Iran dan Qatar Dorong Akhir Konflik AS-Israel
