Selasa, 3 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Bara di Balik Sawit dan Tambang: Investigasi Udara Ungkap Dalang Asli Karhutla Kalimantan

HukumBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Bara di Balik Sawit dan Tambang: Investigasi Udara Ungkap Dalang Asli Karhutla Kalimantan
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Bukti Udara Terungkap: Aktivis lingkungan Chanee Kalaweit membagikan bukti rekaman udara yang menunjukkan titik api karhutla sengaja disulut di dekat area perkebunan sawit dan tambang emas ilegal.
  • Modus Kambing Hitam: Pelaku menggunakan skema penebangan lahan terlebih dahulu sebelum dibakar, lalu mengambinghitamkan masyarakat lokal saat api meluas.
  • Respons Pemerintah & Polri: Kapolri mengklaim telah mengamankan sejumlah nama terduga pelaku, sementara KLH merilis instruksi darurat untuk enam provinsi akibat ancaman El Nino 2026.

Kabut asap pekat kembali mengepung bumi Borneo, membawa serta aroma keserakahan korporasi dan pembiaran sistemik yang terstruktur. Penelusuran udara yang dilakukan oleh aktivis lingkungan kawakan, Chanee Kalaweit, menyingkap tabir kemunafikan di balik bencana tahunan ini. Berdasarkan bukti visual yang ia bagikan, titik api yang memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diduga kuat sengaja disulut untuk memuluskan ekspansi perkebunan sawit serta aktivitas tambang emas ilegal.

Chanee mengungkapkan bahwa di lapangan, khususnya di Kabupaten Barito Utara, pola kebakaran ini sangat rapi dan berulang. Api hampir selalu muncul berdampingan dengan wilayah konsesi sawit atau area pertambangan ilegal. Modusnya klasik namun sangat efektif: lahan hutan ditebang terlebih dahulu, dibiarkan mengering, lalu dibakar secara sengaja. Ketika api menjalar tak terkendali dan memicu kemarahan publik, pihak-pihak di balik layar dengan mudah mencuci tangan dengan menuding masyarakat lokal sebagai pelaku pembakaran.

Di sisi lain, aparat penegak hukum kini tengah berkejaran dengan waktu. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan bahwa pihaknya telah mengantongi dan mengamankan beberapa nama yang diduga kuat menjadi dalang di balik karhutla Kalimantan. Kendati demikian, publik masih menunggu apakah penegakan hukum kali ini akan menyentuh aktor intelektual atau hanya berhenti pada level pekerja lapangan.

Sementara itu, situasi di lapangan kian kritis akibat hantaman fenomena El Nino kuat yang melanda sejak Juli 2026. Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat langsung menerbitkan instruksi mendesak kepada enam gubernur di Sumatra dan Kalimantan untuk memperketat pengawasan. Data KLH menunjukkan penurunan kualitas udara yang sangat signifikan, dengan konsentrasi partikel berbahaya PM2,5 di wilayah Kampar (Riau) mencapai 48,84 mikrogram per meter kubik dan Ogan Ilir (Sumsel) menyentuh 47,39 mikrogram per meter kubik, angka yang sangat mengancam kesehatan publik.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi senior, saya melihat ada pola pengulangan yang memuakkan dalam penanganan karhutla di Indonesia. Setiap kali musim kemarau ekstrem tiba, pemerintah dan korporasi selalu kompak menunjuk hidung alam dan El Nino sebagai kambing hitam utama. Padahal, El Nino hanyalah katalisator. Bahan bakar utamanya adalah keserakahan korporasi yang ingin membuka lahan dengan biaya murah, serta lemahnya pengawasan dari dinas-dinas terkait di daerah.

Modus "tebang lalu bakar" yang diungkap oleh Chanee Kalaweit bukanlah rahasia baru, melainkan rahasia umum yang dipelihara. Skema ini sangat licik karena memanfaatkan celah hukum dengan menggunakan tangan masyarakat adat atau petani lokal sebagai tameng. Ketika hukum ditegakkan, yang masuk penjara adalah petani kecil yang hanya dibayar beberapa ratus ribu rupiah untuk menyulut api, sementara pemilik modal dan pemegang konsesi tetap melenggang bebas menikmati keuntungan miliaran rupiah dari lahan yang telah bersih. Ini adalah bentuk ketidakadilan struktural yang nyata.

Komitmen Polri di bawah kepemimpinan Listyo Sigit kini benar-benar diuji di hadapan publik. Mengamankan "beberapa nama" tidak akan menyelesaikan masalah jika nama-nama tersebut hanya level operator lapangan atau pion tak berharga. Kita butuh keberanian luar biasa dari penegak hukum untuk menyeret korporasi sawit raksasa dan jaringan mafia tambang emas ilegal ke meja hijau. Cabut izin konsesi mereka, sita asetnya untuk pemulihan lingkungan, dan penjarakan pemilik manfaat (beneficial ownership) dari perusahaan-perusahaan tersebut.

Pada akhirnya, instruksi darurat dari Kementerian Lingkungan Hidup hanya akan berakhir sebagai tumpukan kertas administratif yang tidak berdaya jika tidak dibarengi dengan audit lingkungan yang radikal di tingkat daerah. Pemerintah daerah tidak boleh lagi bersikap pasif dan hanya menunggu instruksi dari Jakarta. Selama izin perkebunan dan pertambangan masih bisa ditransaksikan di bawah meja tanpa pengawasan ketat, selama itu pula paru-paru rakyat Kalimantan dan Sumatra akan terus dikorbankan demi pundi-pundi oligarki.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apa penyebab utama karhutla di Kalimantan menurut temuan aktivis?
A: Menurut pemantauan udara Chanee Kalaweit, karhutla diduga kuat dipicu oleh pembukaan lahan secara sengaja untuk perkebunan kelapa sawit dan aktivitas tambang emas ilegal dengan modus menebang pohon terlebih dahulu sebelum dibakar.

Q: Bagaimana tanggapan kepolisian terhadap kasus karhutla ini?
A: Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyatakan bahwa pihak kepolisian telah melakukan penyelidikan intensif dan mengamankan beberapa nama yang diduga terkait sebagai penyebab karhutla di Kalimantan.

Q: Wilayah mana saja yang mendapat instruksi darurat dari Kementerian Lingkungan Hidup?
A: KLH mengeluarkan instruksi mendesak untuk enam provinsi terdampak parah, yaitu Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Jambi, dan Kalimantan Selatan, guna memperketat penanganan karhutla akibat dampak El Nino 2026.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ