Jakarta Gali Terowongan 18 Meter di Bawah Tanah: Proyek Rp200 Miliar Tantang Utilitas Tanpa Preseden
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Ringkasan Singkat
- Proyek Extended Concourse akan menggali terowongan hingga 18 m di bawah permukaan di Bundaran Hotel Indonesia.
- Anggaran Rp200 miliar, target selesai 2027, menghadapi deviasi signifikan antara gambar as‑built dan kondisi lapangan.
- Tanpa preseden serupa, tim PT Integrasi Transit Jakarta harus menyeimbangkan keamanan jaringan utilitas, mobilitas publik, dan kepatuhan regulasi.
Jakarta, CNBC Indonesia – Pembangunan terowongan multi‑fungsi di jantung ibukota kini memasuki fase kritis. Proyek Extended Concourse, yang direncanakan menjadi ruang konektivitas di atas rel MRT, harus menembus lapisan tanah hingga 18 meter di bawah grade. Kedalaman ini menempatkan pekerjaan tepat di atas platform kereta, sehingga setiap satu meter pengeboran berpotensi menabrak kabel, pipa, atau infrastruktur lain yang tidak tercatat dalam gambar teknis.
Direktur Utama PT Integrasi Transit Jakarta, Ferdiansyah Roestam, mengungkapkan bahwa tim menemukan deviasi signifikan antara as‑built drawing—dokumen yang seharusnya memetakan posisi utilitas secara akurat—dengan realitas di lapangan. "Kami drill satu meter, ternyata ada kabel di kedalaman 30‑40 cm," ujarnya, menekankan betapa pentingnya improvisasi teknik di tengah ketidakpastian data.
Proyek senilai Rp200 miliar ini tidak memiliki preseden di Indonesia. "Tidak ada proyek sejenis yang bisa dijadikan acuan," kata Ferdiansyah, menyoroti tantangan manajerial dan teknis yang belum pernah dihadapi. Selain menavigasi jaringan utilitas yang tersembunyi, kontraktor harus menjaga kelancaran mobilitas di kawasan Bundaran HI, yang dipadati gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, dan arus lalu lintas tinggi.
Koordinasi lintas‑instansi—dari manajemen konstruksi, kontraktor, hingga kelurahan setempat—menjadi faktor penentu keberhasilan. Ferdiansyah menegaskan, "Komunikasi masif diperlukan karena area ini sangat sensitif," sambil menambahkan bahwa hingga kini koordinasi berjalan lancar, meski beban administratifnya berat.
Analisis Pakar
Sebagai ekonom makro, saya melihat proyek ini bukan sekadar infrastruktur transportasi, melainkan katalisator nilai tambah bagi ekosistem bisnis Jakarta. Pertama, konektivitas bawah tanah yang mengintegrasikan MRT dengan jaringan komersial akan meningkatkan produktivitas tenaga kerja di kawasan pusat bisnis (CBD). Penurunan waktu tempuh dan kemudahan akses dapat menurunkan biaya logistik harian, yang pada gilirannya meningkatkan margin operasional perusahaan‑perusahaan di sekitar Bundaran HI.
Kedua, investasi Rp200 miliar ini menambah portofolio aset publik yang dapat dijadikan jaminan bagi skema pembiayaan infrastruktur berbasis aset (Asset‑Backed Financing). Jika pemerintah atau BUMN mengeluarkan obligasi berlandaskan proyek ini, rating kredit dapat terangkat, menarik investor institusional domestik dan asing. Namun, risiko teknis yang tinggi—seperti deviasi utilitas—menjadi faktor risiko yang harus dimasukkan dalam model cash‑flow dan discount rate.
Ketiga, keberhasilan proyek ini akan membuka pintu bagi standar baru dalam perencanaan infrastruktur perkotaan di Indonesia. Tanpa preseden, regulator akan belajar mengadaptasi regulasi perizinan, standar keselamatan, dan mekanisme kompensasi bagi pemilik utilitas yang terdampak. Hal ini dapat mempercepat peluncuran proyek serupa di kota‑kota lain, memperluas basis pajak daerah melalui peningkatan nilai properti dan aktivitas ekonomi.
Akhirnya, dari perspektif kebijakan publik, penting bagi otoritas untuk memastikan transparansi biaya overruns dan manfaat sosial‑ekonomi yang terukur. Pengawasan independen dan pelaporan berkala akan meningkatkan kepercayaan publik, mengurangi potensi kontroversi, serta memastikan bahwa proyek ini tidak hanya menjadi "monumen beton" tetapi aset produktif yang menggerakkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Berapa kedalaman terowongan yang akan digali di Bundaran HI?
A: Terowongan akan berada 18 meter di bawah permukaan tanah, tepat di atas rel MRT. - Q: Mengapa proyek ini dianggap berisiko tinggi?
A: Karena tidak ada proyek serupa sebagai referensi, serta adanya deviasi antara gambar as‑built dan kondisi lapangan yang dapat mengganggu jaringan utilitas. - Q: Kapan proyek Extended Concourse diproyeksikan selesai?
A: Target penyelesaian ditetapkan pada tahun 2027.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

OJK Sanksi Aurora Asset Management Rp2,57 Miliar dan Bubarkan Lima Reksa Dana

ACES Raih Rp6,9 Triliun 9 Bulan, Skor Tata Kelola Naik ke Level 'Very Good'

Di Tengah Eskalasi Perang Arab, Laba Saudi Aramco Melonjak 34,6% di Kuartal III-2026
