Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Asap Karhutla Menyelimuti Banjarbaru: Warga Tercekik, Pemerintah Terdiam

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Asap Karhutla Menyelimuti Banjarbaru: Warga Tercekik, Pemerintah Terdiam
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Asap tebal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menurunkan visibilitas hingga 3 meter di Liang Anggang, Banjarbaru.
  • Kualitas udara tercatat 389,4 µg/m³ PM2.5, masuk kategori berbahaya; BMKG mengimbau warga memakai masker.
  • Upaya pemadaman melibatkan helikopter, petugas, dan warga, namun api masih menyala di pinggir jalan hingga sore hari.

Banjarbaru kembali terjerat kabut hitam yang menebal sejak awal pekan ini. Seorang warga bernama Windy, yang melaporkan kondisi melalui Banjarbaru, mengirimkan video yang memperlihatkan asap pekat menutupi jalan utama di Liang Anggang. Jarak pandang turun menjadi tiga meter, mengakibatkan kemacetan parah dan bahkan satu kecelakaan truk muatan motor baru.

"Sesak napas, bahkan dengan masker sekalipun, karena asap masuk ke dalam rumah," kata Windy dalam catatan singkatnya kepada CNNIndonesia.com pada Rabu (19/8). Ia menambahkan bahwa suhu udara terasa sangat dingin, sementara bau asap membuat dada terasa berat. Pada pukul 17.45 WITA, api masih menyala di beberapa titik di lahan pinggir jalan, menandakan bahwa upaya pemadaman belum sepenuhnya berhasil.

Petugas pemadam kebakaran, dibantu helikopter yang melakukan penyiraman dari udara, berusaha memadamkan bara yang terus berkobar. "Saya melihat helikopter mengeluarkan air, dan tim pemadam berusaha memadamkan api di sepanjang jalan," ujar Windy lagi, menyoroti koordinasi darurat yang masih terbatas.

Menurut BMKG, konsentrasi partikel halus PM2.5 di Banjarbaru mencapai 389,4 mikrogram per meter kubik, jauh melampaui ambang batas 250,5 µg/m³ untuk kategori berbahaya. Badan tersebut mengimbau masyarakat mengurangi paparan udara luar, memakai masker N95, dan menghindari aktivitas fisik berat di luar ruangan.

Karhutla ini telah berlangsung selama beberapa minggu, namun intensitas asapnya meningkat tajam pada minggu ini. Sementara itu, warga setempat menuntut respons yang lebih cepat dan tegas dari pemerintah daerah serta penegakan hukum terhadap pembakaran lahan ilegal.

Analisis Pakar

Situasi yang terjadi di Banjarbaru bukan sekadar bencana alam sementara, melainkan manifestasi kegagalan struktural dalam penegakan regulasi lingkungan. Selama bertahun‑tahun, praktik pembakaran lahan untuk membuka ruang pertanian atau perkebunan telah menjadi kebiasaan yang diabaikan, meski sudah jelas menimbulkan dampak kesehatan massal. Pemerintah provinsi dan kabupaten tampaknya masih mengandalkan reaktifitas pasca‑bencana, bukan pencegahan yang berbasis data.

Data BMKG yang menunjukkan PM2.5 hampir dua kali lipat batas aman menegaskan bahwa kualitas udara di Banjarbaru berada pada level kritis. Namun, kebijakan yang hanya berupa anjuran memakai masker tidak cukup. Diperlukan kebijakan darurat yang meliputi penutupan wilayah terdampak, relokasi sementara penduduk yang paling rentan, serta mobilisasi sumber daya pemadam yang memadai, termasuk helikopter yang masih terbatas jumlahnya.

Lebih jauh, akar permasalahan terletak pada kepentingan ekonomi jangka pendek yang menempatkan profitabilitas petani atau perusahaan di atas kesehatan publik. Tanpa penegakan hukum yang tegas—misalnya denda berat, penutupan lahan, atau bahkan penuntutan kriminal—praktik pembakaran akan terus berulang. Pemerintah pusat harus mengintervensi dengan menyediakan dana khusus untuk pencegahan kebakaran, pelatihan pertanian berkelanjutan, dan sistem peringatan dini yang terintegrasi.

Terakhir, dampak kesehatan jangka panjang tidak boleh diabaikan. Paparan PM2.5 pada tingkat ini meningkatkan risiko penyakit pernapasan kronis, kardiovaskular, bahkan mortalitas pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Kegagalan mengatasi krisis ini akan menambah beban pada sistem kesehatan daerah, yang sudah terbatas. Oleh karena itu, respons yang komprehensif dan terkoordinasi antara BMKG, Dinas Lingkungan Hidup, serta aparat penegak hukum menjadi keharusan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa tingkat PM2.5 yang tercatat di Banjarbaru pada 19 Agustus 2024?
    A: Konsentrasi PM2.5 mencapai 389,4 µg/m³, masuk kategori berbahaya.
  • Q: Apa saja rekomendasi BMKG untuk masyarakat?
    A: BMKG menyarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan, memakai masker N95, dan menghindari olahraga berat.
  • Q: Sudah berapa lama kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berlangsung di Liang Anggang?
    A: Kebakaran telah berlangsung selama beberapa minggu, dengan intensitas asap yang meningkat signifikan pada minggu ini.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸