Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

'Ubi Bombing' ala Prabowo: Menakar Efektivitas Tepung Singkong Babinsa Padamkan Karhutla Nasional

PolitikSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

'Ubi Bombing' ala Prabowo: Menakar Efektivitas Tepung Singkong Babinsa Padamkan Karhutla Nasional
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan uji coba produksi massal teknologi tepung berbahan dasar ubi/singkong untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
  • Inovasi ini awalnya ditemukan oleh seorang Babinsa di Lubuklinggau dan dipaparkan oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam rapat penanganan karhutla di Palembang.
  • Meskipun dinilai kreatif karena mampu memisahkan oksigen dari api, kapasitas produksi tepung ini masih sangat kecil dan memerlukan riset mendalam sebelum diterapkan dalam skala besar.

Dalam upaya mencari terobosan mengatasi bencana tahunan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan jajarannya untuk segera melakukan uji coba produksi massal teknologi pemadaman berbasis tepung ubi. Langkah yang tidak biasa ini tercetus dalam rapat koordinasi penanganan karhutla yang berlangsung di Palembang.

Ide ini pertama kali dilemparkan ke meja rapat oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Menjawab pertanyaan Presiden mengenai alternatif pemadaman selain metode konvensional water bombing, Kapolri memaparkan adanya zat berbahan dasar tepung singkong yang diklaim mampu mengisolasi api dengan cara memisahkan oksigen (O2) dan karbon dioksida (CO2).

Mendengar pemaparan tersebut, Presiden Prabowo langsung menunjukkan ketertarikannya. Dengan gaya bicaranya yang khas, ia bahkan melontarkan istilah baru: "ubi bombing". Ia menginstruksikan agar anggaran segera diajukan guna menguji efektivitas tepung ubi ini jika dijatuhkan dari helikopter MI-17 yang berkapasitas hingga 4 ton.

Namun, di balik antusiasme tersebut, realitas di lapangan menunjukkan jalan yang masih panjang. Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis mengungkapkan bahwa inovasi ini sebenarnya lahir dari tangan kreatif seorang anggota Babinsa di Lubuklinggau. Masalahnya, hingga saat ini, kapasitas produksinya masih sangat terbatas dan bersifat industri rumahan. Pihak TNI menyatakan siap berkolaborasi dengan BNPB untuk mencoba memproduksinya dalam skala yang lebih masif.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis yang telah bertahun-tahun mengawal isu lingkungan dan kebijakan publik, saya melihat antusiasme Presiden Prabowo terhadap "ubi bombing" ini sebagai pisau bermata dua. Di satu sisi, kita harus mengapresiasi kepekaan pemerintah dalam merespons inovasi akar rumput yang diciptakan oleh anggota Babinsa. Ini membuktikan bahwa potensi lokal kita sangat kaya. Namun, di sisi lain, menjadikan teknologi yang belum teruji secara ilmiah dan klinis sebagai pilar utama penanggulangan bencana nasional adalah langkah yang terlampau spekulatif, bahkan cenderung tergesa-gesa.

Secara teknis, memadamkan kebakaran hutan skala besar dengan tepung organik seperti singkong menyisakan banyak pertanyaan besar. Bagaimana perilaku tepung ini saat berhadapan dengan suhu ekstrem karhutla di lahan gambut? Apakah ada risiko ledakan debu organik (dust explosion) yang justru bisa memperparah situasi? Selain itu, kalkulasi ekonomi dan ekologisnya harus dihitung secara matang. Mengubah komoditas pangan seperti ubi menjadi bahan pemadam api dalam skala ribuan ton tentu akan berdampak pada ketahanan pangan lokal dan rantai pasok pertanian kita.

Instruksi spontan Presiden untuk segera "mengajukan anggaran" produksi massal juga menunjukkan pola pengambilan kebijakan yang kurang sistematis. Dalam tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), setiap alokasi anggaran negara untuk teknologi baru wajib didahului oleh studi kelayakan (feasibility study) yang komprehensif, uji laboratorium independen, dan analisis dampak lingkungan. Tanpa tahapan ini, proyek "ubi bombing" dikhawatirkan hanya akan menjadi ladang pemborosan anggaran negara yang berakhir sia-sia di lapangan.

Pemerintah tidak boleh lupa bahwa akar masalah karhutla di Indonesia bukanlah minimnya teknologi pemadaman, melainkan lemahnya penegakan hukum terhadap korporasi pembakar lahan dan lambatnya restorasi ekosistem gambut yang rusak. Mengandalkan "ubi bombing" sebagai solusi instan hanya akan mengalihkan fokus kita dari substansi pencegahan. Karhutla adalah masalah sistemik yang membutuhkan penegakan hukum yang galak dan restorasi lingkungan yang konsisten, bukan sekadar gimik teknologi yang terdengar heroik di ruang rapat.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apa itu teknologi tepung ubi untuk karhutla?
A: Teknologi ini memanfaatkan tepung berbahan dasar singkong atau ubi yang diklaim mampu memisahkan oksigen dari api, sehingga efektif mencegah dan memadamkan api pada tahap awal kebakaran hutan.

Q: Siapa yang pertama kali menemukan inovasi tepung ubi pemadam api ini?
A: Inovasi ini ditemukan oleh seorang anggota Bintara Pembina Desa (Babinsa) TNI AD di Lubuklinggau, Sumatra Selatan, sebelum akhirnya dipaparkan oleh Kapolri kepada Presiden.

Q: Apakah metode "ubi bombing" ini sudah siap digunakan secara nasional?
A: Belum. Saat ini kapasitas produksinya masih sangat kecil dan memerlukan riset ilmiah lebih lanjut serta uji coba skala besar untuk memastikan efektivitas dan keamanannya sebelum diterapkan secara massal.

BERITA TERKAIT (Politik)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ