Tol Layang Tertinggi RI: Harbour Road II Siap Buka Jalur Anti‑Gempa 1.000 Tahun dengan Investasi Rp15 Triliun
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Ringkasan Singkat
- Harbour Road II menjadi tol layang tertinggi di Indonesia dengan struktur 38 m, melampaui MBZ yang hanya 15 m.
- Progres fisik mencapai 44,12 % dan 77 % lahan sudah dibebaskan; investasi total Rp15,08 triliun, target rampung 2028.
- Desain 2×3 lajur, kecepatan 80 km/jam, anti‑gempa hingga 1.000 tahun, seluruh teknologi diproduksi dalam negeri.
Jakarta, CNBC Indonesia – Harbour Road II (Jalan Tol Harbour Road II Ruas Ancol Timur‑Pluit) resmi menjadi tol layang tertinggi di Republik Indonesia. Dengan struktur bertingkat setinggi 38 meter yang dibangun di atas Tol Sedyatmo, proyek ini mengalahkan rekam jejak MBZ yang hanya 15 meter.
Menurut Direktur Utama PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP) Tbk, Arief Budhy Hardono, progres fisik kini berada pada angka 44,12 % dengan ketersediaan lahan (availability) mencapai 77 %. “Meskipun lahan sudah 77 % tersedia, area yang dapat dikerjakan kontraktor mencapai 81,55 %,” ujarnya dalam unggahan Instagram resmi perusahaan pada 23 Agustus 2026.
Investasi sebesar Rp15,08 triliun diproyeksikan selesai pada tahun 2028. Tol ini dirancang untuk meredam kemacetan di Harbour Road I serta mengalirkan beban lalu lintas padat di sisi utara Jabodetabek. Selain itu, diharapkan dapat menarik volume kendaraan dari Pelabuhan Tanjung Priok dan memperkuat konektivitas logistik menuju Bandara Soekarno‑Hatta.
Dengan panjang 9,7 km, konfigurasi 2×3 lajur, dan kecepatan desain 80 km/jam, Harbour Road II menjadi contoh nyata “double‑decker” modern. Dewan Penasehat CMNP, Jusuf Hamka, menegaskan bahwa struktur ini dapat menahan gempa bumi hingga 1.000 tahun—sebuah klaim yang didukung oleh penggunaan material dan teknik rekayasa yang 100 % buatan dalam negeri. Proyek ini juga tidak mengandalkan APBN, melainkan pendanaan swasta yang menegaskan peran penting sektor konstruksi dalam perekonomian nasional.
Analisis Pakar
Secara makroekonomi, Harbour Road II bukan sekadar infrastruktur transportasi; ia merupakan katalisator pertumbuhan produktivitas logistik di kawasan utara Jakarta. Dengan mengalihkan arus kendaraan berat dari jaringan jalan permukaan ke jalur elevated, proyek ini berpotensi menurunkan biaya externalitas—seperti waktu tempuh, konsumsi bahan bakar, dan emisi CO₂—yang selama ini menjadi beban bagi industri manufaktur dan distribusi.
Model pembiayaan 100 % swasta menandai pergeseran paradigma kebijakan publik: pemerintah lebih berperan sebagai regulator dan fasilitator, sementara risiko konstruksi dan operasional dialihkan ke sektor swasta. Hal ini meningkatkan efisiensi alokasi modal, namun menuntut transparansi dalam perjanjian PPP (Public‑Private Partnership) agar tarif tol tetap terjangkau bagi pengguna dan tidak menggerus daya beli konsumen.
Keunggulan anti‑gempa 1.000 tahun, meski terdengar dramatis, mencerminkan standar teknik tinggi yang dapat menjadi referensi bagi proyek infrastruktur kritis lainnya, terutama di zona rawan seismik. Jika berhasil, Indonesia dapat mengekspor teknologi ini ke negara‑negara ASEAN yang memiliki tantangan serupa, membuka peluang ekspor jasa teknik dan manufaktur.
Namun, ada risiko overcapacity bila pertumbuhan kendaraan tidak sejalan dengan proyeksi. Pemerintah dan operator harus memastikan integrasi tarif dengan kebijakan transportasi multimoda, termasuk pengembangan transportasi massal (MRT, LRT) dan sistem logistik berbasis digital, agar investasi ini tidak berakhir menjadi “white elephant”.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Kapan Harbour Road II dijadwalkan selesai?
A: Proyek diperkirakan rampung pada tahun 2028. - Q: Berapa total biaya pembangunan tol ini?
A: Total investasi mencapai Rp15,08 triliun. - Q: Apa arti klaim anti‑gempa hingga 1.000 tahun?
A: Struktur dirancang dengan standar tahan gempa kelas tinggi, menggunakan material dan teknik rekayasa yang dapat menahan guncangan seismik selama milenium, menjadikannya salah satu infrastruktur paling tahan lama di dunia.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Kebijakan BEI: 81 Saham HSC Dicoret dari IHSG, Bobot 10 Emiten Besar Melonjak

BJS Buka Suara Dugaan Hilangnya Emas 2,2 Kilogram: Fasilitas Gadai Dinyatakan Lunas Sejak 2013

OJK Luncurkan Blueprint Strategis Keuangan Syariah, Targetkan Pertumbuhan Aset Melampaui 10%
