Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Ecopreneurship di Lapas Perempuan Bandung: Mahasiswa Widyatama Bantu Warga Binaan Jadi Pengusaha Plastik Daur Ulang

EkonomiHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNN Nasional
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Ecopreneurship di Lapas Perempuan Bandung: Mahasiswa Widyatama Bantu Warga Binaan Jadi Pengusaha Plastik Daur Ulang
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Tim PKM Universitas Widyatama melatih narapidana perempuan mengolah limbah plastik menjadi produk bernilai jual.
  • Radea Respati Paramudhita, Ketua Komisi I DPRD Kota Bandung, memuji program sebagai langkah konkret pemberdayaan ekonomi dan lingkungan.
  • Pengamat menilai keberlanjutan program bergantung pada sinergi lintas sektor: pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha.

Bandung, 18 Agustus 2024 – Sebuah inisiatif ecopreneurship yang digulirkan oleh Universitas Widyatama di Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung mendapat sorotan khusus dari Radea Respati Paramudhita, Ketua Komisi I DPRD Kota Bandung. Kegiatan yang bertajuk “Ecopreneurship Berbasis Daur Ulang Limbah Plastik Rumah Tangga sebagai Upaya Pemberdayaan Ekonomi Warga Binaan” tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, melainkan juga membuka jalur pasar bagi produk-produk kreatif para narapidana.

Program ini dipimpin oleh Dr. Rima Rahmayanti, SE., MM, yang juga mengundang Radea sebagai anggota tim PKM. Selain itu, perwakilan Sekretariat DPRD, Dinas Lingkungan Hidup, serta Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Bandung turut hadir, menandakan adanya dukungan lintas sektor.

Menurut Radea, keberhasilan program tidak dapat diukur semata dari jumlah produk yang dihasilkan. “Kita harus melihat peningkatan keterampilan, kepercayaan diri, dan kesiapan warga binaan untuk mandiri setelah keluar dari lembaga,” ujarnya. Ia menekankan bahwa pelatihan harus diikuti dengan pendampingan pemasaran, pengembangan produk, dan akses ke jaringan usaha.

Konsep ecopreneurship yang diusung menawarkan dua manfaat utama: mengurangi timbulan sampah plastik rumah tangga dan menciptakan peluang ekonomi baru. “Sampah yang dulu dianggap beban kini menjadi sumber pendapatan,” kata Radea. Namun, ia memperingatkan bahwa tanpa ekosistem yang terintegrasi—dari pelatihan hingga penjualan—inisiatif semacam ini berisiko menjadi proyek satu kali yang tidak berkelanjutan.

Para peserta PKM, antara lain Shinta Oktafien, Pipin Sukandi, Imanirrahma Salsabil, dan delapan mahasiswa lainnya, berhasil menghasilkan beberapa prototipe produk daur ulang, mulai dari tas hingga aksesoris rumah tangga. Mereka kini menantikan dukungan lebih lanjut dari pemerintah kota untuk memasarkan produk tersebut melalui kanal UMKM dan platform digital.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat program ini sebagai contoh konkret bagaimana perguruan tinggi dapat berperan sebagai agen perubahan sosial. Namun, antusiasme yang tampak di permukaan sering kali menutupi tantangan struktural yang lebih dalam. Pertama, keberlanjutan program sangat bergantung pada komitmen anggaran daerah. Tanpa alokasi dana yang jelas untuk pendampingan pasca‑pelatihan, para narapidana akan kembali ke kondisi marginal setelah program selesai.

Kedua, ekosistem pasar bagi produk daur ulang masih terfragmentasi. Dinas Perdagangan dan Perindustrian memang hadir, tetapi belum ada mekanisme resmi untuk menghubungkan produk warga binaan dengan jaringan distribusi yang lebih luas. Tanpa jaminan pasar, motivasi produksi dapat menurun drastis, mengembalikan program ke status “pelatihan semata”.

Ketiga, aspek gender perlu mendapat perhatian khusus. Lapas perempuan memiliki dinamika sosial yang berbeda dengan lembaga pemasyarakatan pria. Program harus memperhitungkan beban ganda yang dihadapi perempuan—seperti tanggung jawab keluarga yang masih melekat meski berada di dalam penjara—dan menyesuaikan kurikulum serta dukungan psikologis yang relevan.

Terakhir, transparansi dan akuntabilitas harus dijadikan standar. Publikasi hasil, evaluasi independen, serta pelaporan penggunaan dana akan meningkatkan kepercayaan publik dan membuka peluang kolaborasi dengan sektor swasta. Jika semua elemen ini dapat diintegrasikan, model ecopreneurship di Lapas Perempuan Bandung berpotensi menjadi blueprint nasional untuk pemberdayaan narapidana melalui ekonomi sirkular.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa saja produk yang dihasilkan oleh narapidana dalam program ini?
    A: Mahasiswa menghasilkan tas, dompet, dan aksesoris rumah tangga dari limbah plastik rumah tangga yang telah diproses.
  • Q: Bagaimana cara produk tersebut dipasarkan?
    A: Saat ini, produk masih dalam tahap pilot; pemerintah kota berencana menghubungkannya dengan jaringan UMKM dan platform e‑commerce lokal.
  • Q: Apakah program ini akan berlanjut di Lapas lain?
    A: Jika berhasil dan mendapatkan dukungan anggaran, model ini dapat direplikasi di lembaga pemasyarakatan lain di Jawa Barat.
Meow! Tanya Nesi!
😸