Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Israel Serang Pangkalan Udara Suriah Meski Ditentang AS: Apa Motif di Balik Keputusan Netanyahu?

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Israel Serang Pangkalan Udara Suriah Meski Ditentang AS: Apa Motif di Balik Keputusan Netanyahu?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Israel menembak pangkalan udara di Idlib, menuduh kehadiran Turki sebagai ancaman bagi keamanan Tel Aviv.
  • Serangan terjadi meski Amerika Serikat secara terbuka mengkritik aksi militer Israel dan mendukung proses transisi politik di Suriah.
  • Ketegangan antara Israel, Turki, dan AS menambah kompleksitas geopolitik di Timur Tengah, dengan potensi implikasi bagi stabilitas regional.

Dalam sebuah pernyataan resmi, kantor Perdana Menteri Netanyahu menegaskan bahwa serangan udara pada Selasa (18/8) dini hari menargetkan landasan pacu pangkalan udara Abu Duhur di provinsi Idlib, Suriah. Menurut pihak Israel, langkah tersebut diambil karena Turki berencana menempatkan pasukan di fasilitas militer yang sebelumnya tidak beroperasi sejak 2012, yang dianggap dapat menimbulkan ancaman langsung terhadap wilayah Israel.

Media pemerintah Suriah, mengutip sumber militer, melaporkan bahwa delapan pesawat Israel menyerang landasan tersebut, merusak infrastruktur tanpa menimbulkan korban jiwa. Sumber keamanan setempat menambahkan bahwa pangkalan berada di bawah perlindungan Kementerian Pertahanan Suriah. Turki, yang merupakan negara mayoritas Muslim pertama yang mengakui Israel dan anggota NATO, telah mengirim delegasi militer ke lokasi itu dalam upaya mengaktifkannya kembali.

Serangan ini menandai pembangkangan luar biasa Israel terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat, yang saat ini berupaya mendukung pemerintahan transisi di Suriah setelah runtuhnya rezim Bashar al‑Assad. Utusan AS untuk Suriah, Tom Barrack, mengkritik keras aksi tersebut, menyebutnya "eskalasi yang tidak perlu" dan menyerukan dialog rasional.

Sejak Desember 2024, Israel telah melancarkan ratusan serangan ke wilayah Suriah, termasuk zona penyangga yang dipantau PBB dan Dataran Tinggi Golan yang diduduki sejak 1974. Namun, serangan terbaru menembus jauh ke dalam wilayah Suriah, menandakan perubahan taktik yang mungkin dimotivasi oleh persepsi ancaman yang meningkat serta keinginan memanfaatkan kelemahan militer Suriah pasca‑perang saudara.

Analisis Pakar

Serangan Israel ke pangkalan Abu Duhur harus dipahami dalam konteks dinamika keamanan yang semakin kompleks di Timur Tengah. Pertama, kehadiran pasukan Turki di wilayah utara Suriah bukan sekadar langkah taktis; ia mencerminkan ambisi Ankara untuk memperluas zona pengaruhnya setelah kegagalan operasi militer di Idlib pada 2020. Bagi Israel, setiap peningkatan kemampuan militer Turki di dekat perbatasan dapat dianggap sebagai potensi ancaman strategis, terutama mengingat kemampuan Turki dalam mengoperasikan sistem pertahanan udara dan rudal jarak menengah.

Kedua, keputusan Netanyahu untuk melancarkan serangan meski mendapat kecaman dari Washington menandakan adanya jarak yang semakin lebar antara kepentingan keamanan Israel dan kebijakan luar negeri AS. Washington kini lebih fokus pada stabilitas politik Suriah dan menghindari eskalasi militer yang dapat memperburuk krisis kemanusiaan. Israel, di sisi lain, menilai bahwa tindakan preventif diperlukan untuk mencegah perubahan keseimbangan kekuatan yang dapat mengancam keamanan nasionalnya. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana koordinasi intelijen dan kebijakan strategis antara sekutu tradisional ini masih relevan.

Ketiga, reaksi Turki terhadap serangan tersebut kemungkinan akan memperdalam keretakan hubungan bilateral dengan Israel. Meskipun Turki pernah menjadi satu‑satunya negara Muslim yang secara resmi mengakui Israel, hubungan kedua negara telah lama tegang karena kebijakan luar negeri Erdogan yang pro‑Palestina dan kritik keras terhadap operasi militer Israel di Gaza. Serangan ini dapat memicu respons militer atau diplomatik lebih lanjut dari Ankara, yang pada gilirannya dapat memengaruhi dinamika NATO, mengingat kedua negara merupakan anggota aliansi yang sama.

Akhirnya, implikasi regionalnya tidak dapat diabaikan. Rusia, yang masih menempatkan pasukan di Suriah, mungkin melihat peluang untuk memperkuat peran mediasi atau, sebaliknya, menambah tekanan pada pihak‑pihak yang terlibat. Iran, yang mendukung rezim Assad, dapat memanfaatkan narasi anti‑Israel untuk memperkuat jaringan militernya di wilayah tersebut. Dengan demikian, satu serangan yang tampak terfokus pada ancaman Turki dapat berujung pada rangkaian reaksi berantai yang memengaruhi keseimbangan kekuatan di seluruh kawasan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa Israel tetap melancarkan serangan meski mendapat kecaman dari Amerika Serikat?
    A: Israel menilai kehadiran pasukan Turki di pangkalan udara Suriah sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya, sehingga memutuskan tindakan preventif meski bertentangan dengan kebijakan AS yang lebih fokus pada diplomasi dan stabilitas politik Suriah.
  • Q: Apa status kehadiran militer Turki di Suriah saat ini?
    A: Turki mempertahankan sejumlah pos militer di wilayah utara Suriah, terutama di sekitar Idlib, sebagai bagian dari operasi “Euphrates Shield” dan “Operation Peace Spring”, meskipun fasilitas tertentu seperti pangkalan Abu Duhur belum beroperasi secara resmi sejak 2012.
  • Q: Bagaimana serangan ini dapat memengaruhi hubungan antara Amerika Serikat dan Israel?
    A: Meskipun serangan menimbulkan ketegangan diplomatik, hubungan strategis jangka panjang antara AS dan Israel tetap kuat; namun, perbedaan pandangan ini dapat memicu diskusi ulang mengenai koordinasi militer dan kebijakan luar negeri di kawasan Timur Tengah.
Meow! Tanya Nesi!
😸