Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Napas Sesak di Banjarbaru: Ketika Karhutla Mengepung Permukiman dan Warga Dipaksa Mengungsi Mandiri

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Napas Sesak di Banjarbaru: Ketika Karhutla Mengepung Permukiman dan Warga Dipaksa Mengungsi Mandiri
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memaksa warga Kompleks Aeropolis 1, Banjarbaru, mengungsi secara mandiri demi keselamatan.
  • Kondisi lahan gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan tanah menyulitkan pemadaman, bahkan api sempat menjilat dinding rumah warga sebelum berhasil dijinakkan.
  • Kelompok rentan seperti bayi, lansia, dan ibu hamil telah dievakuasi terlebih dahulu, sementara sebagian pria bertahan untuk menjaga aset mereka dari jarahan dan api.

Ancaman bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan kembali meneror warga Kalimantan Selatan. Kali ini, warga Kompleks Aeropolis 1, Kelurahan Syamsudin Noor, Kecamatan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru, terpaksa harus angkat kaki dari rumah mereka akibat kepungan asap pekat dan ancaman api yang kian mendekat.

Saleh, salah seorang warga setempat, mengungkapkan bahwa situasi pada Sabtu (22/8) merupakan yang terburuk dibandingkan hari-hari sebelumnya. Jarak pandang yang memendek dan dada yang mulai sesak memaksa dirinya mengambil keputusan cepat untuk mengevakuasi keluarganya ke tempat yang lebih aman.

"Kondisinya jauh lebih parah dari kemarin. Keluarga sudah saya ungsikan ke kampung halaman agar tidak terpapar asap beracun ini. Saya sendiri memilih bertahan untuk menjaga rumah dan memantau pergerakan api," ujar Saleh dengan nada khawatir saat ditemui di lokasi kejadian.Langkah evakuasi mandiri ini juga diambil oleh sebagian besar warga lainnya, khususnya mereka yang memiliki anggota keluarga masuk dalam kategori kelompok rentan seperti bayi, ibu hamil, dan lanjut usia. Mereka memilih mengungsi secara swadaya sebelum dampak kesehatan yang lebih fatal terjadi.

Bhabinkamtibmas Kelurahan Syamsudin Noor, Aiptu Helmi Apriana, membenarkan bahwa titik api sebenarnya sudah terdeteksi sejak beberapa hari lalu. Namun, kombinasi antara cuaca ekstrem, suhu panas, dan tiupan angin kencang pada hari Sabtu membuat kobaran api dengan cepat meluas dan mendekati area perumahan.

Tantangan terbesar dalam pemadaman ini adalah karakteristik tanah di kawasan tersebut yang didominasi oleh lahan gambut. Karakteristik gambut yang kering membuat api menjalar di bawah permukaan tanah, sehingga sangat sulit dideteksi dan dipadamkan secara total. Ketika angin kencang berembus, bara api yang tersembunyi di dalam tanah tersebut kembali menyala dan memicu kebakaran baru di permukaan.

"Api bahkan sempat menjilat dinding bagian belakang rumah warga di blok belakang. Beruntung, kesigapan tim pemadam di lapangan berhasil melokalisir pergerakan api sebelum melumat bangunan permukiman," jelas Helmi.

Upaya pemadaman darat ini melibatkan kolaborasi dari berbagai pihak, mulai dari BPBD Kalsel, barisan pemadam kebakaran swasta, relawan Masyarakat Peduli Api (MPA), Masyarakat Peduli Bencana (MPB), hingga bantuan unit pemadam dari korporasi sekitar seperti Adaro, Arutmin, dan Hutan Rindang Banua. Selain memadamkan api, petugas juga mulai membagikan masker kepada warga yang masih bertahan sebagai langkah pertolongan pertama terhadap paparan ISPA.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi yang telah bertahun-tahun mengawal isu lingkungan, saya melihat kepungan asap di Banjarbaru ini bukan sekadar bencana alam musiman biasa. Ini adalah potret nyata dari kegagalan sistemik dalam mitigasi bencana dan tata kelola lahan basah di Indonesia. Karhutla di lahan gambut adalah bom waktu yang terus berulang setiap musim kemarau tiba, dan sayangnya, respons pemerintah masih sering kali bersifat reaktif ketimbang preventif.

Mengapa lahan gambut di sekitar permukiman warga bisa begitu kering dan mudah terbakar? Jawabannya klasik: alih fungsi lahan dan pembuatan kanal-kanal drainase yang tidak terkontrol demi pembangunan properti atau perkebunan. Ketika gambut dikeringkan, ia kehilangan kemampuan alaminya untuk menyimpan air dan berubah menjadi bahan bakar yang sangat efektif. Pemerintah daerah seharusnya memperketat izin mendirikan bangunan (IMB) dan melakukan audit lingkungan terhadap pengembang perumahan yang membangun di atas ekosistem sensitif seperti gambut.

Selain itu, fakta bahwa warga harus mengungsi secara "mandiri" tanpa adanya posko pengungsian resmi yang layak dari pemerintah daerah menunjukkan lemahnya kesiapsiagaan mitigasi sosial. Membagikan masker di tengah kepungan asap pekat ibarat memberikan plester pada luka robek yang menganga—itu tidak menyelesaikan akar masalah. Negara harus hadir dengan sistem peringatan dini yang terintegrasi dan rencana evakuasi yang jelas, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi dan ibu hamil.

Terakhir, keterlibatan korporasi besar dalam pemadaman api memang patut diapresiasi, namun kita tidak boleh menutup mata. Apakah keterlibatan ini murni aksi kemanusiaan, atau sekadar upaya greenwashing untuk meredam kritik publik atas eksploitasi lahan yang mereka lakukan di bumi Kalimantan? Penegakan hukum yang tegas tanpa pandang bulu terhadap pelaku pembakar lahan—baik individu maupun korporasi—adalah satu-satunya jalan keluar agar tragedi ekologis ini tidak terus menjadi 'agenda tahunan' yang mengorbankan kesehatan generasi masa depan kita.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Mengapa kebakaran di lahan gambut Banjarbaru sangat sulit dipadamkan?
A: Lahan gambut memiliki karakteristik menyimpan bara api di bawah permukaan tanah. Meskipun api di permukaan tampak padam, bara di dalam tanah tetap menyala dan dapat muncul kembali sewaktu-waktu saat dipicu oleh cuaca panas dan angin kencang.

Q: Siapa saja yang paling terdampak dan harus dievakuasi terlebih dahulu?
A: Kelompok rentan seperti bayi, balita, ibu hamil, dan lansia adalah kelompok yang paling pertama dievakuasi karena mereka sangat rentan terhadap infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat kabut asap pekat.

Q: Apakah ada bantuan evakuasi resmi dari pemerintah setempat?
A: Hingga saat ini, belum ada permintaan evakuasi massal secara terpusat. Warga yang mengungsi melakukan evakuasi secara mandiri ke rumah kerabat atau daerah yang lebih aman, sementara petugas berfokus pada pemadaman api dan pembagian masker medis.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸