Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Minyak Naik 4 Hari Berturut-turut: Ketegangan Selat Hormuz Dorong Harga ke US$91,28

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNN Ekonomi
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Minyak Naik 4 Hari Berturut-turut: Ketegangan Selat Hormuz Dorong Harga ke US$91,28
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Harga Brent naik 0,29% menjadi US$91,28 per barel; WTI menguat 0,44% menjadi US$85,31.
  • Kenaikan terjadi di tengah pernyataan berlawanan Donald Trump dan Iran mengenai status Selat Hormuz.
  • Pasar energi tetap waspada, menilai risiko gangguan pasokan dan implikasi pada arus kas perusahaan energi global.

Harga minyak dunia melanjutkan tren naik untuk hari keempat berturut‑turut pada Rabu (19/8). Brent tercatat naik 26 sen atau 0,29% menjadi US$91,28 per barel, sementara WTI naik 37 sen menjadi US$85,31 per barel. Kedua kontrak menutup pada level tertinggi sejak 24 Juli, menandakan tekanan beli yang masih kuat meski harapan damai antara AS dan Iran semakin memudar.

Pernyataan Donald Trump pada Selasa menyebut tidak ada pembicaraan dengan Tehran dan menegaskan Selat Hormuz tetap terbuka untuk pelayaran. Klaim ini berlawanan dengan tuduhan Iran yang menyatakan selat tersebut masih ditutup bagi kapal. Ketegangan ini muncul usai berakhirnya gencatan senjata sementara pada 17 Agustus, menambah ketidakpastian pasokan minyak global.

Investor kini memantau dengan saksama dinamika diplomatik serta aktivitas kapal di Selat Hormuz. Setiap indikasi penutupan atau serangan dapat memicu lonjakan harga lebih lanjut, mengingat selat ini menyumbang sekitar 20% volume perdagangan minyak dunia.

Analisis Pakar

Sebagai pakar macroekonomi, saya menilai bahwa pergerakan harga saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor geopolitik daripada fundamental permintaan. Ketidakpastian di Selat Hormuz menimbulkan premi risiko yang secara otomatis terrefleksikan dalam kontrak berjangka minyak. Bagi perusahaan energi, terutama yang memiliki eksposur tinggi terhadap pasar spot, volatilitas ini dapat menggerus margin operasional jika tidak dikelola dengan strategi lindung nilai yang tepat.

Di sisi lain, pasar futures menunjukkan penurunan open interest, menandakan bahwa spekulan mulai mengurangi eksposur mereka. Hal ini memberi sinyal bahwa kenaikan harga selanjutnya tidak akan bersifat berkelanjutan kecuali terjadi eskalasi militer yang nyata. Investor institusional sebaiknya meninjau kembali alokasi portofolio mereka, mempertimbangkan penambahan energy ETFs yang memiliki diversifikasi geografis, atau meningkatkan eksposur pada perusahaan yang memiliki cadangan produksi di luar kawasan Teluk.

Selain itu, kebijakan moneter global yang masih longgar memberikan dukungan likuiditas bagi pasar komoditas. Namun, jika inflasi tetap tinggi dan bank sentral mulai mengetatkan kebijakan, aliran dana ke aset riil seperti minyak dapat berkurang, menurunkan tekanan beli. Oleh karena itu, penting bagi pelaku bisnis untuk memantau tidak hanya perkembangan politik, tetapi juga sinyal kebijakan moneter di Amerika Serikat dan Eropa.

Kesimpulannya, ketegangan di Selat Hormuz berfungsi sebagai katalis jangka pendek yang mendorong harga naik, namun fundamental permintaan global dan kebijakan moneter akan menjadi penentu arah jangka menengah hingga panjang. Perusahaan yang dapat mengelola risiko geopolitik melalui kontrak forward atau diversifikasi geografis akan lebih siap menghadapi fluktuasi ini.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa harga minyak naik meski tidak ada konflik terbuka?
    A: Karena pasar menilai risiko potensial penutupan Selat Hormuz, yang dapat mengganggu pasokan 20% minyak dunia, sehingga menambah premi risiko.
  • Q: Bagaimana dampak ketegangan ini bagi perusahaan energi Indonesia?
    A: Harga impor bahan bakar naik, meningkatkan biaya produksi dan margin, namun perusahaan yang memiliki cadangan atau kontrak lindung nilai dapat melindungi profitabilitas.
  • Q: Apakah kenaikan harga minyak akan memicu inflasi di Indonesia?
    A: Ya, kenaikan harga energi biasanya menular ke harga barang dan jasa, terutama transportasi, sehingga berpotensi menambah tekanan inflasi.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸