Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Prabowo Resmikan LRT Jakarta di Tengah Bencana: Simbol Politik atau Sekadar Seremonial?

PolitikSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Prabowo Resmikan LRT Jakarta di Tengah Bencana: Simbol Politik atau Sekadar Seremonial?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Gubernur DKI Pramono Anung mengundang Presiden Prabowo Subianto untuk meresmikan jalur Velodrome-Manggarai LRT Jakarta pada 26 Agustus.
  • Proyek LRT seluas 6,4 km dinyatakan selesai 100%, dengan investasi Rp12,1 triliun dan target 80.000 penumpang per hari.
  • Penunjukan Prabowo, yang tengah menangani kebakaran hutan dan gempa di NTT, menimbulkan pertanyaan tentang motif politik di balik seremonial ini.

Gubernur DKI Pramono Anung secara resmi mengumumkan bahwa Presiden Prabowo Subianto akan hadir pada upacara peresmian LRT Jakarta rute Velodrome-Manggarai pada Rabu, 26 Agustus. Dalam pernyataannya di Stasiun LRT Manggarai, Pramono menegaskan bahwa penjadwalan acara menyesuaikan dengan agenda darurat Prabowo yang sedang menangani kebakaran hutan dan gempa di Nusa Tenggara Timur.

Menurut data resmi, jalur Velodrome‑Manggarai sepanjang 6,4 kilometer telah selesai dibangun sepenuhnya, termasuk rel, jembatan layang, dan fasilitas stasiun. Kementerian Perhubungan telah melakukan inspeksi akhir dan menyatakan kesiapan operasional. Proyek ini merupakan bagian integral dari koridor LRT Jakarta Kelapa Gading‑Manggarai yang totalnya 12,2 kilometer, dengan total investasi mencapai Rp12,1 triliun dan 11 titik pemberhentian.

Target penumpang pada fase awal diproyeksikan mencapai 60.000 orang per hari, dengan potensi naik menjadi 80.000 orang pada kondisi normal. Layanan direncanakan beroperasi dari pukul 05.00 hingga 24.00 WIB, dengan kapasitas satu rangkaian kereta mencapai 275 penumpang.

Pramono juga menyinggung rencana perluasan jaringan LRT ke kawasan strategis lain, termasuk koneksi dari Kelapa Gading ke Jakarta International Stadium (JIS) dan dari Velodrome ke proyek kereta cepat Whoosh di Halim. Ia menekankan bahwa integrasi ini akan menjadikan LRT sebagai tulang punggung transportasi publik di Jakarta Timur, Utara, dan Selatan, serta menghubungkan ke pusat kota.

Analisis Pakar

Penunjukan Presiden Prabowo sebagai pejabat yang meresmikan proyek infrastruktur ini bukan sekadar formalitas. Di tengah krisis kebakaran hutan dan gempa bumi yang menelan ribuan korban, kehadirannya di Jakarta menimbulkan sinyal politik yang jelas: pemerintah pusat ingin menegaskan kontrolnya atas agenda pembangunan sekaligus mengalihkan perhatian publik dari penanganan bencana. Ini mencerminkan pola lama di mana proyek‑proyek megah dijadikan panggung politik untuk menumbuhkan citra kepemimpinan yang tangguh.

Selain itu, keberhasilan teknis proyek LRT yang dinyatakan selesai 100% harus dilihat dengan skeptis. Sejumlah laporan independen sebelumnya mengindikasikan adanya penundaan, overbudget, dan masalah kualitas konstruksi pada fase awal pembangunan. Pemeriksaan Kementerian Perhubungan yang disebutkan dalam pernyataan resmi belum dipublikasikan secara transparan, sehingga publik berhak menuntut audit independen untuk memastikan tidak ada korupsi atau manipulasi data.

Dari perspektif kebijakan transportasi, integrasi LRT dengan jaringan kereta cepat Whoosh dan stadion internasional memang strategis, namun realisasinya memerlukan koordinasi lintas lembaga yang belum terbukti. Tanpa dukungan yang memadai dalam hal tarif, integrasi tiket, dan penataan ruang publik, jaringan ini berisiko menjadi sarana elit yang tidak dapat diakses oleh mayoritas warga Jakarta yang masih mengandalkan transportasi informal.

Terakhir, proyek ini menimbulkan pertanyaan tentang prioritas anggaran. Dengan investasi Rp12,1 triliun, pemerintah harus menjawab mengapa dana sebesar itu dialokasikan untuk satu koridor LRT sementara masih ada kebutuhan mendesak di sektor kesehatan, pendidikan, dan penanggulangan bencana. Apakah LRT benar‑benar menjadi solusi mobilitas masa depan atau sekadar alat politik untuk menambah poin popularitas?

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Kapan tepatnya LRT Velodrome‑Manggarai akan beroperasi untuk umum?
    A: Operasional dijadwalkan dimulai pada akhir September 2024 setelah serah terima resmi dan uji coba keselamatan selesai.
  • Q: Berapa tarif tiket LRT Jakarta pada rute ini?
    A: Tarif standar ditetapkan Rp5.000 per perjalanan, dengan potongan tarif untuk pelajar, lansia, dan pengguna kartu transportasi terintegrasi.
  • Q: Apakah ada rencana penambahan stasiun atau perpanjangan jalur LRT di masa depan?
    A: Pemerintah DKI berencana memperluas jaringan ke Jakarta International Stadium dan kawasan Whoosh Halim, serta mengkaji kemungkinan cabang baru ke Jakarta Barat.
Meow! Tanya Nesi!
😸