Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Budi Gunadi Sadikin Masuki Persaingan Panas untuk Pimpin WHO: Syarat, Proses, dan Dampaknya

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Budi Gunadi Sadikin Masuki Persaingan Panas untuk Pimpin WHO: Syarat, Proses, dan Dampaknya
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Ringkasan Singkat Budi Gunadi Sadikin (BGS) resmi menjadi salah satu kandidat Direktur Jenderal WHO menggantikan Tedros Adhanom Ghebreyesus.
  • Saingannya ada tiga kandidat lain yang diusulkan Qatar, Arab Saudi, dan Belgia, sehingga total ada empat nama dalam bursa.
  • Proses seleksi melibatkan Dewan Eksekutif WHO, Majelis Kesehatan Dunia , serta serangkaian forum kampanye dan aturan etika yang ketat, dengan masa jabatan baru dimulai 16 Agustus 2027.

Ringkasan Singkat

  • Budi Gunadi Sadikin (BGS) resmi menjadi salah satu kandidat Direktur Jenderal WHO menggantikan Tedros Adhanom Ghebreyesus.
  • Saingannya ada tiga kandidat lain yang diusulkan Qatar, Arab Saudi, dan Belgia, sehingga total ada empat nama dalam bursa.
  • Proses seleksi melibatkan Dewan Eksekutif WHO, Majelis Kesehatan Dunia, serta serangkaian forum kampanye dan aturan etika yang ketat, dengan masa jabatan baru dimulai 16 Agustus 2027.

Dalam rangka pergantian kepemimpinan WHO, Menteri Kesehatan Indonesia Budi Gunadi Sadikin (BGS) kini berada di antara empat nama yang diusulkan oleh negara‑anggota. Kandidat lain meliputi Hanan Mohammed Al Kuwari (Qatar), Hanan Balkhy (Arab Saudi), dan Hans Henri P Kluge (Belgia). WHO menegaskan bahwa setiap negara anggota dapat menominasikan siapa saja yang memenuhi kriteria yang tercantum dalam resolusi dan keputusan badan pengatur terkait, tanpa harus menjadi staf WHO atau warga negara pengusul.

Setelah masa pencalonan dibuka pada 24 April 2026 dan ditutup 24 September 2026, Dewan Eksekutif WHO akan menyaring nama‑nama tersebut, menyusun daftar pendek, dan menominasikan maksimal tiga kandidat kepada Majelis Kesehatan Dunia. Pemungutan suara rahasia akan menentukan pemenang, dengan semua negara anggota yang sah berhak memilih kecuali yang sanksinya ditangguhkan.

Selama fase kampanye, kandidat diwajibkan mengungkapkan semua kegiatan, sumber dana, dan biaya yang dikeluarkan melalui portal resmi WHO. Forum kandidat—baik tatap muka maupun daring—akan diadakan mulai November 2026 hingga awal 2027, memberi kesempatan bagi negara‑anggota dan asosiasi untuk menilai visi serta strategi masing‑masing calon.

Jika terpilih, Direktur Jenderal yang baru akan memulai masa jabatan pada 16 Agustus 2027, tepat setelah Majelis Kesehatan Dunia ke‑80 mengesahkan hasil pemilihan.

Analisis Pakar

Penunjukan Budi Gunadi Sadikin sebagai kandidat utama Indonesia menandai langkah strategis Jakarta dalam memperkuat pengaruhnya di arena kesehatan global. Sebagai negara dengan populasi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memiliki tantangan kesehatan yang unik—dari penyakit menular hingga beban ganda non‑menular—yang dapat memberikan perspektif baru bagi kebijakan WHO. Jika BGS terpilih, ia berpotensi menekankan pentingnya pendekatan berbasis komunitas, peningkatan kapasitas sistem kesehatan primer, dan integrasi teknologi digital dalam layanan kesehatan.

Namun, persaingan dengan kandidat dari Qatar, Arab Saudi, dan Belgia tidak dapat diremehkan. Kedua negara Timur Tengah memiliki sumber daya keuangan yang melimpah dan agenda kesehatan yang ambisius, sementara Belgia, melalui Hans Henri P Kluge, membawa pengalaman operasional WHO sebagai mantan Regional Director for Europe. Dinamika geopolitik ini mencerminkan kepentingan besar negara‑negara donor dalam menentukan arah kebijakan global, terutama dalam isu‑isu seperti distribusi vaksin, perubahan iklim, dan keamanan kesehatan.

Proses seleksi yang transparan dan berbasis etika, sebagaimana diatur dalam Kode Etik Pemilihan Direktur Jenderal WHO, menjadi ujian bagi legitimasi institusi. Kewajiban mengungkapkan dana kampanye dan kegiatan lobbying bertujuan mencegah pengaruh tidak sah, namun implementasinya masih bergantung pada kepatuhan masing‑masing negara anggota. Pengawasan sirkulasi dana lintas‑batas, terutama dari sektor swasta, akan menjadi sorotan utama dalam menilai integritas proses.

Terlepas dari hasil akhir, pemilihan ini akan menentukan arah WHO selama lima tahun ke depan, periode yang diprediksi akan diwarnai oleh tantangan pasca‑pandemi, ketidaksetaraan akses kesehatan, dan kebutuhan mendesak untuk memperkuat kesiapsiagaan terhadap ancaman kesehatan baru. Kandidat yang mampu menyatukan agenda kesehatan universal dengan kepentingan politik dan ekonomi global akan memiliki peluang terbesar untuk memimpin organisasi paling berpengaruh di bidang kesehatan dunia.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Siapa saja kandidat yang bersaing untuk menjadi Direktur Jenderal WHO?
    A: Empat kandidat: Budi Gunadi Sadikin (Indonesia), Hanan Mohammed Al Kuwari (Qatar), Hanan Balkhy (Arab Saudi), dan Hans Henri P Kluge (Belgia).
  • Q: Bagaimana proses pemilihan Direktur Jenderal WHO?
    A: Negara anggota mengajukan kandidat, Dewan Eksekutif WHO menyaring dan menominasikan maksimal tiga nama, kemudian Majelis Kesehatan Dunia memilih melalui pemungutan suara rahasia.
  • Q: Kapan masa jabatan Direktur Jenderal WHO yang baru akan dimulai?
    A: Masa jabatan akan dimulai pada 16 Agustus 2027, setelah hasil pemilihan disahkan pada Majelis Kesehatan Dunia ke‑80.
Meow! Tanya Nesi!
😸