Pasar Karbon Indonesia Siap Melejit: CPI Dorong Transisi Energi lewat EKONIKLIM Talkshow 2026
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Ringkasan Singkat
- Talkshow EKONIKLIM Talkshow 2026 menegaskan bahwa mitigasi iklim dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja dan investasi baru.
- Pemerintah menggelar peta jalan pasar karbon nasional berbasis SRUK, yang akan menghubungkan perusahaan domestik dan internasional.
- Potensi penurunan emisi >500 juta ton CO₂e per tahun dapat menghasilkan nilai US$5,8 miliar, membuka peluang pembiayaan iklim skala besar.
Jakarta, CNBC Indonesia – Dalam upaya menautkan ekonomi makro dengan krisis iklim, Climate Policy Initiative (CPI) menyelenggarakan EKONIKLIM Talkshow 2026 di Wisma Habibie Ainun. Tema “Orientasi Kebijakan Iklim Indonesia dari Perspektif Ekonomi dan Keuangan” menyoroti bagaimana proyek mitigasi iklim bukan hanya beban, melainkan peluang strategis bagi pembangunan.
Albertus Prabu Siagian, ekonom CPI Indonesia, menegaskan bahwa transisi energi dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus membuka lapangan kerja baru di sektor teknologi bersih. “Jika dikelola dengan tepat, investasi pada mitigasi iklim dapat menjadi katalisator inovasi dan aliran modal asing,” ujarnya.
Acara dibuka oleh Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, yang mengingatkan bahwa suhu rata‑rata Indonesia telah naik lebih dari 6 % sejak 1970, memicu cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi. Contoh terbaru meliputi banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Jawa Barat pada akhir 2025, serta mencairnya es di Pegunungan Jayawijaya yang diproyeksikan hilang total pada 2027.
Menanggapi tantangan tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup melalui Deputi Ary Sudijanto mengumumkan tiga pilar utama pengembangan pasar karbon nasional: (1) tata kelola karbon lintas sektor, (2) infrastruktur pasar berbasis SRUK (Sistem Registri Unit Karbon), dan (3) mekanisme perdagangan sukarela serta implementasi Pasal 6 Perjanjian Paris. SRUK akan menjadi platform pertama Indonesia yang memungkinkan jual‑beli unit karbon baik domestik maupun internasional.
Fajar Nuradi, Asisten Deputi Produksi Pangan dan Perubahan Iklim Kemenko Pangan, menambahkan bahwa potensi penurunan emisi lebih dari 500 juta ton CO₂e per tahun dapat menghasilkan nilai US$5,8 miliar per tahun. “Angka ini menjadi tolok ukur untuk menutup climate financing gap yang selama ini menghambat proyek‑proyek hijau,” katanya.
Analisis Pakar
Sebagai ekonom makro, saya melihat dua implikasi utama dari inisiatif ini. Pertama, integrasi pasar karbon ke dalam kerangka kebijakan fiskal dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi negara, mirip dengan model carbon tax di Eropa. Pendapatan tersebut dapat dialokasikan untuk subsidi energi terbarukan atau program adaptasi di daerah rawan bencana, sehingga menciptakan efek multiplier yang positif pada PDB.
Kedua, keberhasilan SRUK sangat bergantung pada transparansi data dan kepastian hukum. Tanpa standar verifikasi yang ketat, risiko greenwashing akan menggerogoti kepercayaan investor asing. Pemerintah harus memperkuat lembaga regulator, misalnya dengan membentuk unit khusus di OJK yang mengawasi perdagangan karbon, serta mengadopsi standar internasional seperti Verra atau Gold Standard.
Selanjutnya, sinergi antara pasar karbon dan sektor keuangan dapat membuka produk keuangan inovatif—green bonds, climate‑linked loans, dan sukuk hijau. Bank-bank besar sudah mulai menyiapkan kerangka penilaian risiko iklim; integrasi data SRUK ke dalam sistem perbankan akan mempercepat aliran modal ke proyek‑proyek rendah karbon.
Akhirnya, tantangan terbesar tetap pada koordinasi lintas kementerian. Tanpa kepemimpinan yang jelas, inisiatif ini berisiko terfragmentasi. Saya menyarankan pembentukan “Task Force Karbon Nasional” yang melaporkan langsung ke Presiden, memastikan bahwa target NDC dan peta jalan pasar karbon berjalan selaras, serta menghindari duplikasi kebijakan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa itu SRUK dan bagaimana cara kerjanya?
A: SRUK (Sistem Registri Unit Karbon) adalah platform nasional untuk mencatat, memverifikasi, dan memperdagangkan unit karbon, memungkinkan perusahaan domestik dan asing melakukan transaksi secara transparan. - Q: Berapa besar nilai ekonomi yang dapat dihasilkan dari pasar karbon Indonesia?
A: Diperkirakan potensi nilai tahunan mencapai US$5,8 miliar, berdasarkan estimasi penurunan emisi lebih dari 500 juta ton CO₂e per tahun. - Q: Bagaimana pasar karbon dapat membantu pencapaian NDC Indonesia?
A: Dengan mengintegrasikan mekanisme perdagangan karbon ke dalam peta jalan NDC, pemerintah dapat memobilisasi investasi swasta untuk proyek‑proyek pengurangan emisi, sekaligus memastikan target penurunan emisi tercapai secara cost‑effective.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

BJS Buka Suara Dugaan Hilangnya Emas 2,2 Kilogram: Fasilitas Gadai Dinyatakan Lunas Sejak 2013

OJK Luncurkan Blueprint Strategis Keuangan Syariah, Targetkan Pertumbuhan Aset Melampaui 10%

DJP Klarifikasi Mitos Pajak Digital: Transfer Bank Bukan Objek PPN, Ini Mekanisme SPP-TDLN
