Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Gempa NTT: BNPB Peringatkan Gempa Susulan 2‑3 Minggu, Warga Diminta Tenang, Bukan Panik

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Gempa NTT: BNPB Peringatkan Gempa Susulan 2‑3 Minggu, Warga Diminta Tenang, Bukan Panik
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Letjen Suharyanto peringatkan potensi gempa susulan di NTT selama 2‑3 minggu ke depan.
  • Gempa susulan diprediksi lebih lemah dan tidak memicu tsunami, menurut BMKG.
  • BNPB catat 71 korban meninggal dan hampir 60.000 pengungsi; pemerintah provinsi beri status darurat hingga 28 Agustus.

Letjen Suharyanto, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), menegaskan bahwa wilayah Ende dan sekitarnya masih berada dalam zona risiko gempa susulan selama dua hingga tiga minggu ke depan. Pernyataan itu didasarkan pada data pemantauan terbaru dari BMKG, yang menunjukkan bahwa magnitudo gempa susulan cenderung lebih kecil dibandingkan gempa utama 7,7 SR yang mengguncang Kabupaten Nagakeo pada 15 Agustus 2026.

"Jangan panik, tetapi tetap waspada. Selama 2‑3 minggu ke depan gempa susulan mungkin masih terjadi, namun intensitasnya jauh di bawah gempa utama. Risiko tsunami hampir tidak ada," ujar Suharyanto saat bertemu penyintas di Desa Peozaka Ramba, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, Rabu (19/8). Ia menambahkan bahwa penilaian ilmiah ini didukung oleh riset seismologi terkini.

BNPB menekankan tiga langkah krusial bagi warga yang rumahnya rusak: (1) hindari memasuki bangunan yang belum dinyatakan aman; (2) gunakan tenda atau tempat penampungan sementara yang telah disiapkan pemerintah; (3) ikuti informasi resmi dan hindari hoaks. "Keselamatan masyarakat adalah prioritas. Jika rumah sudah diperiksa dan dinyatakan aman, tidak ada alasan untuk hidup dalam ketakutan berlebih," tegasnya.

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur telah mengumumkan Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi selama 14 hari, mulai 15 hingga 28 Agustus 2026. Hingga 19 Agustus, BNPB mencatat 71 jiwa meninggal dan 59.647 orang mengungsi, dengan konsentrasi tertinggi di Kabupaten Manggarai.

Analisis Pakar

Secara teknis, pernyataan Suharyanto tidak lepas dari konteks ilmiah yang sahih. Data BMKG memang menunjukkan penurunan energi seismik pada aftershock, sebuah pola yang umum setelah gempa megah. Namun, risiko struktural tetap tinggi, terutama bagi bangunan tidak tahan gempa yang masih banyak di NTT. Pemerintah daerah harus mempercepat inspeksi struktural dan menyediakan alternatif penampungan yang layak, bukan sekadar menunggu “kondisi aman”.

Selanjutnya, narasi “tidak ada tsunami” harus dipertimbangkan dengan hati-hati. Meskipun model numerik menunjukkan probabilitas rendah, sejarah gempa di wilayah Pasifik menunjukkan bahwa skenario tsunami dapat muncul secara mendadak. Komunikasi risiko yang terlalu menenangkan dapat menurunkan kewaspadaan publik, terutama di daerah pesisir.

Terakhir, penanganan pasca-bencana di NTT masih terhambat oleh keterbatasan logistik dan aksesibilitas. Koordinasi antara BNPB, BMKG, dan pemerintah daerah harus beralih dari “pemberian pernyataan” menjadi “aksi konkret”: distribusi bahan bangunan tahan gempa, pelatihan mitigasi komunitas, serta pemetaan zona rawan secara real‑time. Tanpa langkah-langkah ini, pernyataan “jangan panik” berisiko menjadi retorika belaka.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa lama gempa susulan diperkirakan akan terjadi di NTT?
    A: BMKG memperkirakan gempa susulan dapat berlangsung selama 2‑3 minggu setelah gempa utama.
  • Q: Apakah ada risiko tsunami setelah gempa susulan?
    A: Menurut analisis ilmiah BNPB dan BMKG, risiko tsunami sangat kecil karena magnitudo susulan jauh lebih rendah.
  • Q: Apa yang harus dilakukan warga jika rumahnya rusak parah?
    A: Warga disarankan tidak memasuki bangunan yang belum dinyatakan aman, menggunakan tenda atau penampungan sementara yang disediakan pemerintah, dan mengikuti informasi resmi.
Meow! Tanya Nesi!
😸