Gagal Rem Usai Overhaul: Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir di Lanud Hasanuddin, Ada Apa dengan Pemeliharaan Alutsista Kita?
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

- Ringkasan Singkat Jet tempur Sukhoi Su-30 MK2 tergelincir sejauh 30 meter dari landasan pacu Lanud Sultan Hasanuddin saat uji coba pasca-pemeliharaan berat (overhaul).
- TNI AU mengonfirmasi insiden disebabkan oleh gangguan teknis pada sistem pengereman yang tidak berfungsi maksimal saat simulasi lepas landas.
- Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini; pilot dan pesawat dilaporkan dalam kondisi aman dan kini sedang menjalani investigasi internal.
Ringkasan Singkat
- Jet tempur Sukhoi Su-30 MK2 tergelincir sejauh 30 meter dari landasan pacu Lanud Sultan Hasanuddin saat uji coba pasca-pemeliharaan berat (overhaul).
- TNI AU mengonfirmasi insiden disebabkan oleh gangguan teknis pada sistem pengereman yang tidak berfungsi maksimal saat simulasi lepas landas.
- Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini; pilot dan pesawat dilaporkan dalam kondisi aman dan kini sedang menjalani investigasi internal.
Sebuah insiden serius menimpa salah satu jet tempur andalan Indonesia, Sukhoi Su-30 MK2, di landasan pacu Lanud Sultan Hasanuddin, Sulawesi Selatan. Pesawat tempur buatan Rusia tersebut dilaporkan tergelincir hingga keluar dari batas landasan pacu setelah mengalami kegagalan sistem pengereman saat menjalani uji terbang (test flight).
Kadispenau, Marsma TNI I Nyoman Suadnyana, membenarkan peristiwa tersebut. Menurut penjelasannya, insiden ini terjadi sesaat setelah pesawat menyelesaikan proses pemeliharaan tingkat berat atau overhaul. Saat melakukan simulasi lepas landas (take-off) dan mencoba melakukan pengereman, sistem rem pesawat tidak berfungsi secara maksimal. Akibatnya, jet tempur tersebut meluncur hingga 30 meter melampaui ujung landasan.
Meskipun insiden ini memicu kekhawatiran publik terkait kelaikan alutsista Indonesia, pihak TNI Angkatan Udara memastikan bahwa pilot dan seluruh awak pesawat dalam kondisi selamat tanpa luka. Pesawat yang mengalami insiden kini telah dievakuasi kembali ke hanggar perawatan untuk pemeriksaan menyeluruh sebelum diizinkan melakukan uji coba berikutnya.
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis investigasi yang telah bertahun-tahun mengawal isu pertahanan dan anggaran negara, saya melihat insiden 'tergelincirnya' Sukhoi Su-30 MK2 ini bukan sekadar masalah teknis biasa. Ini adalah alarm keras yang berbunyi di tengah ambisi modernisasi militer kita. Sebuah pesawat yang baru saja keluar dari proses overhaul—yang secara definisi merupakan pemeliharaan tingkat berat paling komprehensif—seharusnya berada dalam kondisi prima. Kegagalan sistem pengereman pada uji terbang pertama pasca-pemeliharaan memicu pertanyaan besar: bagaimana kualitas kontrol (Quality Control) dan pengawasan kelaikan udara yang dilakukan oleh pihak ketiga maupun tim teknis internal?
Kita harus berani melihat aspek yang lebih dalam, yakni rantai pasok suku cadang jet tempur buatan Rusia ini. Di tengah situasi geopolitik global dan sanksi internasional terhadap Rusia, mendapatkan suku cadang asli untuk armada Sukhoi menjadi tantangan yang sangat berat bagi Indonesia. Apakah ada kompromi dalam proses pemeliharaan ini? Apakah kita terpaksa menggunakan suku cadang non-standar atau melakukan kanibalisasi komponen demi menjaga pesawat tetap bisa terbang? Pertanyaan-pertanyaan sensitif ini harus dijawab secara transparan oleh Kementerian Pertahanan dan Mabes TNI, bukan sekadar ditutupi dengan pernyataan humas yang normatif.
Anggaran pertahanan yang bersumber dari uang rakyat bernilai triliunan rupiah dialokasikan untuk memastikan keselamatan para prajurit dan kedaulatan wilayah udara kita. Jika jet tempur sekelas Sukhoi bisa mengalami rem blong di landasan pacu yang terkontrol, bayangkan risiko fatal yang dihadapi para penerbang kita jika kegagalan sistem ini terjadi dalam skenario pertempuran udara riil atau pendaratan darurat di cuaca buruk. Ini adalah masalah nyawa manusia dan pertaruhan harga diri bangsa.
Oleh karena itu, saya mendesak adanya audit investigatif yang independen terhadap seluruh kontrak pemeliharaan alutsista, khususnya yang melibatkan pihak swasta atau kontraktor luar negeri. Kita tidak boleh membiarkan adanya celah korupsi atau kelalaian dalam pemeliharaan alutsista. Modernisasi militer tidak hanya tentang membeli jet tempur baru yang mahal, melainkan tentang bagaimana kita merawat, mengawasi, dan memastikan setiap sekrup dan sistem pengereman pada pesawat yang kita miliki berfungsi dengan sempurna demi keselamatan bangsa.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Apa penyebab jet tempur Sukhoi TNI AU tergelincir di Lanud Hasanuddin?
A: Insiden disebabkan oleh kendala teknis pada sistem pengereman yang tidak berfungsi maksimal saat pesawat melakukan simulasi lepas landas (take-off) dalam rangkaian uji terbang pasca-pemeliharaan berat (overhaul).
Q: Apakah ada korban jiwa atau kerusakan parah dalam insiden Sukhoi tergelincir ini?
A: Tidak ada korban jiwa. TNI AU mengonfirmasi bahwa pilot dan seluruh awak pesawat dalam kondisi aman, sementara pesawat telah ditarik kembali ke hanggar untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Q: Apa itu proses overhaul pada pesawat tempur?
A: Overhaul adalah proses pemeliharaan tingkat berat yang melibatkan pemeriksaan menyeluruh, pembongkaran, perbaikan, dan pengujian ulang seluruh komponen pesawat untuk memastikan kelaikan terbang dan memperpanjang usia pakai alutsista.
BERITA TERKAIT (Politik)

Tito Karnavian Tinjau Tanggul Pidie Jaya, Pastikan Pengerukan 137 Sungai untuk Cegah Banjir Susulan

Demokrat Tahan Sikap Politik Terkait Putusan MA soal Suket Gibran, Tunggu Tenggat 14 Hari

Gerindra Jatim Proses PAW Tiga Kader DPRD Terlibat Narkoba, Tetapkan Zero Tolerance
