Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Kenapa Astronot Sering Sembelit di Luar Angkasa? Penelitian Baru Ungkap Rahasia Mikrogravitasi

TeknologiKelvin WijayaKelvin WijayaSumber: CNN Teknologi
Kelvin Wijaya
Kelvin Wijaya
Software Engineer

Membahas teknologi dari kacamata pengembang dan inovasi perangkat lunak.

Kenapa Astronot Sering Sembelit di Luar Angkasa? Penelitian Baru Ungkap Rahasia Mikrogravitasi
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Astronot di ISS mengalami konstipasi karena pergerakan makanan di usus melambat dalam mikrogravitasi.
  • Studi NatureCommunications mengidentifikasi peningkatan fermentasi protein oleh bakteri usus sebagai penyebab utama.
  • Solusi sederhana: tambah serat dan karbohidrat fermentasi lambat, serta pertimbangkan teknologi diet dan probiotik untuk misi ke Bulan dan Mars.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan pada 29 Juni 2026 di jurnal Nature Communications mengungkap mengapa astronot sering keluhan sembelit saat berada di luar angkasa. Tim riset dari Universitas Copenhagen bekerjasama dengan NASA menganalisis 488 sampel plasma darah dari 52 astronot yang menghabiskan 2‑9 bulan di ISS antara 2006‑2018.

Hasilnya? Mikrogravitasi memperlambat transit makanan di usus, sehingga bakteri usus beralih dari fermentasi serat dan karbohidrat ke fermentasi protein. Proses ini menghasilkan sekitar 40 metabolit baru yang terdeteksi dalam aliran darah, termasuk senyawa berpotensi toksik seperti amonia dan hidrogen sulfida. Perubahan metabolik ini muncul dalam hitungan minggu setelah astronot tiba di luar angkasa dan sebagian besar kembali normal beberapa hari setelah kembali ke Bumi.

Peneliti menggunakan teknik metabolomik untuk memetakan molekul‑molekul kecil dalam plasma, memberikan gambaran biokimia lengkap tentang respons tubuh dan mikrobioma terhadap kondisi tanpa gravitasi. Analisis menunjukkan bahwa perbedaan pola makan (kafein, ikan, lemak) hanya menyumbang < 1 % dari perubahan metabolik, menegaskan bahwa faktor fisik mikrogravitasi adalah pemicu utama.

Menurut Giorgia La Barbera, salah satu penulis utama, “bakteri usus mulai memfermentasi protein dalam jumlah yang lebih tinggi hanya dalam minggu pertama di luar angkasa”. Sementara Henrik Roager menambahkan, “kurangnya gravitasi memperlambat pergerakan makanan di usus, inilah yang menyebabkan sembelit”. Temuan ini menjadi landasan penting untuk merancang strategi nutrisi pada misi jangka panjang ke Bulan dan Mars, di mana masalah pencernaan dapat memengaruhi kesehatan dan performa kru.

Analisis Pakar

Sebagai seorang tech‑reviewer yang selalu memantau inovasi di bidang ruang angkasa, saya melihat temuan ini sebagai sinyal bahwa bio‑engineering dan digital health akan menjadi komponen krusial dalam program eksplorasi luar angkasa. Pertama, data metabolomik yang dihasilkan membuka peluang bagi sensor wearable yang dapat memantau secara real‑time perubahan metabolit dalam darah atau urin astronot. Dengan integrasi AI, sistem tersebut dapat memberi peringatan dini sebelum sembelit berkembang menjadi masalah klinis.

Kedua, diet berbasis pre‑biotik dan pro‑biotik yang dipersonalisasi dapat di‑optimalkan lewat machine learning yang menganalisis profil mikrobioma tiap individu sebelum peluncuran. Ini bukan sekadar menambah serat, melainkan merancang “paket mikroba” yang tahan terhadap kondisi mikrogravitasi, memastikan fermentasi tetap berfokus pada karbohidrat, bukan protein.

Ketiga, teknologi 3‑D food printing dapat menjadi game‑changer. Dengan kemampuan mencetak makanan yang memiliki tekstur dan kandungan serat terkontrol, kita dapat mengatasi masalah transit usus tanpa harus mengubah keseluruhan menu misi. Bayangkan printer makanan yang menyesuaikan rasio serat‑karbohidrat secara dinamis berdasarkan data sensor metabolik yang terus mengalir.

Akhirnya, temuan ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas disiplin: ilmuwan mikrobiologi, insinyur ruang angkasa, dan pakar nutrisi harus bekerja dalam satu ekosistem data terintegrasi. Hanya dengan pendekatan holistik, kita dapat memastikan bahwa astronot tidak hanya selamat, tetapi juga tetap produktif selama perjalanan ke Mars yang diperkirakan akan memakan waktu lebih dari satu tahun.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa mikrogravitasi memperlambat pergerakan makanan di usus?
    A: Tanpa gaya gravitasi, pergerakan peristaltik usus menjadi kurang efisien, sehingga makanan menghabiskan lebih banyak waktu di usus besar.
  • Q: Apa saja metabolit yang meningkat selama misi di luar angkasa?
    A: Metabolit hasil fermentasi protein seperti amonia, hidrogen sulfida, dan asam amino terdekat meningkat signifikan dalam plasma.
  • Q: Bagaimana cara mencegah sembelit pada astronot?
    A: Menambah asupan serat, karbohidrat fermentasi lambat, serta menggunakan probiotik dan teknologi nutrisi berbasis sensor dapat membantu menjaga transit usus tetap lancar.

BERITA TERKAIT (Teknologi)

Meow! Tanya Nesi!
😸