Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Mantan Menteri Pertahanan Ukraina Desak Zelensky Gelar Pemilu di Tengah Konflik: Apa Dampaknya?

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Mantan Menteri Pertahanan Ukraina Desak Zelensky Gelar Pemilu di Tengah Konflik: Apa Dampaknya?
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Ringkasan Singkat Mykhailo Fedorov, mantan Menteri Pertahanan Ukraina, menuntut pemilihan umum meski perang masih berlangsung.
  • Fedorov menekankan bahwa demokrasi tidak boleh disandera oleh Rusia dan mengusulkan mekanisme pemilu yang aman dan realistis.
  • Seruan tersebut memicu demonstrasi pendukungnya di Kyiv dan menambah tekanan politik pada Presiden Volodymyr Zelenskyy.

Ringkasan Singkat

  • Mykhailo Fedorov, mantan Menteri Pertahanan Ukraina, menuntut pemilihan umum meski perang masih berlangsung.
  • Fedorov menekankan bahwa demokrasi tidak boleh disandera oleh Rusia dan mengusulkan mekanisme pemilu yang aman dan realistis.
  • Seruan tersebut memicu demonstrasi pendukungnya di Kyiv dan menambah tekanan politik pada Presiden Volodymyr Zelenskyy.

Dalam sebuah video yang diunggah ke YouTube pada Selasa 18 Agustus, MykhailoFedorov menegaskan bahwa proses demokrasi Ukraina tidak boleh ditunda oleh konflik bersenjata yang sedang berlangsung. Ia mengkritik keputusan Presiden VolodymyrZelensky yang mencopotnya dari jabatan Menteri Pertahanan pada Juli lalu, dan menyerukan pemerintah untuk segera menemukan “mekanisme yang legal, aman, dan realistis” guna melaksanakan pemilu nasional.

Sejak invasi Rusia pada Februari 2022, Ukraina berada dalam status darurat militer, yang secara de‑facto menunda semua agenda pemilihan umum. Fedorov mengakui bahwa mengadakan pemilu di tengah perang “rumit, tetapi bukan tidak mungkin.” Ia menyoroti tantangan logistik, termasuk memastikan hak suara bagi tentara di garis depan, warga sipil yang tinggal di zona konflik, serta jutaan pengungsi Ukraina di luar negeri.

Selama masa jabatannya sejak Januari 2022, Fedorov berupaya melakukan reformasi militer, menghadapi tuduhan korupsi, kekurangan peralatan, serta ketidakpuasan terhadap program mobilisasi. Pencopotan dirinya memicu aksi protes selama beberapa minggu, menambah tekanan politik pada kepemimpinan Zelenskyy yang kini telah menunjuk Yevgeniy Khmara sebagai Menteri Pertahanan sementara, menunggu persetujuan parlemen.

Demonstrasi pendukung Fedorov dijadwalkan berlangsung di depan gedung parlemen pada Rabu 19 Agustus, dipimpin oleh mantan penasihatnya Sergiy Sternenko. Meskipun menyerukan pemilu, Fedorov belum mengumumkan rencana politik pribadi, menyatakan bahwa ia hanya akan kembali ke pemerintahan jika diangkat kembali sebagai Menteri Pertahanan.

Analisis Pakar

Seruan Fedorov menyoroti dilema strategis yang dihadapi Ukraina: menyeimbangkan kebutuhan keamanan nasional dengan legitimasi politik yang berasal dari proses demokratis. Dari perspektif hubungan internasional, pemilu yang diadakan di tengah konflik dapat menjadi sinyal kuat kepada komunitas internasional bahwa Ukraina tetap berkomitmen pada nilai‑nilai demokrasi, sekaligus memperkuat posisi tawar dalam negosiasi damai atau bantuan militer. Namun, risiko operasional—seperti potensi serangan terhadap tempat pemungutan suara atau manipulasi hasil oleh pihak yang berperang—juga sangat tinggi.

Secara domestik, pemilu dapat menjadi katalisator bagi koalisi politik baru yang lebih kritis terhadap kebijakan militer Zelenskyy. Fedorov, dengan latar belakang reformasi pertahanan, mungkin menjadi figur sentral bagi kelompok yang menuntut akuntabilitas dan transparansi dalam penggunaan bantuan asing. Jika pemilu berhasil dilaksanakan, hasilnya dapat memperkuat atau melemahkan kepemimpinan Zelenskyy, tergantung pada sejauh mana publik menilai penanganan perang dan reformasi internal.

Di sisi lain, tekanan internasional—terutama dari Uni Eropa dan NATO—cenderung mendukung upaya demokratisasi, namun mereka juga khawatir bahwa pemilu yang terganggu dapat menimbulkan kekosongan kekuasaan yang dimanfaatkan oleh Rusia. Oleh karena itu, komunitas internasional kemungkinan akan menawarkan dukungan logistik, seperti sistem pemungutan suara jarak jauh dan perlindungan keamanan, sambil menuntut standar transparansi yang ketat.

Kesimpulannya, seruan Fedorov bukan sekadar pertarungan pribadi melawan Zelenskyy, melainkan refleksi dari ketegangan struktural antara kebutuhan militer dan aspirasi demokratis. Keberhasilan atau kegagalan upaya menggelar pemilu akan menjadi indikator penting bagi masa depan politik Ukraina dan dinamika geopolitik di kawasan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa Mykhailo Fedorov menuntut pemilu di tengah perang?
    A: Ia berargumen bahwa demokrasi tidak boleh disandera oleh konflik, dan pemilu dapat memberikan legitimasi internasional serta menegaskan komitmen Ukraina terhadap nilai‑nilai demokratis.
  • Q: Bagaimana Ukraina dapat mengatur pemilu dengan jutaan warga di luar negeri?
    A: Pemerintah mempertimbangkan sistem pemungutan suara elektronik, pos, atau perwakilan diplomatik untuk memastikan hak pilih diaspora tetap terjaga.
  • Q: Apa dampak politik internal jika pemilu berhasil dilaksanakan?
    A: Hasil pemilu dapat memperkuat atau melemahkan posisi Presiden Zelenskyy, membuka ruang bagi oposisi yang menuntut reformasi militer, serta memengaruhi alokasi bantuan internasional.
Meow! Tanya Nesi!
😸