Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

BPI Danantara Siapkan Revolusi BUMN: Dari 1.074 Jadi 254 dalam 2 Tahun!

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

BPI Danantara Siapkan Revolusi BUMN: Dari 1.074 Jadi 254 dalam 2 Tahun!
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Danantara menargetkan penurunan jumlah BUMN dari 1.074 menjadi 254 unit pada akhir 2026 melalui likuidasi, divestasi, konsolidasi, dan restrukturisasi.
  • 52% BUMN tercatat merugi dengan inefisiensi yang menggerogoti hingga Rp 50 triliun per tahun.
  • Mandat Danantara sebagai motor pertumbuhan ekonomi didukung dua pilar: Asset Management dan Investment Management.

Jakarta – Dony Oskaria, Chief Operating Officer BPI Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN, mengungkap capaian kinerja sejak peluncuran resmi oleh Presiden Prabowo Subianto pada 24 Februari 2025. BPI Danantara ditetapkan sebagai motor pertumbuhan ekonomi RI dengan dua pilar strategis: Danantara Asset Management sebagai konsolidator dan holding operasional BUMN, serta Danantara Investment Management yang berperan mengembangkan dana investasi.

Dalam upaya menata ulang portofolio BUMN, tim Danantara melakukan audit menyeluruh terhadap 1.074 perusahaan milik negara. Hasilnya, lebih dari setengah (52%) menunjukkan kerugian dan inefisiensi yang menelan biaya hingga Rp 50 triliun per tahun. Untuk mengatasi beban ini, Danantara mengimplementasikan empat langkah utama: likuidasi, divestasi, konsolidasi, dan restrukturisasi. Target ambisiusnya: pada akhir 2026, hanya tersisa 254 BUMN yang dianggap solid, kompetitif, dan menguntungkan.

Reformasi ini tidak hanya berfokus pada pemangkasan jumlah entitas, melainkan juga pada peningkatan kualitas tata kelola, efisiensi operasional, dan daya saing global. Menurut Oskaria, “Kami tidak sekadar menutup perusahaan, melainkan menyiapkan ekosistem investasi yang lebih terintegrasi, transparan, dan siap menarik modal swasta.” Dialog lanjutan bersama Andi Shalini di program Squawk Box, CNBC Indonesia pada Rabu, 26 Agustus 2026, mengupas detail strategi dan implikasi pasar yang akan muncul.

Analisis Pakar

Langkah drastis Danantara untuk memangkas lebih dari 800 BUMN dalam dua tahun menandai titik balik dalam kebijakan ekonomi Indonesia. Dari perspektif makroekonomi, konsolidasi ini dapat menurunkan beban fiskal negara secara signifikan, mengurangi defisit anggaran, dan membuka ruang bagi alokasi sumber daya ke sektor prioritas seperti infrastruktur, energi terbarukan, dan teknologi tinggi. Namun, risiko transisi tidak boleh diremehkan. Likuidasi dan divestasi yang terlalu cepat dapat menimbulkan gelombang pengangguran dan mengganggu rantai pasok, terutama di daerah yang sangat bergantung pada BUMN sebagai pemberi kerja utama.

Selanjutnya, restrukturisasi yang mengedepankan good corporate governance dan transparansi akan menjadi kunci menarik investasi asing. Investor institusional global kini menuntut standar ESG (Environmental, Social, Governance) yang ketat. Dengan mengurangi jumlah BUMN yang tidak produktif, Danantara berpotensi meningkatkan rating kredit negara, menurunkan biaya pinjaman, dan memperkuat posisi Indonesia di pasar obligasi internasional.

Namun, keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada kualitas eksekusi. Proses divestasi harus diiringi dengan penilaian yang objektif, menghindari penjualan aset dengan harga undervalued yang dapat menurunkan nilai aset negara. Konsolidasi harus memperhatikan sinergi operasional, bukan sekadar penggabungan administratif. Jika tidak, risiko “bloat” kembali muncul dalam bentuk entitas yang lebih besar namun tetap tidak efisien.

Terakhir, implikasi politik tidak dapat diabaikan. Reformasi BUMN sering kali bersinggungan dengan kepentingan kelompok elit dan regional. Dukungan kuat dari kepemimpinan Prabowo Subianto menjadi penopang utama, namun keberlanjutan kebijakan ini memerlukan konsensus lintas partai dan transparansi publik untuk menghindari persepsi “privatisasi” yang tidak adil.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa saja kriteria BUMN yang akan dipertahankan hingga 2026?
    A: BUMN yang menunjukkan profitabilitas konsisten, memiliki potensi pertumbuhan strategis, dan memenuhi standar tata kelola serta ESG akan dipertahankan.
  • Q: Bagaimana proses likuidasi BUMN akan mempengaruhi tenaga kerja?
    A: Pemerintah berjanji menyediakan program penempatan kembali, pelatihan ulang, dan insentif bagi perusahaan swasta yang menyerap tenaga kerja terdampak.
  • Q: Apakah divestasi BUMN akan membuka peluang investasi asing?
    A: Ya, dengan mengurangi kepemilikan negara di sektor non‑strategis, ruang bagi investor asing meningkat, terutama di bidang infrastruktur, energi terbarukan, dan teknologi.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸