Freeport Siapkan Investasi Rp72 Triliun untuk Tambang Bawah Tanah Kucing Liar – Target 2029
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Ringkasan Singkat
- PT Freeport Indonesia mengalokasikan Rp72 triliun untuk mengembangkan tambang bawah tanah Kucing Liar di distrik Grasberg, Papua Tengah.
- Investasi awal sudah mencapai Rp25 triliun; produksi dijadwalkan mulai 2029 dengan kapasitas 130‑140 ribu ton bijih per hari.
- Proyeksi output seumur hidup: 7 miliar pon tembaga dan 7 juta ons emas, menggantikan Grasberg Block Cave yang akan menutup masa produksinya.
Jakarta – Freeport Indonesia (PTFI) mengumumkan rencana investasi sebesar Rp72 triliun untuk mengaktifkan tambang bawah tanah baru bernama Kucing Liar. Proyek ini berada di Grasberg, distrik mineral Papua Tengah, dan dirancang sebagai tulang punggung produksi tembaga serta emas nasional setelah Tony Wenas, Presiden Direktur PTFI, menegaskan jadwal operasional dimulai pada 2029 (semula 2028).
Sejauh ini, perusahaan telah menyalurkan Rp25 triliun untuk infrastruktur pendukung, termasuk akses jalan, ventilasi, dan fasilitas logistik yang diperlukan untuk penambangan bawah tanah. Kapasitas produksi yang direncanakan mencapai 130‑140 ribu ton bijih per hari, yang diproyeksikan menghasilkan 7 miliar pon tembaga dan 7 juta ons emas selama masa operasi. Angka ini diharapkan menutupi penurunan output dari Grasberg Block Cave (GBC) yang diperkirakan akan menutup dalam beberapa tahun ke depan.
Freeport menekankan bahwa proyek ini tidak hanya penting bagi kelangsungan produksi, tetapi juga bagi kontribusi fiskal negara dan penciptaan lapangan kerja bagi puluhan ribu pekerja lokal. Perusahaan kini tengah berkoordinasi intens dengan pemerintah Indonesia untuk memperpanjang izin operasi dan memastikan bahwa eksplorasi cadangan di kedalaman lebih dalam dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.
Analisis Pakar
Investasi sebesar Rp72 triliun menandai komitmen jangka panjang Freeport di Indonesia, sekaligus menegaskan posisi negara sebagai produsen tembaga dan emas kelas dunia. Dari perspektif makroekonomi, proyek Kucing Liar akan menambah basis ekspor mineral, memperkuat neraca perdagangan, dan memberikan aliran devisa yang stabil di tengah volatilitas harga komoditas global.
Namun, ada risiko yang tidak dapat diabaikan. Penundaan satu tahun dalam jadwal operasional menandakan tantangan teknis dan regulasi, terutama terkait perizinan lingkungan dan hak atas tanah. Jika tidak dikelola dengan baik, biaya tambahan dapat menggerus margin keuntungan, mengingat biaya operasional tambang bawah tanah biasanya lebih tinggi dibanding tambang terbuka.
Secara strategis, Kucing Liar berpotensi menjadi “cadangan penyangga” bagi Freeport, mengurangi ketergantungan pada GBC yang semakin menua. Hal ini memberi perusahaan fleksibilitas dalam menyesuaikan produksi dengan fluktuasi harga tembaga—yang saat ini berada di level tertinggi dalam satu dekade—serta memungkinkan penyesuaian kontrak jangka panjang dengan pembeli internasional.
Untuk pemerintah, proyek ini menawarkan peluang peningkatan penerimaan pajak dan royalti, serta penguatan kapasitas industri penunjang di Papua. Namun, keberlanjutan sosial‑ekonomi harus dijaga melalui program pengembangan masyarakat, pelatihan tenaga kerja lokal, dan mitigasi dampak lingkungan yang ketat. Tanpa sinergi yang kuat antara perusahaan dan pemerintah, potensi manfaat fiskal dapat tereduksi oleh protes atau penolakan sosial.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Kapan produksi tambang Kucing Liar akan dimulai?
A: Produksi diperkirakan dimulai pada tahun 2029, setelah penundaan satu tahun dari rencana awal 2028. - Q: Berapa total investasi yang telah dikeluarkan hingga kini?
A: Hingga saat ini, Freeport telah menginvestasikan sekitar Rp25 triliun, dengan total rencana mencapai Rp72 triliun. - Q: Berapa estimasi produksi tembaga dan emas dari Kucing Liar?
A: Proyeksi seumur hidup proyek adalah 7 miliar pon tembaga dan 7 juta ons emas.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Emiten TAPG Bagi Dividen Interim Rp1,39 T, Rekaman pada 12 November 2026

IHSG Raih Penguatan 0,95% di Sesi I, Asing Borong 10 Saham Ini Meski Catat Net Sell

23 UKM Diproyeksi IPO di BEI, Mayoritas dari Sektor FB
