Asap Karhutla Menjerat Banjarbaru: Lalu Lintas Macet, Udara Berbahaya, dan Penerbangan Terganggu

Ringkasan Singkat
- Asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menurunkan jarak pandang, memicu kemacetan panjang di Jalan Banjarbaru.
- PM2.5 mencapai 389,4 µg/m³, masuk kategori "Berbahaya"; BMKG mengimbau warga pakai masker dan hindari aktivitas luar ruangan.
- 12 penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan, dibatalkan karena jarak pandang terganggu.
Asap pekat yang berasal dari karhutla melanda wilayah Liang Anggang, Banjarbaru pada Rabu (19/8) pagi. Video amatir yang beredar di media sosial memperlihatkan kendaraan melaju pelan, ambulans berseru, serta truk dan bus berjuang menembus kabut asap yang menutupi jalan. Kondisi ini memaksa pengendara menurunkan kecepatan, menimbulkan kemacetan yang berlangsung berjam‑jam.
Tak hanya menghambat mobilitas darat, asap juga mengganggu operasi penerbangan. Menurut Detik.com, sebanyak 12 jadwal penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarmasin, harus dibatalkan atau ditunda karena jarak pandang tidak memenuhi standar keselamatan.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan mengklaim telah melakukan pembasahan hutan lindung di Jalan Makmur, Banjarbaru, dengan menempatkan 53 personel PUPR di posko Karhutla. Namun, upaya tersebut tampak belum cukup mengatasi skala kebakaran yang meluas.
BMKG mengeluarkan peringatan kualitas udara berbahaya pada pagi hari yang sama, mencatat konsentrasi partikel halus PM2.5 mencapai 389,4 µg/m³—lebih dari 150% ambang batas kategori "Berbahaya". Faktor kering yang memperparah penyebaran partikel menjadi ancaman kesehatan serius, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.
Analisis Pakar
Situasi ini mengungkap kegagalan struktural dalam penanggulangan kebakaran hutan di Indonesia. Meskipun Menko Polkam Djamari Chaniago menegaskan enam provinsi termasuk Kalimantan Selatan berada dalam zona kritis, koordinasi lintas‑sektor masih lemah. Penempatan personel PUPR di posko Karhutla tampak lebih bersifat simbolik daripada solusi berbasis data yang mengintegrasikan satelit, prediksi cuaca, dan pemantauan lahan secara real‑time.
Lebih jauh, kebijakan pembasahan hutan yang bersifat reaktif tidak menyentuh akar penyebab: alih fungsi lahan, penebangan liar, dan lemahnya penegakan hukum. Tanpa regulasi yang ketat dan insentif bagi petani serta perusahaan untuk menjaga kelembapan tanah, upaya pemadaman akan selalu berada dalam mode darurat.
Dampak kesehatan yang diungkapkan BMKG seharusnya memicu respons cepat dari dinas kesehatan daerah. Namun, sejauh ini belum ada laporan tentang penyediaan fasilitas medis darurat atau distribusi masker secara massal. Ini menandakan kurangnya sinergi antara lembaga lingkungan dan kesehatan, padahal keduanya saling terkait erat dalam krisis kualitas udara.
Terakhir, penutupan penerbangan menyoroti kerugian ekonomi yang belum terukur. Sektor pariwisata, logistik, dan perdagangan di Kalimantan Selatan akan merasakan efek domino, memperparah beban fiskal daerah yang sudah tertekan. Pemerintah pusat perlu mengalokasikan dana khusus untuk mitigasi kebakaran, termasuk subsidi bagi petani yang beralih ke praktik pertanian berkelanjutan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa penyebab utama asap tebal di Banjarbaru?
A: Asap berasal dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang dipicu oleh cuaca kering, aktivitas pembukaan lahan, dan kurangnya penegakan hukum. - Q: Bagaimana tingkat PM2.5 yang tinggi memengaruhi kesehatan masyarakat?
A: Konsentrasi PM2.5 di atas 250 µg/m³ dapat menyebabkan iritasi mata, gangguan pernapasan, memperburuk asma, dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. - Q: Apa langkah konkret yang diambil pemerintah untuk mengatasi Karhutla di Kalimantan Selatan?
A: Pemerintah provinsi menempatkan tim PUPR di posko Karhutla, melakukan pembasahan hutan, serta mengeluarkan peringatan kualitas udara melalui BMKG. Namun, upaya jangka panjang seperti penegakan hukum, rehabilitasi lahan, dan program pertanian berkelanjutan masih diperlukan.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Jatim Raih Satya JKN Awards 2026: Khofifah Perketat Kepatuhan Pekerja dalam Program JKN

Kemenperin Pacu Ekspor Kakao Olahan Lewat FTA, Capai 48% Produksi Asia

Wamentan Saleh: Hilirisasi Jadi Kunci Tingkatkan Kesejahteraan Petani Indonesia
