Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Ban Pecah, Pesawat Cassa TNI AL Meluncur ke Pinggir Landasan Hasanuddin: Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ban Pecah, Pesawat Cassa TNI AL Meluncur ke Pinggir Landasan Hasanuddin: Apa yang Sebenarnya Terjadi?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Pesawat NC 212-200 Aviocar milik TNI AL mengalami kebocoran ban utama kanan saat mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin pada 25 Agustus.
  • Ban yang kempis menyebabkan pesawat keluar jalur sekitar 26 meter, namun tiga awak berhasil melakukan prosedur emergency cut engine tanpa cedera.
  • Insiden terjadi saat pesawat sedang menjalankan misi dukungan latihan MGSB di Sorong; investigasi teknis masih berlangsung.

Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, menjadi saksi insiden tak terduga pada Selasa (25/8) pukul 11.21 WITA. Menurut Kadispen Puspenerbal Letkol Eko Hadi Setyawan, pesawat militer tipe NC 212-200 Aviocar dengan nomor ekor U-6215, yang tergabung dalam Skuadron Udara 600 Wing Udara 2, mengalami kegagalan ban utama kanan tepat setelah menyentuh landasan runway 03.

“Sesaat setelah menyentuh landasan dan melakukan landing roll, ban utama sebelah kanan mengalami kempis/pecah (R/H Main Tyre Flat),” ujar Eko dalam keterangan resmi. Kondisi ini memaksa pesawat menyimpang ke kanan dan menabrak tepi landasan sejauh kira‑kira 26,2 meter.

Beruntung, tiga anggota awak – Kapten Laut (P) Galih, Kapten Laut (P) Nova, dan Letda Laut (P) Rendy – langsung mengaktifkan prosedur emergency cut engine sesuai SOP, sehingga risiko kecelakaan yang lebih fatal dapat diminimalisir. Semua kru selamat tanpa cedera.

Setelah insiden, tim lapangan berkoordinasi dengan Lanud Sultan Hasanuddin dan pengelola bandara untuk mengganti ban yang rusak serta mengevakuasi pesawat ke apron. Pesawat tersebut tengah menjalankan misi dukungan latihan operasi MGSB dengan rute Malang‑Hasanuddin‑Patimura‑Sorong.

Puspenerbal menegaskan bahwa penanganan teknis dan evakuasi akan diselesaikan secepatnya tanpa mengganggu operasi penerbangan sipil di bandara tersebut. Pemeriksaan teknis masih berlanjut untuk mengidentifikasi penyebab pasti kebocoran ban.

Analisis Pakar

Insiden ini menimbulkan pertanyaan serius tentang standar pemeliharaan armada udara TNI AL, khususnya pada komponen kritis seperti ban roda. Ban pesawat militer biasanya dirancang untuk menahan beban berat dan kondisi operasional yang keras, namun kegagalan pada fase landing menunjukkan potensi kelalaian dalam inspeksi atau prosedur pergantian ban. Seharusnya, sebelum setiap misi, terutama yang melibatkan lintasan panjang dan variasi cuaca seperti di Sulawesi Selatan, dilakukan audit menyeluruh terhadap semua sistem roda.

Lebih jauh, koordinasi antara Puspenerbal dan otoritas bandara tampak responsif, namun tidak dapat menutup mata pada fakta bahwa bandara militer dan sipil berbagi infrastruktur yang sama. Kegagalan teknis pada satu pesawat dapat berpotensi mengganggu lalu lintas sipil, menimbulkan risiko domino. Oleh karena itu, diperlukan protokol darurat yang lebih terintegrasi, termasuk jalur evakuasi khusus dan penempatan peralatan darurat di titik-titik kritis landasan.

Dari sudut pandang keselamatan, tindakan kru yang cepat mengaktifkan emergency cut engine patut diapresiasi. Namun, hal ini tidak mengurangi beban tanggung jawab pada manajemen pemeliharaan. Pemerintah dan TNI harus memperketat audit teknis, memperbaharui standar inspeksi ban, serta memastikan bahwa setiap unit operasional memiliki akses ke suku cadang yang memenuhi standar internasional.

Terakhir, insiden ini menjadi peringatan bagi seluruh angkatan bersenjata Indonesia bahwa modernisasi peralatan tidak cukup tanpa disiplin operasional yang ketat. Investasi pada pelatihan teknisi, penggunaan teknologi diagnostik berbasis sensor, serta transparansi laporan insiden akan menjadi kunci untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa penyebab utama ban pesawat pecah saat mendarat?
    A: Penyebabnya masih dalam penyelidikan, namun kemungkinan meliputi keausan berlebih, kegagalan material, atau prosedur inspeksi yang tidak memadai.
  • Q: Apakah kru pesawat mengalami cedera?
    A: Tidak, ketiga anggota kru selamat tanpa cedera berkat prosedur emergency cut engine yang dijalankan tepat waktu.
  • Q: Bagaimana dampak insiden ini terhadap jadwal penerbangan sipil di Bandara Sultan Hasanuddin?
    A: Puspenerbal berupaya menyelesaikan evakuasi dan perbaikan secepat mungkin agar tidak mengganggu operasional penerbangan sipil.
Meow! Tanya Nesi!
😸