Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Langit Kalimantan Membara: TNI AU Turun Tangan, Tapi Sampai Kapan Kita Andalkan Modifikasi Cuaca?

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Langit Kalimantan Membara: TNI AU Turun Tangan, Tapi Sampai Kapan Kita Andalkan Modifikasi Cuaca?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • TNI AU mengerahkan tiga pesawat Casa NC-212 dari Skadron Udara 4 Malang untuk memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.
  • Krisis Karhutla di Kalimantan Timur kian mengkhawatirkan dengan temuan 413 titik api yang telah menghanguskan lebih dari 936 hektare lahan, khususnya di Kutai Barat.
  • Sebanyak 42 armada udara disiagakan di Sumatra dan Kalimantan, namun efektivitas penanganan jangka panjang tanpa penegakan hukum yang tegas dipertanyakan.

JAKARTA — Krisis kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (kebakaran hutan dan lahan) kembali mencengkeram wilayah Kalimantan. Merespons situasi yang kian kritis ini, TNI AU mengambil langkah taktis dengan mengerahkan tiga pesawat jenis Casa NC-212 dari Skadron Udara 4, Lanud Abdulrachman Saleh, Malang. Armada udara ini diterbangkan langsung menuju Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur untuk memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sejak Jumat (21/8).

Kadispenau Marsma TNI I Nyoman Suadnyana mengonfirmasi bahwa pengerahan ini merupakan bentuk dukungan nyata militer dalam menekan dampak buruk karhutla. Kehadiran tiga pesawat Casa ini akan menggenapi kekuatan udara yang sebelumnya telah dikerahkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di koridor Kalimantan.

Saat ini, total ada 20 armada udara yang beroperasi di Kalimantan, mencakup lima helikopter patroli, tiga pesawat modifikasi cuaca, serta 12 helikopter raksasa untuk misi water bombing. Secara nasional, pemerintah telah menyebar 42 pesawat di enam provinsi rawan, terbagi hampir merata antara Sumatra (22 pesawat) dan Kalimantan (20 pesawat).

Namun, data di lapangan menunjukkan eskalasi yang mengerikan. Di Kalimantan Timur saja, BPBD mencatat ada 413 titik api dengan total kerusakan lahan mencapai 936,95 hektare. Kabupaten Kutai Barat menjadi wilayah terdampak paling parah, menyumbang 269,34 hektare lahan hangus dari 70 titik kejadian perkara.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis yang telah mengawal isu lingkungan selama puluhan tahun, saya melihat pengerahan alutsista TNI AU dan puluhan helikopter pemadam ini bagaikan pemadam kebakaran yang sibuk menyiram air di atas bara api yang sengaja dinyalakan. Kita harus jujur: Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan water bombing adalah solusi hilir yang sangat mahal. Setiap tahun, miliaran rupiah uang rakyat habis menguap di udara hanya untuk menciptakan hujan buatan, sementara akar masalahnya—yaitu keserakahan korporasi dan lemahnya pengawasan lahan—tetap dibiarkan melenggang tanpa sanksi yang menjerakan.

Mengapa kita selalu terjebak dalam pola reaktif yang sama setiap musim kemarau tiba? Karhutla di Kalimantan bukan sekadar bencana alam akibat siklus cuaca, melainkan kejahatan ekologis yang terstruktur. Pembukaan lahan dengan cara membakar masih menjadi pilihan murah bagi oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Selama pemerintah daerah dan aparat penegak hukum tidak berani melakukan audit lingkungan secara radikal terhadap konsesi lahan sawit dan tambang di Kalimantan Timur dan Barat, maka pesawat-pesawat canggih milik TNI AU hanya akan menjadi 'pemadam kebakaran musiman' tanpa akhir.

Dampak dari pembiaran ini sangat mengerikan. Angka 936 hektare lahan yang terbakar di Kaltim bukan sekadar statistik di atas kertas. Ini adalah hilangnya keanekaragaman hayati, pelepasan emisi karbon masif yang mempercepat krisis iklim global, serta ancaman ISPA bagi generasi muda kita di Kalimantan. Kita tidak bisa terus-menerus mengorbankan kesehatan masyarakat dan membebani anggaran pertahanan negara hanya karena ketidakmampuan kita dalam menegakkan hukum lingkungan di tingkat tapak.

Sudah saatnya pemerintah mengalihkan fokus anggaran. Alih-alih menghabiskan dana besar untuk mitigasi darurat di udara, investasi harus dialokasikan secara besar-besaran pada pencegahan dini di darat. Ini termasuk penguatan patroli masyarakat adat, restorasi gambut yang konsisten, serta penerapan sanksi pidana korporasi yang tanpa pandang bulu. Jika tidak, langit Kalimantan akan terus membara, dan kita hanya akan terus menyaksikan ritual tahunan yang sia-sia ini.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apa tujuan utama pengerahan pesawat Casa NC-212 oleh TNI AU ke Kalimantan?
A: Pesawat tersebut dikerahkan untuk mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau pembuatan hujan buatan guna memadamkan titik-titik api (hotspot) dan mengurangi kepekatan kabut asap akibat Karhutla.

Q: Wilayah mana di Kalimantan yang mengalami dampak kebakaran hutan terparah saat ini?
A: Berdasarkan data BPBD, Kalimantan Timur mengalami dampak yang sangat signifikan dengan 413 titik api, di mana Kabupaten Kutai Barat menjadi wilayah terdampak terparah dengan luas lahan terbakar mencapai 269,34 hektare.

Q: Berapa total armada udara yang dikerahkan secara nasional untuk mengatasi Karhutla?
A: Total ada 42 pesawat yang dikerahkan di enam provinsi rawan karhutla, dengan rincian 20 pesawat difokuskan di wilayah Kalimantan dan 22 pesawat lainnya disiagakan di wilayah Sumatra.

Meow! Tanya Nesi!
😸