⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 19 km WNW of Tomohon, Indonesia pada 2/11/2026, 15.13.14. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.
Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Menakar Ambisi PGEO Jadi Raja Panas Bumi Dunia: Realistis atau Terlalu Optimis?

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNBC Indonesia
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Menakar Ambisi PGEO Jadi Raja Panas Bumi Dunia: Realistis atau Terlalu Optimis?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menargetkan kapasitas terpasang sebesar 1 GW pada 2028 dan 1,8 GW pada 2034 demi menjadi pemain panas bumi nomor satu di dunia.
  • Perusahaan tengah mengakselerasi sederet proyek strategis, termasuk PLTP Lumut Balai Unit 3 & 4, Gunung Tiga, Hululais, hingga eksplorasi di Aceh dan Lampung.
  • PGEO juga mulai merambah bisnis non-listrik (beyond electricity) lewat proyek percontohan green hydrogen di Ulubelu yang dijadwalkan berproduksi akhir tahun ini.

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) tengah tancap gas. Emiten energi baru terbarukan (EBT) pelat merah ini sedang menggeber portofolio proyeknya demi menembus angka magis kapasitas terpasang sebesar 1 Giga Watt (GW) pada tahun 2028. Saat ini, kapasitas eksisting yang berhasil dikonversi menjadi listrik baru berada di angka 727 Mega Watt (MW).

Dalam gelaran The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) di JCC Senayan, Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, menegaskan bahwa peta jalan (pipeline) ekspansi perusahaan sangat solid tanpa kendala sumber daya. Target jangka panjangnya bahkan lebih agresif: mencapai 1,8 GW pada tahun 2034, memosisikan PGEO sebagai raja panas bumi nomor satu di dunia.

Untuk merealisasikan mimpi besar tersebut, PGEO mengandalkan sejumlah proyek strategis yang kini sedang dikejar pengerjaannya. Di antaranya adalah PLTP Lumut Balai Unit 3 dan Unit 4 (masing-masing berkapasitas 55 MW) yang kini telah memasuki fase pengeboran eksplorasi. Selain itu, ada proyek Gunung Tiga di area Ulubelu Extension (55 MW), dua unit PLTP di WKP Hululais Bengkulu (masing-masing 55 MW), serta proyek Sungai Penuh di Jambi (55 MW) yang kini dalam tahap uji produksi.

Tak hanya itu, eksplorasi juga gencar dilakukan di tiga Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) baru, yakni Bukit Daun (Bengkulu), Seulawah (Aceh), dan Wai Ratai (Lampung). Menariknya, PGEO tidak lagi sekadar menjual listrik. Mereka mulai merambah bisnis bernilai tambah tinggi (beyond electricity) melalui proyek percontohan green hydrogen di Ulubelu yang ditargetkan memproduksi 100 kg hidrogen per hari mulai November ini. Langkah taktis ini didukung oleh kinerja operasional yang kokoh, di mana capacity factor perusahaan konsisten berada di atas 90%, jauh melampaui rata-rata industri global.

Analisis Pakar

Dari perspektif makroekonomi dan investasi, langkah PGEO mengejar target 1 GW di tahun 2028 adalah strategi yang sangat berani namun krusial bagi transisi energi Indonesia. Sektor panas bumi dikenal memiliki karakteristik risiko tinggi di fase awal (high-risk, high-cost) terutama saat eksplorasi. Keberhasilan PGEO dalam mengamankan pipeline proyek ini menunjukkan bahwa mereka memiliki manajemen risiko yang matang. Namun, tantangan terbesar ke depan adalah bagaimana mengelola belanja modal (CapEx) yang masif ini tanpa mengorbankan profitabilitas jangka pendek dan rasio utang perusahaan.

Diversifikasi ke sektor green hydrogen di Ulubelu merupakan langkah visioner yang patut diapresiasi. Pasar hidrogen hijau global diproyeksikan tumbuh eksponensial, dan PGEO sedang memosisikan diri sebagai pionir di domestik. Kendati demikian, tantangan komersialisasi hidrogen hijau di Indonesia masih sangat besar, terutama terkait belum terbentuknya ekosistem serapan (offtaker) lokal yang siap membayar harga premium untuk energi bersih ini. Pilot project 100 kg per hari ini harus dilihat sebagai laboratorium ekonomi untuk menguji kelayakan biaya produksi sebelum melakukan scale-up skala industri.

Satu hal yang menjadi keunggulan kompetitif PGEO adalah tingkat capacity factor yang melebihi 90%. Dalam industri ketenagalistrikan, angka ini sangat impresif karena membuktikan bahwa panas bumi adalah sumber energi bersih yang paling andal sebagai beban dasar (baseload) jika dibandingkan dengan energi surya atau angin yang bersifat intermiten. Keandalan operasional ini menjadi daya tawar yang sangat kuat bagi PGEO dalam menegosiasikan Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) jangka panjang dengan PLN.

Secara keseluruhan, saham PGEO tetap menjadi salah satu instrumen investasi hijau (green investment) paling menarik di Bursa Efek Indonesia. Komitmen ESG yang ketat bukan lagi sekadar pemanis laporan tahunan, melainkan prasyarat mutlak untuk menarik modal murah dari lembaga keuangan internasional (green financing). Jika manajemen mampu menjaga disiplin eksekusi proyek sesuai jadwal tanpa adanya pembengkakan biaya (cost overrun), target menjadi pemain nomor satu dunia bukan sekadar angan-angan, melainkan kepastian bisnis yang menguntungkan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Berapa target kapasitas pembangkit listrik yang ingin dicapai PGEO pada tahun 2028?
A: PGEO menargetkan kapasitas terpasang panas bumi mencapai 1 Giga Watt (GW) pada tahun 2028, naik dari kapasitas saat ini yang berada di angka 727 Mega Watt (MW).

Q: Apa saja proyek utama yang sedang digarap PGEO saat ini?
A: Beberapa proyek utama yang sedang diakselerasi antara lain PLTP Lumut Balai Unit 3 & 4, PLTP Gunung Tiga (Ulubelu Extension), PLTP Hululais, PLTP Sungai Penuh, serta eksplorasi di WKP Bukit Daun, Seulawah, dan Wai Ratai.

Q: Apa proyek non-listrik (beyond electricity) yang sedang dikembangkan PGEO?
A: PGEO sedang mengembangkan proyek percontohan (pilot project) produksi green hydrogen (hidrogen hijau) di area Ulubelu dengan target produksi awal sebesar 100 kg per hari mulai November tahun ini.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸