Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Desa Lidi Terperangkap: Lima Hari Tanpa Bantuan Usai Gempa 7,7 SR di NTT

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Desa Lidi Terperangkap: Lima Hari Tanpa Bantuan Usai Gempa 7,7 SR di NTT
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Desa Lidi di Pulau Palu'e masih terisolir lima hari setelah gempa 7,7 SR mengguncang Nusa Tenggara Timur.
  • Jalan darat tertutup longsor batu besar, sementara laut berombak tinggi menghalangi upaya penyelamatan.
  • Warga kehabisan air bersih, terpaksa memanjat kelapa; satu korban jatuh dan dirawat di puskesmas setempat.

Desa Lidi di Pulau Palu'e, Kabupaten Sikka, masih berada dalam zona bahaya lima hari setelah gempa bumi magnitude 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/8). Menurut Wakapolres Sikka Kompol Marselus Yugo Amboro, akses darat ke desa terhalang material longsor berupa batu besar dan tanah, sementara jalur laut tak dapat ditembus karena gelombang tinggi yang mengancam keselamatan tim penyelamat.

Tim gabungan Basarnas, TNI, dan Polres Sikka masih terpaksa menunggu kondisi memungkinkan untuk menembus rintangan. Sementara itu, warga Lidi mengalami krisis air bersih; mereka terpaksa memanjat pohon kelapa untuk mengairi diri. Pada upaya tersebut, seorang pemuda bernama Servasius Sanda (25) terjatuh dan kini dirawat di puskesmas setempat.

Korban jiwa akibat gempa di Kabupaten Sikka kini mencapai lima orang. Penambahan terbaru adalah Frater Leonardus Noprianto Waku, yang kritis setelah melompat dari lantai tiga gedung seminari di Maumere dan meninggal di RSUD TC Hillers pada Selasa (18/8). Kapolres Sikka, AKBP Bambang Supeno, mengonfirmasi kematian tersebut.

Di pusat pengungsian Gelora Samador Maumere, penyintas menerima layanan trauma healing yang dipimpin oleh Kapolda NTT Irjen Pol. Rudi Darmoko. Upaya psikologis ini dianggap penting untuk membantu korban melupakan trauma yang masih membekas sejak Sabtu (15/8).

Analisis Pakar

Situasi di Desa Lidi mengungkap kegagalan struktural dalam penanggulangan bencana di wilayah kepulauan yang rawan gempa. Meskipun Indonesia memiliki kerangka kebijakan mitigasi bencana yang komprehensif, implementasinya masih terhambat oleh keterbatasan infrastruktur dan koordinasi lintas lembaga. Penutupan jalur darat oleh longsor bukan hanya masalah teknis; ini menandakan kurangnya sistem peringatan dini dan pemeliharaan jalan yang memadai di daerah terpencil.

Ketergantungan pada jalur laut yang kini tak dapat diakses karena gelombang tinggi menyoroti perlunya diversifikasi moda transportasi darurat. Pemerintah pusat dan daerah harus segera menginvestasikan kapal kargo berdaya tinggi serta pelatihan khusus bagi awaknya, sehingga tidak lagi mengandalkan kondisi cuaca yang tidak menentu. Tanpa itu, warga seperti di Desa Lidi akan terus terperangkap dalam limbo antara hidup dan mati.

Lebih jauh, krisis air bersih yang memaksa warga memanjat kelapa menandakan kegagalan sistem penyediaan kebutuhan dasar pasca-bencana. Pemerintah harus menyiapkan stok air minum yang cukup dan distribusi cepat melalui helikopter atau drone, terutama di wilayah yang akses daratnya terputus. Kegagalan ini bukan sekadar kelalaian operasional, melainkan pelanggaran hak asasi manusia atas kebutuhan hidup yang layak.

Terakhir, penanganan korban jiwa masih terkesan lambat. Penambahan korban meninggal menjadi lima orang dalam hitungan hari menunjukkan bahwa evakuasi medis belum optimal. Diperlukan unit medis bergerak yang dapat menembus medan sulit, serta koordinasi yang lebih solid antara Polres Sikka, Basarnas, dan TNI. Tanpa reformasi menyeluruh, skenario serupa dapat terulang di gempa berikutnya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa akses jalan ke Desa Lidi masih tertutup lima hari setelah gempa?
    A: Longsoran batu besar dan tanah menutup jalan utama, dan belum ada peralatan berat yang dapat membersihkannya karena kondisi cuaca laut yang berbahaya.
  • Q: Bagaimana cara warga mendapatkan air bersih selama terisolir?
    A: Warga terpaksa memanjat pohon kelapa untuk meneteskan air; pemerintah belum dapat menyalurkan bantuan air karena jalur darat dan laut masih terhalang.
  • Q: Apa yang dilakukan tim penyelamat untuk mengevakuasi korban?
    A: Tim gabungan Basarnas, TNI, dan Polres Sikka menunggu kondisi laut mereda dan peralatan pembersihan jalan tersedia sebelum dapat menembus desa.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸