Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Meninggal 75 Jiwa, Ratusan Sekolah Hancur: Bencana Gempa NTT Semakin Memuncak

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Meninggal 75 Jiwa, Ratusan Sekolah Hancur: Bencana Gempa NTT Semakin Memuncak
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Jumlah korban tewas akibat gempa NTT naik menjadi 75 orang pada 20 Agustus.
  • Lebih dari 900 orang luka-luka dan hampir 93.000 pengungsi, dengan Kabupaten Nagekeo menelan paling banyak.
  • 502 sekolah dinyatakan rusak berat, memaksa lebih dari 1.300 satuan pendidikan beralih ke pembelajaran darurat.

Data terbaru yang disampaikan BNPB pada konferensi pers Kamis (20/8) menunjukkan peningkatan korban tewas menjadi 75 jiwa, naik empat jiwa sejak laporan sebelumnya. Korban meninggal tersebar di tiga kabupaten: dua di Sikka, satu di Manggarai, dan satu di Nagekeo. Sementara itu, jumlah luka-luka tercatat 907 orang.

Gempa susulan yang terus mengguncang wilayah NTT memaksa otoritas menambah jumlah pengungsi menjadi 92.735 jiwa, naik signifikan dari 59.647 jiwa sebelumnya. Kabupaten Nagekeo menjadi pusat kepanikan dengan tambahan 21.883 pengungsi, diikuti Manggarai (9.649 jiwa) dan Manggarai Barat (1.556 jiwa).

Di sektor pendidikan, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat mengungkapkan 502 sekolah mengalami kerusakan berat, memengaruhi 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan di tujuh kabupaten. Dari total 1.378 satuan pendidikan yang terdampak, 923 sekolah ditutup sementara, 30 masih melaksanakan tatap muka, 35 beroperasi sebagai sekolah darurat, dan 171 mengandalkan pembelajaran jarak jauh.

Kementerian Pendidikan menyiapkan 100 tenda kelas darurat secara bertahap, sementara Gubernur NTT menginstruksikan pembelajaran dari rumah atau tempat pengungsian untuk menghindari risiko bangunan runtuh akibat gempa susulan yang belum berakhir.

Analisis Pakar

Situasi yang berkembang di Nusa Tenggara Timur menegaskan kegagalan sistem mitigasi bencana yang seharusnya lebih proaktif. Meskipun BNPB telah mengeluarkan data secara rutin, respons lapangan masih terhambat oleh keterbatasan infrastruktur dan koordinasi antar lembaga. Penambahan hampir 33.000 pengungsi dalam satu hari menandakan bahwa evakuasi belum terstruktur, dan penempatan pengungsi masih bersifat ad hoc.

Kerusakan pada lebih dari 500 sekolah menggarisbawahi lemahnya standar bangunan publik di daerah rawan gempa. Pemerintah pusat dan daerah harus segera meninjau kembali regulasi konstruksi, memastikan bahwa setiap fasilitas pendidikan memenuhi standar tahan gempa yang ketat. Tanpa langkah ini, siklus penutupan sekolah dan gangguan pendidikan akan terus berulang, menambah beban psikologis pada anak-anak dan tenaga pendidik.

Selanjutnya, kebijakan pembelajaran jarak jauh yang diusulkan oleh Gubernur NTT tampak ideal secara teori, namun realitas lapangan menunjukkan keterbatasan akses internet dan perangkat digital di wilayah pedesaan. Solusi jangka pendek berupa tenda kelas memang membantu, namun tidak menyelesaikan masalah struktural: kurangnya data geospasial yang akurat, sistem peringatan dini yang belum terintegrasi, serta kurangnya pelatihan kesiapsiagaan bagi masyarakat.

Ke depan, diperlukan pendekatan holistik: investasi pada infrastruktur tahan gempa, penguatan kapasitas BNPB di tingkat kabupaten, serta program edukasi bencana yang melibatkan komunitas lokal. Tanpa komitmen politik yang kuat dan alokasi anggaran yang transparan, korban jiwa dan kerusakan materiil akan terus meningkat setiap kali alam mengguncang.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa total korban tewas dan luka-luka akibat gempa NTT hingga 20 Agustus 2024?
    A: Hingga saat itu tercatat 75 orang meninggal dan 907 orang luka-luka.
  • Q: Berapa banyak sekolah yang rusak berat dan berapa murid yang terdampak?
    A: 502 sekolah rusak berat, memengaruhi sekitar 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan.
  • Q: Apa langkah darurat yang diambil pemerintah untuk melanjutkan pembelajaran?
    A: Pemerintah menyiapkan 100 tenda kelas darurat, melaksanakan pembelajaran dari rumah atau tempat pengungsian, serta mengaktifkan pembelajaran jarak jauh dan sekolah darurat.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ