Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

BPS Catat Surplus Neraca Dagang RI September 2025 Tembus US$3,36 Miliar, Melebihi Ekspektasi Ekonom

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNBC Indonesia
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

BPS Catat Surplus Neraca Dagang RI September 2025 Tembus US$3,36 Miliar, Melebihi Ekspektasi Ekonom
BAGIKAN:

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 berhasil membukukan surplus sebesar US$3,36 miliar. Capaian ini didorong oleh nilai ekspor yang tercatat mencapai US$27,59 miliar, sementara nilai impor tercatat lebih rendah, yaitu US$24,23 miliar. Angka tersebut sedikit lebih tinggi daripada konsensus pasar yang semula memproyeksikan penurunan signifikan dibanding bulan sebelumnya.

Pelemahan Surplus Dibanding Agustus

Meskipun berhasil menjaga surplus, capaian September 2026 ini menurun secara signifikan dibandingkan surplus sebesar US$3,55 miliar yang tercatat pada Agustus 2026. Para ekonom memprediksi bahwa pelemahan nilai tukar ini terutama dipicu oleh kenaikan harga minyak global yang mengerek biaya impor energi domestik lebih tinggi dari sisi ekspor.

Exceeding Consensus Estimates

Realisasi surplus September ternyata melampaui estimasi para ekonom terkemuka di Indonesia. Sebelumnya, Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, memproyeksikan surplus hanya akan sekitar US$1,79 miliar. David Sumual, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), memperkirakan angka tersebut di kisaran US$1,52 miliar, sementara Irman Faiz dari Bank Danamon memperkirakan surplus di level US$1 miliar. Fakta bahwa surplus aktual mencapai US$3,36 miliar menunjukkan bahwa kinerja ekspor masih memiliki ketahanan yang lebih baik dari yang diprediksi.

Irman Faiz menjelaskan bahwa proyeksi sebelumnya didasarkan pada tiga faktor utama: kenaikan harga minyak yang memperlebar defisit migas, pemulihan aktivitas manufaktur yang mendorong impor bahan baku, dan normalisasi historis yang membuat ekspor September cenderung turun. Namun, penopang dari perbaikan permintaan manufaktur dan ketahanan volume barang ekspor kemungkinan besar berkontribusi pada hasil akhir yang lebih solid ini.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸