Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Polri Tanam Bawang Putih di 14 Daerah Jabar: Upaya Swasembada atau Sekadar Panggung Politik?

EkonomiDian KusumaDian KusumaSumber: CNN Nasional
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Polri Tanam Bawang Putih di 14 Daerah Jabar: Upaya Swasembada atau Sekadar Panggung Politik?
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Ringkasan Singkat Polri menanam bawang putih secara serentak di 14 wilayah Jawa Barat sebagai bagian dari program AstaCita dan rangkaian HUT ke‑81 RI.
  • Target produksi nasional masih sangat bergantung pada impor (≈95 %); program ini menargetkan 279,53 ha dengan potensi panen 2.795,4 ton.
  • Polri mengklaim dukungan riset, bibit, dan infrastruktur air, namun kritikus menilai inisiatif ini masih jauh dari solusi ketahanan pangan jangka panjang.

Ringkasan Singkat

  • Polri menanam bawang putih secara serentak di 14 wilayah Jawa Barat sebagai bagian dari program AstaCita dan rangkaian HUT ke‑81 RI.
  • Target produksi nasional masih sangat bergantung pada impor (≈95 %); program ini menargetkan 279,53 ha dengan potensi panen 2.795,4 ton.
  • Polri mengklaim dukungan riset, bibit, dan infrastruktur air, namun kritikus menilai inisiatif ini masih jauh dari solusi ketahanan pangan jangka panjang.

JAKARTA – Polri meluncurkan penanaman serentak bawang putih di 14 kabupaten/kota Jawa Barat, termasuk Cianjur Utara, sebagai bagian dari program Asta Cita yang menempatkan ketahanan pangan sebagai pilar kemandirian bangsa. Kegiatan ini sekaligus menjadi rangkaian perayaan HUT ke‑81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Menurut Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo, program ini dimulai pada 2025 melalui kerja sama dengan kelompok tani, dan pada 2026 telah mencakup 948 ha dengan panen basah 9.480 ton. Di Jawa Barat, total lahan yang ditanami mencapai 279,53 ha dengan estimasi hasil 2.795,4 ton, sementara secara nasional kebutuhan bawang putih melampaui 600 ribu ton per tahun dan 95 % masih dipenuhi lewat impor.

Kapolda Jawa Barat Irjen Pol. Dr. Pipit Rismanto menyoroti tiga tantangan utama: keterbatasan sumber daya manusia, ketersediaan bibit, dan pasokan air. Untuk mengatasinya, Polri membentuk tim riset kolaboratif beranggotakan 25 orang, melibatkan Bakomsus Pertanian, petani, mahasiswa, dan pakar agronomi. Bibit didapatkan dari PTPN (1 ton) dan swadaya, sementara proyek irigasi dan rencana greenhouse pembibitan sedang dipersiapkan.

Selain penanaman, Polri juga merencanakan pembangunan Gudang Ketahanan Pangan (GKP) di Sembalun, Lombok Timur, yang akan berfungsi sebagai fasilitas penyimpanan dan penjemuran bawang putih. GKP diharapkan dapat menjaga mutu hasil panen dan menstabilkan pasokan pasar domestik.

Analisis Pakar

Inisiatif Polri ini memang patut diapresiasi karena menyoroti peran institusi keamanan dalam agenda ketahanan pangan. Namun, ada pertanyaan mendasar tentang efektivitas dan keberlanjutan program. Pertama, skala 279 ha di Jawa Barat masih terbilang kecil bila dibandingkan dengan kebutuhan nasional yang mencapai ratusan ribu hektar. Tanpa dukungan kebijakan agrikultur yang lebih luas—misalnya subsidi pupuk, insentif pajak, atau akses kredit bagi petani—program ini berisiko menjadi simbolik semata.

Kedua, ketergantungan pada impor bawang putih tidak hanya soal kuantitas, melainkan juga kualitas dan harga. Upaya menurunkan impor harus diiringi dengan peningkatan varietas unggul yang tahan hama, serta mekanisme pemasaran yang adil. Kolaborasi Polri dengan PTPN memang langkah awal, namun tidak cukup untuk menciptakan rantai pasok yang mandiri.

Ketiga, peran Polri dalam bidang pertanian menimbulkan dilema tata kelola. Aparatur kepolisian tidak memiliki keahlian agronomi yang mendalam, sehingga keberhasilan sangat bergantung pada tim riset kolaboratif. Jika tim ini tidak terintegrasi dengan Dinas Pertanian daerah dan lembaga riset nasional, program dapat terfragmentasi dan kehilangan momentum.

Terakhir, pembangunan GKP di Lombok Timur menimbulkan pertanyaan tentang distribusi geografis. Mengapa gudang utama dibangun jauh dari pusat produksi Jawa Barat? Logistik tambahan akan menambah biaya, yang pada akhirnya dapat mengurangi keuntungan petani lokal. Kebijakan harus mempertimbangkan lokasi strategis yang meminimalkan biaya transportasi dan memaksimalkan akses pasar.

Secara keseluruhan, program ini mencerminkan niat baik, namun tanpa sinergi lintas sektoral, dukungan kebijakan yang konsisten, dan investasi jangka panjang, upaya swasembada bawang putih akan tetap terhambat. Pemerintah perlu mengubah inisiatif simbolik menjadi kebijakan struktural yang menggerakkan seluruh ekosistem pertanian nasional.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa persen kebutuhan bawang putih Indonesia dipenuhi dari impor?
    A: Sekitar 95 % kebutuhan bawang putih nasional masih diimpor.
  • Q: Berapa luas lahan yang ditanami bawang putih dalam program Polri di Jawa Barat?
    A: Total lahan yang ditanami mencapai 279,53 hektare.
  • Q: Apa tujuan utama dibangunnya Gudang Ketahanan Pangan di Lombok Timur?
    A: Gudang tersebut akan menjadi fasilitas penyimpanan dan penjemuran bawang putih untuk menjaga mutu hasil panen serta menstabilkan pasokan pasar domestik.
Meow! Tanya Nesi!
😸