Poros Baru Washington-Damaskus Terusik: Alasan di Balik Kemarahan AS Atas Serangan Israel ke Suriah

- Ringkasan Singkat Amerika Serikat mengecam keras serangan udara Israel ke pangkalan udara Abu Al Duhur di Suriah, menyebutnya sebagai eskalasi yang tidak perlu.
- Hubungan AS dan Suriah di bawah pemerintahan Donald Trump mengalami pemulihan drastis pasca-jatuhnya rezim Bashar Al Assad ke tangan Ahmed Al Sharaa.
- Turki turut mengecam serangan tersebut karena lokasinya yang dekat dengan perbatasan dan berpotensi mengganggu stabilitas regional yang sedang dibangun bersama AS.
Ringkasan Singkat
- Amerika Serikat mengecam keras serangan udara Israel ke pangkalan udara Abu Al Duhur di Suriah, menyebutnya sebagai eskalasi yang tidak perlu.
- Hubungan AS dan Suriah di bawah pemerintahan Donald Trump mengalami pemulihan drastis pasca-jatuhnya rezim Bashar Al Assad ke tangan Ahmed Al Sharaa.
- Turki turut mengecam serangan tersebut karena lokasinya yang dekat dengan perbatasan dan berpotensi mengganggu stabilitas regional yang sedang dibangun bersama AS.
Ketegangan baru kembali membara di Timur Tengah setelah militer Israel melancarkan serangan udara ke pangkalan udara Abu Al Duhur di Suriah. Namun, reaksi paling keras justru datang dari sekutu terdekat Israel, yaitu Amerika Serikat. Washington secara terbuka mengecam tindakan tersebut sebagai langkah destruktif yang dapat merusak peta perdamaian baru yang sedang dirancang di kawasan tersebut.
Utusan Khusus AS untuk Suriah sekaligus Duta Besar untuk Turki, Tom Barrack, menegaskan bahwa serangan tersebut sama sekali tidak diperlukan. Melalui pernyataan resminya, Barrack menekankan bahwa pemerintahan baru Suriah di bawah pimpinan Ahmed Al Sharaa tidak menunjukkan sikap agresif terhadap Israel, melainkan fokus pada stabilisasi domestik pasca-runtuhnya rezim Bashar Al Assad pada Desember 2024.
Serangan Israel yang menargetkan infrastruktur vital ini juga memicu kemarahan dari Turki. Pangkalan Abu Al Duhur terletak hanya 70 kilometer dari perbatasan Turki, negara yang kini menjadi sekutu strategis baru bagi Damaskus. Ankara mengecam keras aksi unilateral Israel dan mendesak komunitas internasional untuk menghentikan agresi yang dinilai dapat memicu konflik regional yang lebih luas.
Kedekatan Washington dengan Damaskus saat ini merupakan hasil dari diplomasi intensif di bawah pemerintahan Donald Trump. Sejak pertemuan bersejarah di Riyadh pada Mei 2025 hingga kunjungan Al Sharaa ke Gedung Putih pada November 2025, AS telah melonggarkan sanksi ekonomi, menghapus Al Sharaa dari daftar teroris, dan bahkan menarik seluruh pasukannya dari Suriah pada April 2026 untuk memberikan ruang bagi kedaulatan penuh pemerintahan baru.
Analisis Pakar
Dari perspektif hubungan internasional, kemarahan AS terhadap Israel mencerminkan pergeseran paradigma geopolitik yang sangat signifikan di Timur Tengah. Selama dekade terakhir, kebijakan luar negeri AS di kawasan ini selalu menempatkan Israel sebagai poros utama keamanan. Namun, keberhasilan Ahmed Al Sharaa menggulingkan rezim Assad yang pro-Rusia dan pro-Iran telah membuka peluang emas bagi Washington untuk mendesain ulang arsitektur keamanan regional tanpa harus bergantung pada intervensi militer langsung. Dengan merangkul Damaskus, AS berhasil memutus rantai pengaruh Teheran dan Moskow secara lebih efektif dan murah.
Serangan Israel ke pangkalan Abu Al Duhur menunjukkan adanya misalignment atau ketidakselarasan strategis antara Tel Aviv dan Washington. Israel tampaknya masih terjebak dalam doktrin keamanan lama yang memandang setiap jengkal wilayah Suriah sebagai ancaman potensial atau proksi Iran. Sebaliknya, AS melihat Suriah baru sebagai mitra pragmatis yang perlu dirangkul dan distabilkan. Tindakan sepihak Israel ini tidak hanya mengancam proses transisi demokrasi di Suriah, tetapi juga merusak kredibilitas diplomasi AS yang telah bersusah payah membangun kepercayaan dengan pemerintahan Al Sharaa.
Selain itu, faktor Turki tidak boleh diabaikan. Ankara kini memainkan peran krusial sebagai penjamin keamanan di Suriah utara dan pelatih militer nasional Suriah yang baru. AS sangat menyadari bahwa stabilitas Suriah sangat bergantung pada sinergi antara Ankara dan Damaskus. Serangan Israel yang mendekati perbatasan Turki berisiko menyeret Ankara ke dalam konfrontasi langsung, sebuah skenario mimpi buruk yang ingin dihindari oleh pemerintahan Trump. Oleh karena itu, reaksi keras AS juga berfungsi sebagai jaminan keamanan implisit bagi Turki untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Pada akhirnya, insiden ini menguji ketahanan aliansi AS-Israel. Di bawah kepemimpinan Trump yang transaksional dan berorientasi pada hasil cepat, loyalitas tanpa syarat kepada Israel mulai bergeser ketika kepentingan strategis AS yang lebih besar—yaitu stabilitas regional dan pengurangan keterlibatan militer—terganggu. Jika Israel terus mengabaikan garis merah diplomatik yang ditarik oleh Washington di Suriah, kita mungkin akan melihat keretakan yang lebih dalam dalam hubungan bilateral kedua negara sekutu tradisional ini.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Mengapa Amerika Serikat mengecam serangan Israel ke Suriah?
A: AS mengecam serangan tersebut karena dinilai sebagai eskalasi yang tidak perlu dan dapat mengganggu stabilitas pemerintahan baru Suriah di bawah Ahmed Al Sharaa yang kini menjadi mitra diplomatik penting bagi Washington.
Q: Bagaimana hubungan antara AS dan Suriah saat ini?
A: Hubungan kedua negara membaik secara drastis di bawah pemerintahan Trump, ditandai dengan penangguhan sanksi ekonomi, penghapusan nama Al Sharaa dari daftar teroris, pembukaan kedutaan besar di Washington, dan penarikan penuh pasukan AS dari Suriah.
Q: Apa peran Turki dalam dinamika baru ini?
A: Turki bertindak sebagai sekutu baru Suriah yang melatih militer nasional mereka. AS khawatir serangan Israel di dekat perbatasan Turki dapat memicu kesalahpahaman militer dan merusak stabilitas kawasan yang sedang dibangun bersama.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Korea Utara Tolak Tuduhan FBI Soal Peretasan Binance, Kim Yo Jong Sebut Klaim AS Retorika Absurd

Gelombang Besar Pemilih AS Hadiri TPS Pemilu Sela, Dinamika Politik Global Dipertaruhkan

Lukashenko Dorong Donald Trump Jadi Sekjen PBB untuk Bersihkan 'Rawa-Rawa' Organisasi
