Budi Arie Bongkar Konspirasi Adu Domba Prabowo‑Jokowi: Fakta atau Politik Palsu?
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Ketua Projo Budi Arie Setiadi menuding adanya pihak yang sengaja memecah belah Prabowo Subianto dan Joko Widodo demi kepentingan politik.
- Ia menegaskan bahwa pemerintah harus mengedepankan persatuan, menahan ego kelompok, dan memberantas korupsi secara nyata.
- Projo juga menyatakan dukungan penuh kepada pemerintahan Prabowo‑Gibran Rakabuming Raka serta menolak rumor keretakan hubungan antara kedua presiden.
Dalam sambutan peringatan Hari Ulang Tahun ke‑12 Projo di Jakarta, Budi Arie Setiadi menuduh ada “pihak yang mengadu‑domba” antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ketujuh Joko Widodo. Ia menolak keras kabar keretakan hubungan kedua tokoh politik itu, sekaligus memperingatkan pihak‑pihak yang menyebarkan isu tersebut.
“Soal hubungan Pak Jokowi dengan Pak Prabowo, ada yang berusaha adu‑domba, kan? Begitu. Menurut saya, setop adu‑domba,”
kata Budi Arie di depan ratusan relawan Projo. Ia menekankan bahwa pemerintahan yang efektif harus dibangun di atas soliditas dan persatuan seluruh elemen bangsa, bukan pada ego‑ego pribadi atau kelompok.
“Kita harus menahan ego‑ego kelompok, ego‑ego pribadi supaya pemerintahan ini bisa mengatasi permasalahan rakyat dan permasalahan bangsa dengan baik,” ujarnya, mengingatkan bahwa Jokowi pernah menjabat sebagai Menkominfo dan Prabowo pernah menjadi Menteri Koperasi.
Selain menolak rumor, Budi Arie menegaskan dukungan Projo kepada pemerintahan Prabowo dan Wapres Gibran Rakabuming Raka. Gibran, putra sulung Jokowi, sebelumnya menjabat sebagai Wali Kota Solo.
Ia juga menyinggung agenda anti‑korupsi, menolak klaim pemerintah yang “mengaku antikorupsi” namun tetap membiarkan praktik korupsi mengakar di kalangan elit. “Tidak bisa ngomong pemerintahan antikorupsi kalau membiarkan praktik‑praktik korupsi di sekitar elite‑elite pemerintahan,” tegasnya.
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat dua lapisan penting dalam pernyataan Budi Arie. Pertama, tuduhan adanya “pihak yang mengadu‑domba” bukan sekadar retorika politik; ia mencerminkan dinamika kekuasaan yang semakin terfragmentasi. Di era pasca‑pilpres 2024, jaringan patronase dan aliansi lintas partai berusaha memanfaatkan ketegangan antara dua figur sentral—Prabowo dan Jokowi—untuk mengamankan posisi mereka di dalam birokrasi atau legislatif. Jika tidak diwaspadai, spekulasi semacam ini dapat memicu polarisasi publik yang berbahaya.
Kedua, seruan Budi Arie tentang persatuan dan pengekangan ego menyingkap realitas bahwa partai‑partai politik kini lebih mengutamakan kepentingan sektoral daripada agenda nasional. Penekanan pada “soliditas” seharusnya diikuti dengan mekanisme kontrol yang transparan, bukan sekadar slogan. Tanpa institusi yang kuat—seperti KPK yang independen dan DPR yang berani menelusuri alur dana—janji anti‑korupsi tetap menjadi retorika kosong.
Ketiga, dukungan Projo kepada pemerintahan Prabowo‑Gibran menimbulkan pertanyaan tentang netralitas organisasi relawan. Apakah Projo masih dapat berperan sebagai watchdog independen bila secara terbuka mengangkat satu kubu? Keterlibatan politik yang eksplisit dapat menurunkan kredibilitas mereka di mata publik, terutama ketika mereka menuduh pihak lain memanipulasi narasi.
Akhirnya, pernyataan Budi Arie menyoroti kebutuhan mendesak akan media yang kritis dan penelitian independen. Hanya dengan mengungkap siapa sebenarnya “pihak yang mengadu‑domba” dan apa motifnya, kita dapat melindungi integritas demokrasi Indonesia dari permainan politik bayangan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Siapa yang diklaim Budi Arie sedang mengadu‑domba Prabowo dan Jokowi?
A: Budi Arie tidak menyebut nama spesifik, namun menuding adanya elemen politik yang memanfaatkan rumor untuk memecah belah. - Q: Apakah Projo secara resmi mendukung pemerintahan Prabowo‑Gibran?
A: Ya, dalam pidatonya Budi Arie menegaskan dukungan penuh organisasi terhadap kepemimpinan Prabowo dan Wapres Gibran. - Q: Apa implikasi tuduhan Budi Arie terhadap upaya pemberantasan korupsi?
A: Ia menekankan bahwa pemerintah tidak dapat mengklaim antikorupsi bila praktik korupsi tetap merajalela di kalangan elit, menuntut tindakan konkret dan pengawasan yang lebih ketat.
BERITA TERKAIT (Politik)

MA Batalkan Suket Ijazah Gibran, Elite Politik Tuntut Penegasan Status Wapres

Demokrat Nilai Gibran Tak Lagi Memenuhi Syarat Wapres Usai MA Putuskan Suket Tidak Sah

Klarifikasi Wamendagri: Insentif Rp1 Triliun untuk Pemda Cakup Stunting, Rumah, dan Inflasi
