Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Erdogan Gagalkan Rencana Rahasia CIA-Mossad untuk Memperlengkapi Milisi Kurdi di Iran

DuniaBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Erdogan Gagalkan Rencana Rahasia CIA-Mossad untuk Memperlengkapi Milisi Kurdi di Iran
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Menurut laporan, CIA dan Mossad merencanakan pemberian senjata kepada milisi Kurdi di Irak untuk melancarkan operasi melintasi perbatasan Iran.
  • Recep Tayyip Erdogan menolak rencana tersebut, mengingat ancaman keamanan bagi Turki.
  • Usulan tersebut gagal setelah kebocoran, penolakan Washington, dan tekanan diplomatik dari Ankara serta negara‑negara Teluk.

Sejumlah laporan media Barat, termasuk The Telegraph dan The New York Times, mengungkapkan bahwa pada awal 2024 CIA bersama Mossad menyusun skenario untuk memfasilitasi milisi Kurdi yang beroperasi di bawah naungan Kurdistan Regional Government (KRG). Rencana tersebut melibatkan penempatan ribuan pejuang Kurdi di wilayah Irak, yang kemudian akan menyeberang ke Iran dengan dukungan udara Amerika Serikat, dengan tujuan memicu pemberontakan dan menggulingkan rezim Tehran.

Usulan ini muncul setelah kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Gedung Putih pada Februari 2024, di mana ia menyampaikan keprihatinan Israel terhadap program nuklir Iran. Namun, Erdogan secara tegas menolak skenario tersebut, mengingat sejarah konflik Turki dengan kelompok Kurdi serta potensi eskalasi di perbatasan timur Turki. Dalam pertemuan dengan mantan Presiden AS Donald Trump, Erdogan menegaskan bahwa ia tidak akan mentolerir kemerdekaan Kurdi di wilayah mana pun, mengingat implikasi keamanan nasional Turki.

Menurut pejabat senior Israel yang diwawancarai, intelijen tidak pernah menjamin keberhasilan perubahan rezim di Iran; mereka hanya menyatakan bahwa operasi tersebut dapat meningkatkan probabilitas. Sementara itu, pejabat AS menilai invasi darat oleh milisi Kurdi sebagai tidak realistis. Trump sendiri menyebut skenario tersebut “konyol” setelah menerima briefing dari Direktur CIA John Ratcliffe. Meskipun demikian, pada satu titik Trump bertemu dengan pemimpin Kurdi, namun tidak ada keputusan akhir yang diambil.

Rencana tersebut mulai runtuh setelah detail operasinya bocor ke media, dan Gedung Putih membantah adanya program senjata kepada milisi Kurdi. Erdogan terus melobi di Washington untuk menutup rencana itu, sementara negara‑negara Teluk memperingatkan bahwa perpecahan etnis di Iran dapat mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah secara lebih luas.

Setelah kegagalan rencana, Direktur Mossad Roman Gofman memecat dua pejabat tinggi yang terlibat dalam persiapan operasi. Isu perubahan rezim Iran kembali dibahas dalam pertemuan Oval Office antara Trump dan Netanyahu, namun tidak menghasilkan konsensus. Akhirnya, Trump tampak lebih memilih strategi blokade ekonomi jangka panjang daripada serangan militer langsung terhadap Iran.

Analisis Pakar

Rencana yang melibatkan CIA dan Mossad mencerminkan dinamika geopolitik yang semakin kompleks di kawasan Timur Tengah. Upaya memanfaatkan milisi Kurdi sebagai alat proksi bukanlah hal baru; namun, kegagalan ini menyoroti keterbatasan strategi “proxy war” ketika kepentingan regional bersinggungan. Turki, sebagai negara dengan populasi Kurdi terbesar di luar wilayah Kurdi, memiliki kepentingan keamanan yang sangat sensitif, sehingga penolakan Erdogan dapat dipahami secara logis.

Di sisi lain, kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah administrasi Trump menunjukkan ambiguitas antara keinginan untuk menekan Tehran dan keengganan untuk terlibat dalam konflik konvensional yang dapat meluas. Penolakan resmi Gedung Putih serta komentar skeptis dari pejabat senior menandakan bahwa, meskipun ada dorongan untuk “menyulut” perubahan rezim, realitas operasional dan risiko geopolitik membuat opsi militer menjadi tidak menarik.

Israel, yang secara tradisional menempati posisi paling agresif terhadap program nuklir Iran, tampaknya masih mencari cara untuk memperlemah Tehran tanpa melibatkan diri secara langsung dalam konflik berskala besar. Kegagalan rencana ini dapat memperkuat argumen bahwa pendekatan diplomatik, sanksi ekonomi, dan tekanan multilateral masih menjadi jalur utama bagi Moskow, Washington, dan Tel Aviv.

Ke depan, dinamika internal Iran—termasuk ketegangan etnis antara mayoritas Persia dan minoritas Kurdi—akan tetap menjadi faktor penting. Namun, tanpa dukungan kuat dari kekuatan eksternal yang bersedia menanggung konsekuensi militer, kemungkinan terjadinya pemberontakan berskala besar tetap rendah. Kebijakan Turki yang menolak pemberian senjata kepada Kurdi dapat menjadi penentu utama dalam menjaga status quo di perbatasan timur Turki dan mencegah eskalasi lebih lanjut.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apakah benar CIA dan Mossad berencana mempersenjatai milisi Kurdi untuk menyerang Iran?
    A: Laporan media menyebutkan adanya pembicaraan internal, namun Gedung Putih membantah adanya program resmi.
  • Q: Mengapa Erdogan menolak rencana tersebut?
    A: Erdogan khawatir pemberian senjata kepada Kurdi dapat memperkuat kelompok separatis yang mengancam keamanan Turki.
  • Q: Apa implikasi kegagalan rencana ini bagi hubungan AS‑Israel‑Turki?
    A: Kegagalan menyoroti perbedaan prioritas strategis; AS lebih berhati-hati, Israel tetap agresif, sementara Turki menegaskan kepentingan keamanan nasionalnya.
Meow! Tanya Nesi!
😸