Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Prabowo Sindir Menteri: 'Kalau Gagal, Banyak yang Siap Ganti' – Tantangan Kabinet Merah Putih di Hari Libur Nasional

PolitikSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Prabowo Sindir Menteri: 'Kalau Gagal, Banyak yang Siap Ganti' – Tantangan Kabinet Merah Putih di Hari Libur Nasional
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Presiden Prabowo menegur menteri-menterinya dengan candaan keras, menyiratkan bahwa posisi mereka tidak aman bila tidak tampil maksimal.
  • Peluncuran program PLTS 100 GWp di Jembrana dilakukan pada hari libur Maulid Nabi, menegaskan klaim “tidak ada tanggal merah” di Kabinet Merah Putih.
  • Target 100 GWp energi surya dijadwalkan selesai 2029, namun kapasitas terpasang per April 2026 baru 1,5 GWp, menimbulkan pertanyaan tentang kelayakan jadwal dan kesiapan birokrasi.

JAKARTA – Pada Selasa (25/8), Presiden Prabowo Subiantoberk menggelar peluncuran program nasional PLTS 100 GWp di Monumen Operasi Lintas Laut Jawa‑Bali, Gilimanuk, Jembrana, Bali. Di tengah sorotan, ia menyisipkan sindiran tajam kepada para menteri: “Yang tidak sanggup boleh minggir, banyak yang ingin menggantikan saudara,” sambil tertawa.

Prabowo menegaskan bahwa Kabinet Merah Putih hampir tidak memiliki hari libur. Bahkan, pada hari libur nasional Maulid Nabi Muhammad SAW, pemerintah tetap bekerja meluncurkan proyek energi terbarukan tersebut. “Hari ini penting, walau libur, kami tetap berjuang untuk rakyat. Di kabinet kami hampir tidak ada tanggal merah, itu risiko pengabdian,” ujarnya.

Menanggapi peluncuran itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa program PLTS 100 GWp merupakan bagian dari Program Kerja Prioritas Nasional Klaster Kemandirian Energi dan Air. Ia menambahkan, Presiden telah memerintahkan percepatan pembangunan hingga selesai pada 2029, dengan estimasi penghematan biaya listrik mencapai Rp73,9 triliun per tahun.

Target ambisius tersebut mencakup tiga fase: Tahap I 17 GWp, Tahap II 18 GWp, dan Tahap III 30 GWp. Pemerintah menargetkan pada 2026 sudah terpasang 30 GWp PLTS sekaligus menutup 13 GW pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). Padahal, potensi energi surya Indonesia diperkirakan mencapai 3.294 GWp, sementara kapasitas terpasang hingga April 2026 baru sekitar 1,5 GWp.

Analisis Pakar

Secara kritis, pernyataan Prabowo menyingkap dinamika internal kabinet yang semakin tertekan. Sindiran “banyak yang ingin menggantikan” bukan sekadar lelucon, melainkan sinyal bahwa posisi menteri kini berada di bawah pengawasan ketat, dengan toleransi nol terhadap kegagalan. Ini mencerminkan budaya kepemimpinan otoriter yang dapat menurunkan moral birokrat dan menghambat inovasi.

Lebih jauh, penekanan pada kerja di hari libur menimbulkan pertanyaan tentang keseimbangan antara dedikasi publik dan hak pekerja. Kebijakan “tidak ada tanggal merah” berpotensi melanggar prinsip kesejahteraan kerja, serta menimbulkan risiko kelelahan dan penurunan produktivitas jangka panjang. Pemerintah harus memastikan bahwa semangat kerja keras tidak berujung pada ekses yang merugikan tenaga kerja.

Target 100 GWp dalam tiga tahun ke depan tampak sangat ambisius mengingat realitas lapangan. Hingga April 2026, kapasitas terpasang baru 1,5 GWp, menandakan adanya kesenjangan antara rencana strategis dan kemampuan implementasi. Hambatan utama meliputi perizinan lahan, pendanaan, serta kesiapan infrastruktur jaringan listrik yang masih terbatas. Tanpa reformasi regulasi yang signifikan, target 2029 berisiko menjadi retorika politik semata.

Terakhir, program ini dijanjikan akan menjadi “mesin pertumbuhan ekonomi baru” melalui investasi pembangkit, baterai, dan jaringan. Namun, tanpa kebijakan industri yang mendukung pengembangan manufaktur panel surya dalam negeri, Indonesia tetap akan bergantung pada impor komponen, mengurangi potensi penciptaan lapangan kerja hijau yang dijanjikan. Pemerintah perlu mengintegrasikan kebijakan industri, pendidikan, dan riset untuk memastikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa saja tahapan pembangunan PLTS 100 GWp?
  • A: Proyek dibagi menjadi tiga fase: Tahap I 17 GWp, Tahap II 18 GWp, dan Tahap III 30 GWp, dengan target selesai pada 2029.
  • Q: Mengapa pemerintah menekankan kerja di hari libur?
  • A: Presiden menekankan komitmen tanpa jeda sebagai simbol dedikasi, namun kebijakan ini menuai kritik terkait kesejahteraan pekerja.
  • Q: Bagaimana dampak ekonomi dari program PLTS 100 GWp?
  • A: Diharapkan menciptakan ribuan lapangan kerja hijau, mengurangi ketergantungan pada energi fosil, dan menghemat biaya listrik hingga Rp73,9 triliun per tahun.

BERITA TERKAIT (Politik)

Meow! Tanya Nesi!
😸